BAB II Strategi- strategi Pengajaran ( Memadukan Teknologi dan
Media )
Ø Seputar Media Pendidikan
Kata Media berasal dari bahasa Latin dan merupakan
bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah yang berarti perantara atau
pengantar. Medoe adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke
penerima pesan. Media adalah bentuk- bentuk komunikasi baik tercetak maupun
audiovisual serta peralatannya. Media hendaknya dapat dimanipulasi, dapat
dilihat, didengar, dan dibaca. Kalau dilihat dalam perkembangannya, pada
mulanya media hanya dianggap sebagai alat bantu mengajar bagi guru (teaching aids). Alat bantu yang yang
dipakai adalah alat bantu visual, misalnya gambar, model, objek dan alat- alat
lain yang dapat memberikan pengalaman kongkret, motivasi belajar serta
mempertinggi daya serap dan retensi belajar siswa. Namun saying, karena terlalu
memusatkan perhatian pada alat bantu visual yang dipakainya orang kurang
memperhatikan desain, pengembangan pembelajaran (instruction), produksi
dan evaluasinya. ( Sadiman, Arief S. 2012. Media Pendidikan. Depok :
Raja Grafindo Persada )
Ciri- ciri Media Pendidikan antara lain :
a.
Ciri Fiksatif (Fixative
Property)
Ciri ini menggambarkan kemampuan media merekam, menyimpan,
melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa atau objek. Suatu peristiwa
atau objek dapat diurut dan disusun kembali dengan media seperti fotografi, video
tape, audio tape, disket computer, dan film.
b.
Ciri
Manipulatif (Manipulative Property)
Transformasi suatu kejadian atau objek dimungkinkan karena media
memiliki ciri manipulative. Kejadian yang memakan waktu berhari- hari dapat
disajikan kepada siswa dalam waktu dua atau tiga menit dengan teknik
pengambilan gambar time- lapse recording. Kemampuan media dari cirri
manipulatif memerlukan perhatian sungguh- sungguh karena apabila terjadi
kesalahan dalam pengaturan kembali urutan kejadian atau pemotongan bagian-
bagian yang salah, maka akan terjadi pula kesalahan penafsiran yang tentu saja
akan membingungkan dan bahkan menyesatkan sehingga dapat mengubah sikap mereka
kea rah yang tidak diinginkan.
c.
Ciri
Distributif (Distributive Property)
Ciri distributif dari media
memungkinkan suatu objek atau kejadian ditransportasikan melalui orang, dan
secara bersamaan kejadian tersebut disajikan kepada sejumlah besar siswa dengan
stimulus pengalaman yang relative sama mengenai kejadian itu. Dewasa ini,
distribusi media tidak hanya terbatas pada satu kelas atau beberapa kelas pada
sekolah- sekolah didalam suatu wilayah tertentu, tetapi juga media itu misalnya
rekaman video, audio, disket computer dapat disebar ke seluruh penjuru tempat
yang diinginkan kapan saja. (Arsyad, Azhar. 2014. Media Pembelajaran. Yogyakarta
: Gava Media )
Ø Proses Belajar Mengajar Sebagai Proses Komunikasi
Proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah proses komunikasi,
yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran atau media
tertentu ke penerima pesan. Pesan, sumber pesan, saluran atau media dan
penerima pesan adalah komponen- komponen proses komunikasi. Pesan yang akan
dikomunikasikan adalah isi ajaran atau didikan yang ada dalam kurikulum. Sumber
pesannya bisa guru, siswa orang lain ataupun penulis buku dan produser media.
Salurannya adalah media pendidikan dan penerima pesannya adalah siswa atau juga
guru.
Ø Kegunaan Media Pendidikan dalam Proses Belajar Mengajar
Secara umum media pendidikan mempunyai kegunaan- kegunaan antara
lain :
1.
Memperjelas
penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis (dalam bentuk kata-
kata tertulis atau lisan belaka).
2.
Mengatasi
keterbatasan ruang, waktu dan daya indera.
3.
Penggunaan
media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap pasif anak
didik.
4.
Dengan sifat
yang unik pada tiap siswa ditambah lagi dengan lingkungan dan pengalaman yang
berbeda, sedangkan kurikulum dan materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap
siswa, maka guru banyak mengalami kesulitan bilamana semuanya itu harus diatasi
sendiri. ( Sadiman, Arief S. 2012. Media Pendidikan. Depok : Raja
Grafindo Persada )
Ø Pengenalan Media Presentasi Dalam Pembelajaran
Apakah Media Presentasi itu? Sebenarnya, hamper semua
jenis media pada dasarnya dibuat untuk disajikan atau dipresentasikan kepada
sasaran. Yang membedakan antara media presentasi dengan media pada umumnya
adalah bahwa pada media presentasi pesan/ materi yang akan disampaikan dikemas
dalam sebuah program komputer dan disajikan melalui perangkat alat saji
(proyektor). Pesan/ materi yang dikemas bisa berupa teks, gambar, animasi dan
video yang dikombinasi dalam satu kesatuan yang utuh.
Prinsip- Prinsip
Pengembangan Media Presentasi Untuk Pembelajaran :
1.
Harus
dikembangkan sesuai dengan prosedur pengembangan instruksional, karena akan
digunakan untuk keperluan pembelajaran.
2.
Harus diingat
bahwa media presentasi berfungsi sebagai alat bantu mengajar, bukan merupakan
media pembelajaran yang akan dipelajari secara mandiri oleh sasaran.
3.
Prinsip
kebenaran materi dan kemenarikan sajian. ( Daryanto. 2013. Media
Pembelajaran. Yogyakarta : Gava Media )
Kentungan dan Keterbatasan Presentasi
|
No.
|
Keuntungan
|
Keterbatasan
|
|
1.
|
Menyajikan
(hanya) sekali
|
Sulit bagi
beberapa siswa
|
|
2.
|
Strategi
Mencatat
|
Berpotensi
Membosankan
|
|
3.
|
Sumber
Informasi
|
Kesulitan
Mencatat
|
|
4.
|
Presentasi
Siswa
|
Kesesuaian
Umur
|
Ø Diskusi
Sebagai salah satu strategi, diskusi adalah pertukaran
gagasan dan opini diantara para siswa atau guru. Strategi ini bisa digunakan
dalam tahap pengajaran dan pembelajaran apapun, dan dalam kelompok kecil atau
besar. Pekerjaan pokok dalam mempersiapkan kelompok diskusi adalah memastikan
bahwa tiap anggota kelompok berpatisipasi. Salah satu cara yang bagus untuk
membuat membuat setiap anggota tim berpartisipasi adalah dengan membuat supaya
tiap orang menuliskan sebuah opini atau gagasan sebelum mulai diskusi. (Smaldino,
Sharon E dkk. 2014. Instructional Technology & Media For Learning.
Jakarta : Prenadamedia Group)
Keuntungan dan Keterbatasan Diskusi
|
No.
|
Keuntungan
|
Keterbatasan
|
|
1.
|
Menarik
|
Berpotensi
melibatkan partisipasi terbatas
|
|
2.
|
Menantang
|
Terkadang
tidak menantang
|
|
3.
|
Inklusif
|
Tingkat kesulitan
|
|
4.
|
Kesempatan
bagi gagasan baru
|
Kesesuaian
usia
|
Ø Belajar Kooperatif
Belajar Kooperatif merupakan strategi pengelompokan dimana para
siswa bekerja sama untuk saling mendapatkan keuntungan dari potensi belajar
anggota lainnya. Pembelajaran kooperatif bukanlah gagasan baru dalam dunia
pendidikan, tetapi sebelum masa belakangan ini, metode ini hanya digunakan oleh
beberapa guru untuk tujuan- tujuan tertentu, seperti tugas- tugas atau laporan-
laporan tertentu. Adapun belajar kooperatif ini membutuhkan hal- hal seperti
berikut :
1.
Para anggota
yang memandang peran mereka sebagai bagian dari keseluruhan tim.
2.
Keterlibatan
interaktif diantara anggota kelompok.
3.
Akuntabilitas
individual dan kelompok.
4.
Anggota yang
memiliki ketrampilan antarpersonal dan kepemimpinan.
5.
Kemampuan
memahami belajar personal dan fungsi kelompok.
( Slavin, Robert E. 2014. Cooperative Learning. Bandung :
Nusa Media )
Keuntungan dan Keterbatasan Belajar Kooperatif
|
No.
|
Keuntungan
|
Keterbatasan
|
|
1.
|
Manfaat
belajar
|
Keterbatasan ukuran
|
|
2.
|
Formal atau
informal
|
Berpotensi
berlebihan digunakan
|
|
3.
|
Kesempatan
belajar
|
Keterbatasan
anggota kelompok
|
Ø Situasi dan Konteks Belajar
a.
Pengajaran
Tatap Muka di Kelas
Kita semua paling akrab dengan situasi belajar yang satu ini.
Sebagian besar dari kita telah merasakan berada diruang kelas bersama guru
sementara kita terlibat dalam aktivitas belajar. Pengajaran tatap muka tetap
menjadi jenis situasi pengajaran paling sering ditemui dalam kelas. Pengajaran
tatap muka diistilahkan dengan situasi dalam waktu bersamaan.
Tujuan dari pengajaran
tatap muka (instruksi langsung) adalah untuk membantu siswa belajar materi
akademi dasar seperti membaca, matematika, dan seterusnya, dalam cara yang
paling efisien dan langsung. Karakteristik kunci cara pengajaran ini adalah
pemusatan dan dominasi dari guru, orientasi tugas, harapan positif, kerjasama
siswa, dan akuntabilitas, afek non- negative, dan struktur yang terbangun.
Berpusat pada guru berarti
bahwa guru mendesakkan arahan dan kontrol yang kuat mengenai hal yang harus
dipelajari serta caranya. Mereka tampak menguasai. Namun pengajaran langsung
ini tidak terlepas dari kekurangan didalamnya yaitu antara lain bahwa cara ini
membatasi otonomi siswa. Selain itu instruksi langsung ini tidak dapat
meningkatkan prestasi kreativitas, pemikiran abstrak, dan pemecahan masalah
atau kemampuan kognitif tingkat tinggi. Beberapa pihak merasa cara ini tidak setara dengan pilihan
alternative instruksi lainnya ketika tujuannya untuk meningkatkan kerjasama,
sikap terhadap sekolah, dan kehadiran di sekolah. ( Cruickshank, Donald R.
2014. Perilaku Mengajar. Jakarta : Salemba Humanika )
b.
Belajar Jarak
Jauh
Sesungguhnya belajar jarak jauh telah “hadir” dalam waktu yang
cukup lama, yang dimulai sekitar seratus tahun yang lalu dengan studi
korespondensi menggunakan surat, namun inovasi lebih terbaru dalam media dan
teknologi telah menjadikannya lebih nyaman dan lebih dinamis. Sistem belajar
jarak jauh diselenggarakan dengan maksud untuk memberikan kesempatan kepada
mereka yang karena alasan- alasan tertentu untuk dapat mengikuti pendidikan
formal biasa yang kondisional. Atau dapat juga dikatakan bahwa belajar jarak
jauh ini bertujuan untuk memperluas kesempatan memperoleh pendidikan diluar
kelas atau kampus. Dalam sistem ini bukanlah siswa yang harus mendatangi pusat-
pusat pendidikan melainkan pendidikan itu atau bahan- bahan pembelajarannya
yang dibawa ke tempat siswa berada.
Komponen- komponen yang
terdapat dalam pembelajaran jarak jauh ini antara lain : a) Komponen Siswa, b)
Bahan Pembelajaran, c) Pembimbing, Tutor, dan/ atau Fasilitator, d) Tempat
Belajar. Adapaun Evaluasi dari belajar jarak jauh ini yaitu bahwa siswa
belajar tanpa diawasi orang lain. Karena itu ia sendiri harus dapat menetukan
apakah ia telah menguasai materi pelajaran yang telah dipelajarinya atau belum. Bahkan kadang- kadang kemajuan siswa tidak dievaluasi secara formal. Masing-
masing siswa dapat mengevaluasi dirinya sendiri. ( Miarso, Yusufhadi dkk.
1986. Teknologi Komunikasi Pendidikan. Jakarta : Rajawali )
Ø Pengajaran Berdasarkan Pengalaman
Pengajaran berdasarkan pengalaman melengkapi siswa dengan suatu
alternative pengalaman belajar dengan menggunakan pendekatan kelas, pengarahan
guru misalnya metode ceramah. Strategi pengajaran ini menyediakan kesempatan
kepada siswa untuk melakukan kegiatan- kegiatan belajar secara aktif dengan
personalisasi.
Adapun tujuan pendidikan yang mendasari strategi ini adalah :
a.
Untuk menambah
rasa percaya diri dan kemampuan pelajar melalui partisipasi belajar aktif
(berlawanan dengan partisipasi pasif).
b.
Untuk
menciptakan interaksi sosial yang positif guna memperbaiki hubungan sosial
dalam kelas.
Pelaksanaan Teknik Pengajaran Berdasarkan Pengalaman
a.
Guru merumuskan
secara seksama suatu rencana pengalaman belajar yang bersifat terbuka (open
minded) mengenai hasil yang potensial/ memiliki seperangkat hasil- hasil
alternative tertentu.
b.
Guru memberikan
rangsangan dan motivasi pengenalan terhadap pengalaman.
c.
Siswa dapat
bekerja secara individual/ bekerja dalam kelompok- kelompok kecil/ keseluruhan
kelompok didalam belajar berdasarkan pengalaman.
d.
Para siswa
ditempatkan didalam situasi- situasi nyata pemecahan masalah, bukan dalam
situasi pengganti.
e.
Siswa aktif
berpartisipasi didalam pengalaman yang tersedia, membuat keputusan sendiri, dan
menerima konsekuensi berdasarkan keputusan tersebut.
Pertemuan Pembahasan
terdiri dari 4 bagian, yaitu review, analisis, distilasi, dan integrasi. Dengan
cara melaksanakan pertemuan, pembahasan tersebut mendefinisikan apa yang
terjadi, dan pembagian temuan merupakan karakteristik yang membedakannya dengan
strategi pembelajaran “belajar pengalaman” (experiental learning).
Belajar pengalaman terutama terpusat pada pemberian kepada siswa pengalaman-
pengalaman belajar yang bersifat terbuka dan siswa membimbing diri sendiri. (
Hamalik, Oemar. 2005. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar