Senin, 04 Mei 2015

UK Media Pembelajaran PAI

BAB II Strategi- strategi Pengajaran ( Memadukan Teknologi dan Media )
Ø  Seputar Media Pendidikan
Kata Media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah yang berarti perantara atau pengantar. Medoe adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Media adalah bentuk- bentuk komunikasi baik tercetak maupun audiovisual serta peralatannya. Media hendaknya dapat dimanipulasi, dapat dilihat, didengar, dan dibaca. Kalau dilihat dalam perkembangannya, pada mulanya media hanya dianggap sebagai alat bantu mengajar bagi guru  (teaching aids). Alat bantu yang yang dipakai adalah alat bantu visual, misalnya gambar, model, objek dan alat- alat lain yang dapat memberikan pengalaman kongkret, motivasi belajar serta mempertinggi daya serap dan retensi belajar siswa. Namun saying, karena terlalu memusatkan perhatian pada alat bantu visual yang dipakainya orang kurang memperhatikan desain, pengembangan pembelajaran (instruction), produksi dan evaluasinya. ( Sadiman, Arief S. 2012. Media Pendidikan. Depok : Raja Grafindo Persada )
Ciri- ciri Media Pendidikan antara lain :
a.      Ciri Fiksatif (Fixative Property)
Ciri ini menggambarkan kemampuan media merekam, menyimpan, melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa atau objek. Suatu peristiwa atau objek dapat diurut dan disusun kembali dengan media seperti fotografi, video tape, audio tape, disket computer, dan film.
b.      Ciri Manipulatif (Manipulative Property)
Transformasi suatu kejadian atau objek dimungkinkan karena media memiliki ciri manipulative. Kejadian yang memakan waktu berhari- hari dapat disajikan kepada siswa dalam waktu dua atau tiga menit dengan teknik pengambilan gambar time- lapse recording. Kemampuan media dari cirri manipulatif memerlukan perhatian sungguh- sungguh karena apabila terjadi kesalahan dalam pengaturan kembali urutan kejadian atau pemotongan bagian- bagian yang salah, maka akan terjadi pula kesalahan penafsiran yang tentu saja akan membingungkan dan bahkan menyesatkan sehingga dapat mengubah sikap mereka kea rah yang tidak diinginkan.
c.       Ciri Distributif (Distributive Property)
Ciri distributif  dari media memungkinkan suatu objek atau kejadian ditransportasikan melalui orang, dan secara bersamaan kejadian tersebut disajikan kepada sejumlah besar siswa dengan stimulus pengalaman yang relative sama mengenai kejadian itu. Dewasa ini, distribusi media tidak hanya terbatas pada satu kelas atau beberapa kelas pada sekolah- sekolah didalam suatu wilayah tertentu, tetapi juga media itu misalnya rekaman video, audio, disket computer dapat disebar ke seluruh penjuru tempat yang diinginkan kapan saja. (Arsyad, Azhar. 2014. Media Pembelajaran. Yogyakarta : Gava Media )
 Ø  Proses Belajar Mengajar Sebagai Proses Komunikasi
Proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran atau media tertentu ke penerima pesan. Pesan, sumber pesan, saluran atau media dan penerima pesan adalah komponen- komponen proses komunikasi. Pesan yang akan dikomunikasikan adalah isi ajaran atau didikan yang ada dalam kurikulum. Sumber pesannya bisa guru, siswa orang lain ataupun penulis buku dan produser media. Salurannya adalah media pendidikan dan penerima pesannya adalah siswa atau juga guru.

 Ø  Kegunaan Media Pendidikan dalam Proses Belajar Mengajar
Secara umum media pendidikan mempunyai kegunaan- kegunaan antara lain :
1.      Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis (dalam bentuk kata- kata tertulis atau lisan belaka).
2.      Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera.
3.      Penggunaan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap pasif anak didik.
4.      Dengan sifat yang unik pada tiap siswa ditambah lagi dengan lingkungan dan pengalaman yang berbeda, sedangkan kurikulum dan materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap siswa, maka guru banyak mengalami kesulitan bilamana semuanya itu harus diatasi sendiri. ( Sadiman, Arief S. 2012. Media Pendidikan. Depok : Raja Grafindo Persada )

 Ø  Pengenalan Media Presentasi Dalam Pembelajaran
Apakah Media Presentasi itu? Sebenarnya, hamper semua jenis media pada dasarnya dibuat untuk disajikan atau dipresentasikan kepada sasaran. Yang membedakan antara media presentasi dengan media pada umumnya adalah bahwa pada media presentasi pesan/ materi yang akan disampaikan dikemas dalam sebuah program komputer dan disajikan melalui perangkat alat saji (proyektor). Pesan/ materi yang dikemas bisa berupa teks, gambar, animasi dan video yang dikombinasi dalam satu kesatuan yang utuh.
Prinsip- Prinsip  Pengembangan Media Presentasi Untuk Pembelajaran :
1.      Harus dikembangkan sesuai dengan prosedur pengembangan instruksional, karena akan digunakan untuk keperluan pembelajaran.
2.      Harus diingat bahwa media presentasi berfungsi sebagai alat bantu mengajar, bukan merupakan media pembelajaran yang akan dipelajari secara mandiri oleh sasaran.
3.      Prinsip kebenaran materi dan kemenarikan sajian. ( Daryanto. 2013. Media Pembelajaran. Yogyakarta : Gava Media )
Kentungan dan Keterbatasan Presentasi
No.
Keuntungan
Keterbatasan
1.
Menyajikan (hanya) sekali
Sulit bagi beberapa siswa
2.
Strategi Mencatat
Berpotensi Membosankan
3.
Sumber Informasi
Kesulitan Mencatat
4.
Presentasi Siswa
Kesesuaian Umur

 Ø  Diskusi
Sebagai salah satu strategi, diskusi adalah pertukaran gagasan dan opini diantara para siswa atau guru. Strategi ini bisa digunakan dalam tahap pengajaran dan pembelajaran apapun, dan dalam kelompok kecil atau besar. Pekerjaan pokok dalam mempersiapkan kelompok diskusi adalah memastikan bahwa tiap anggota kelompok berpatisipasi. Salah satu cara yang bagus untuk membuat membuat setiap anggota tim berpartisipasi adalah dengan membuat supaya tiap orang menuliskan sebuah opini atau gagasan sebelum mulai diskusi. (Smaldino, Sharon E dkk. 2014. Instructional Technology & Media For Learning. Jakarta : Prenadamedia Group)
Keuntungan dan Keterbatasan Diskusi
No.
Keuntungan
Keterbatasan
1.
Menarik
Berpotensi melibatkan partisipasi terbatas
2.
Menantang
Terkadang tidak menantang
3.
Inklusif
Tingkat kesulitan
4.
Kesempatan bagi gagasan baru
Kesesuaian usia

 Ø  Belajar Kooperatif
Belajar Kooperatif merupakan strategi pengelompokan dimana para siswa bekerja sama untuk saling mendapatkan keuntungan dari potensi belajar anggota lainnya. Pembelajaran kooperatif bukanlah gagasan baru dalam dunia pendidikan, tetapi sebelum masa belakangan ini, metode ini hanya digunakan oleh beberapa guru untuk tujuan- tujuan tertentu, seperti tugas- tugas atau laporan- laporan tertentu. Adapun belajar kooperatif ini membutuhkan hal- hal seperti berikut :
1.      Para anggota yang memandang peran mereka sebagai bagian dari keseluruhan tim.
2.      Keterlibatan interaktif diantara anggota kelompok.
3.      Akuntabilitas individual dan kelompok.
4.      Anggota yang memiliki ketrampilan antarpersonal dan kepemimpinan.
5.      Kemampuan memahami belajar personal dan fungsi kelompok.
( Slavin, Robert E. 2014. Cooperative Learning. Bandung : Nusa Media )
Keuntungan dan Keterbatasan Belajar Kooperatif
No.
Keuntungan
Keterbatasan
1.
Manfaat belajar
Keterbatasan ukuran
2.
Formal atau informal
Berpotensi berlebihan digunakan
3.
Kesempatan belajar
Keterbatasan anggota kelompok

 Ø  Situasi dan Konteks Belajar
a.      Pengajaran Tatap Muka di Kelas
Kita semua paling akrab dengan situasi belajar yang satu ini. Sebagian besar dari kita telah merasakan berada diruang kelas bersama guru sementara kita terlibat dalam aktivitas belajar. Pengajaran tatap muka tetap menjadi jenis situasi pengajaran paling sering ditemui dalam kelas. Pengajaran tatap muka diistilahkan dengan situasi dalam waktu bersamaan.
Tujuan dari pengajaran tatap muka (instruksi langsung) adalah untuk membantu siswa belajar materi akademi dasar seperti membaca, matematika, dan seterusnya, dalam cara yang paling efisien dan langsung. Karakteristik kunci cara pengajaran ini adalah pemusatan dan dominasi dari guru, orientasi tugas, harapan positif, kerjasama siswa, dan akuntabilitas, afek non- negative, dan struktur yang terbangun.
Berpusat pada guru berarti bahwa guru mendesakkan arahan dan kontrol yang kuat mengenai hal yang harus dipelajari serta caranya. Mereka tampak menguasai. Namun pengajaran langsung ini tidak terlepas dari kekurangan didalamnya yaitu antara lain bahwa cara ini membatasi otonomi siswa. Selain itu instruksi langsung ini tidak dapat meningkatkan prestasi kreativitas, pemikiran abstrak, dan pemecahan masalah atau kemampuan kognitif tingkat tinggi. Beberapa pihak  merasa cara ini tidak setara dengan pilihan alternative instruksi lainnya ketika tujuannya untuk meningkatkan kerjasama, sikap terhadap sekolah, dan kehadiran di sekolah. ( Cruickshank, Donald R. 2014. Perilaku Mengajar. Jakarta : Salemba Humanika )

b.      Belajar Jarak Jauh
Sesungguhnya belajar jarak jauh telah “hadir” dalam waktu yang cukup lama, yang dimulai sekitar seratus tahun yang lalu dengan studi korespondensi menggunakan surat, namun inovasi lebih terbaru dalam media dan teknologi telah menjadikannya lebih nyaman dan lebih dinamis. Sistem belajar jarak jauh diselenggarakan dengan maksud untuk memberikan kesempatan kepada mereka yang karena alasan- alasan tertentu untuk dapat mengikuti pendidikan formal biasa yang kondisional. Atau dapat juga dikatakan bahwa belajar jarak jauh ini bertujuan untuk memperluas kesempatan memperoleh pendidikan diluar kelas atau kampus. Dalam sistem ini bukanlah siswa yang harus mendatangi pusat- pusat pendidikan melainkan pendidikan itu atau bahan- bahan pembelajarannya yang dibawa ke tempat siswa berada.
Komponen- komponen yang terdapat dalam pembelajaran jarak jauh ini antara lain : a) Komponen Siswa, b) Bahan Pembelajaran, c) Pembimbing, Tutor, dan/ atau Fasilitator, d) Tempat Belajar. Adapaun Evaluasi dari belajar jarak jauh ini yaitu bahwa siswa belajar tanpa diawasi orang lain. Karena itu ia sendiri harus dapat menetukan apakah ia telah menguasai materi pelajaran yang telah dipelajarinya atau belum.  Bahkan kadang- kadang kemajuan siswa tidak dievaluasi secara formal. Masing- masing siswa dapat mengevaluasi dirinya sendiri. ( Miarso, Yusufhadi dkk. 1986. Teknologi Komunikasi Pendidikan. Jakarta : Rajawali )
Ø  Pengajaran Berdasarkan Pengalaman
Pengajaran berdasarkan pengalaman melengkapi siswa dengan suatu alternative pengalaman belajar dengan menggunakan pendekatan kelas, pengarahan guru misalnya metode ceramah. Strategi pengajaran ini menyediakan kesempatan kepada siswa untuk melakukan kegiatan- kegiatan belajar secara aktif dengan personalisasi.
Adapun tujuan pendidikan yang mendasari strategi ini adalah :
a.       Untuk menambah rasa percaya diri dan kemampuan pelajar melalui partisipasi belajar aktif (berlawanan dengan partisipasi pasif).
b.      Untuk menciptakan interaksi sosial yang positif guna memperbaiki hubungan sosial dalam kelas.
Pelaksanaan Teknik Pengajaran Berdasarkan Pengalaman
a.       Guru merumuskan secara seksama suatu rencana pengalaman belajar yang bersifat terbuka (open minded) mengenai hasil yang potensial/ memiliki seperangkat hasil- hasil alternative tertentu.
b.      Guru memberikan rangsangan dan motivasi pengenalan terhadap pengalaman.
c.       Siswa dapat bekerja secara individual/ bekerja dalam kelompok- kelompok kecil/ keseluruhan kelompok didalam belajar berdasarkan pengalaman.
d.      Para siswa ditempatkan didalam situasi- situasi nyata pemecahan masalah, bukan dalam situasi pengganti.
e.       Siswa aktif berpartisipasi didalam pengalaman yang tersedia, membuat keputusan sendiri, dan menerima konsekuensi berdasarkan keputusan tersebut.
Pertemuan Pembahasan terdiri dari 4 bagian, yaitu review, analisis, distilasi, dan integrasi. Dengan cara melaksanakan pertemuan, pembahasan tersebut mendefinisikan apa yang terjadi, dan pembagian temuan merupakan karakteristik yang membedakannya dengan strategi pembelajaran “belajar pengalaman” (experiental learning). Belajar pengalaman terutama terpusat pada pemberian kepada siswa pengalaman- pengalaman belajar yang bersifat terbuka dan siswa membimbing diri sendiri. ( Hamalik, Oemar. 2005. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar