BAB
I PENDAHULUAN
ü Pentingnya Manajemen Kelas
Sugito (2003:70)
mengemukakan bahwa “ manajemen kelas yang efektif dan efisien itu akan
mewujudkan proses pembelajaran yang efektif pula yang ditandai oleh sifatnya
yang menekankan pada pemberdayaan siswa secara efektif”. Maksud pernyataan
tersebut bahwa pembelajaran bukan sekedar memorasi, bukan pula sekedar
penekanan dada penugasan pengetahuan tentang apa yang diajarkan, tetapi lebih
menekankan pada internalisasi tentang apa yang diajarkan sehingga tertanam dan
berfungsi sebagai muatan nurani dan hayati serta di praktekkan dalam kehidupan
siswa. Bahkan pembelajaran efektif juga lebih menekankan pada bagaimana agar
siswa mampu belajar cara belajar (learning to learn). Berdasarkan
pernyataan tersebut, jelaslah bahwa manajemen kelas sangat penting dalam
pencapaian tujuan pembelajaran secara optimal. Berhasilnya pencapaian tujuan
pembelajaran tersebut sangatlah ditentukan oleh manajemen kelas yang
dilaksanakan guru yang bersangkutan.
ü Pengertian
Manajemen Kelas
Manajemen kelas terdiri dari dua kata, yaitu manajemen dan kelas. Manajemen
merupakan rangkaian usaha untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
dengan memanfaatkan orang lain, sedangkan yang dimaksud dengan kelas adalah
suatu kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama sesuai dengan
tujuan yang telah ditetapkan, dalam kelas tersebut, guru berperan sebagai
manajer utama dalam merencanakan, mengorganisasikan, mengaktualisasikan, dan
melaksanakan pengawasan atau supervisi kelas.
Berdasarkan pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Manajemen
Kelas adalah usaha sadar untuk merencanakan, mengorganisasikan,
mengaktualisasikan, serta melaksanakan pengawasan atau supervise terhadap
program dan kegiatan yang ada di kelas sehingga proses belajar mengajar dapat
berlangsung secara sistematis, efektif, dan efisien, sehingga segala potensi
peserta didik mampu dioptimalkan.
Tujuan, Prinsip dan Pendekatan Manajemen Kelas
ü Tujuan Manajemen Kelas
Dalam proses manajemen kelas keberhasilannya dapat dilihat dari
tujuan apa yang ingin dicapainya, oleh karena itu guru harus menetapkan tujuan
apa yang ingin dicapainya dengan kegiatan manajemen kelas yang dilakukannya.
Manajemen kelas pada umumnya bertujuan untuk meningkatkan
efektivitas dan efisiensi dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Adapun kegiatan
pengelolaan fisik dan pengelolaan sosio- emosional merupakan bagian dalam
pencapaian tujuan pembelajaran dan belajar peserta didik.
ü Prinsip Manajemen Kelas
Prinsip- prinsip Manajemen Kelas yang dikembangkan oleh Djamarah
(2006) terdiri dari :
a.
Hangat dan
Antusias. Guru yang
hangat dan akrab pada peserta didik selalu menunjukkan antusias pada tugasnya
atau pada aktivitasnya akan berhasil dalam mengimplementasikan pengelolaan
kelas.
b.
Tantangan. Penggunaan kata- kata, tindakan, cara kerja, atau bahan- bahan
yang menantang akan meningkatkan gairah peserta didik untuk belajar sehingga
mengurangi potensi munculnya tingkah laku yang menyimpang.
c.
Bervariasi. Penggunaan alat atau media, gaya mengajar guru, pola interaksi
antara guru dan peserta didik akan mengurangi munculnya gangguan, meningkatkan
perhatian peserta didik.
d.
Keluwesan. Keluwesan tingkah laku guru untuk mengubah strategi mengajarnya
dapat mencegah kemungkinan munculnya gangguan peserta didik serta menciptakan
iklim belajar mengajar yang efektif.
e.
Penekanan Hal
yang Positif. Yaitu penekanan yang dilakukan guru terhadap
tingkah laku peserta didik yang positif daripada mengomeli tingkah laku yang
negatif.
f.
Penanaman
Kedisiplinan. Tujuan akhir
dari pengelolaan kelas adalah peserta didik dapat mengembangkan disiplin diri sendiri
dan guru sendiri hendaknya menjadi teladan mengendalikan diri dan pelaksanaan
tanggung jawab.
ü Pendekatan Manajemen Kelas
Terdapat berbagai pendekatan dalam manajemen kelas antara lain :
a.
Pendekatan
Kekuasaan. Suatu proses
untuk mengontrol tingkah laku peserta didik didalam kelas.
b.
Pendekatan
Ancaman. Pendekatan ini
diimplementasikan melalui papan larangan, sindiran saat belajar, dan paksaan
kepada peserta didik yang membantah, yang semuanya ditujukan agar peserta didik
mengikuti apa yang diinstruksikan oleh guru.
c.
Pendekatan
Kebebasan. Suatu proses
untuk membantu peserta didik agar merasa memiliki kebebasan untuk mengerjakan
sesuatu sesuai dengan apa yang ia pahami dan ia inginkan, tanpa dibatasi oleh
waktu dan tempat.
d.
Pendekatan
Resep (cook book). Dilaksanakan dengan memberi satu daftar yang
dapat menggambarkan apa yang harus dan apa yang tidak boleh dikerjakan oleh
guru dalam mereaksi semua masalah atau situasi yang terjadi di dalam kelas.
e.
Pendekatan Pengajaran. Didasarkan atas suatu anggapan bahwa pengajaran yang baik akan
mampu mencegah munculnya masalah yang disebabkan oleh peserta didik di dalam
kelas.
f.
Pendekatan
Perubahan Tingkah Laku. Suatu proses
untuk mengubah tingkah laku peserta didik di dalam kelas.
g.
Pendekatan
Sosio Emosional. Pendekatan ini
akan tercapai secara optimal apabila hubungan antar pribadi yang baik
berkembang di dalam kelas. Hubungan tersebut meliputi hubungan antara guru
dengan peserta didik, serta hubungan antar peserta didik.
h.
Pendekatan
Kerja Kelompok. Memandang
peran guru sebagai pencipta terbentuknya kelompok belajar yang ada di kelas.
i.
Pendekatan
Elektis atau Pluralistik. Pendekatan
elektis (electric approach) menekankan pada potensi, kreatifitas, dan
inisiatif dari wali atau guru kelas untuk memilih berbagai pendekatan yang
tepat dalam berbagai situasi yang dihadapi di kelas. Pendekatan elektis disebut
juga dengan pendekatan pluralistik, yaitu pengelolaan kelas
dengan memanfaatkan berbagai macam pendekatan dalam rangka menciptakan dan
mempertahankan kondisi belajar yang efektif dan efisien.
j.
Pendekatan
Teknologi dan Informasi. Berasumsi
bahwa pembelajaran tidak cukup hanya dengan kegiatan ceramah dan transfer
pengetahuan semata, bahwa pembelajaran yang modern perlu memanfaatkan
penggunaan teknologi dan informasi di dalam kelas.
BAB II Kelas yang
Kondusif bagi Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)
ü Pengertian Kelas dan KBM
a.
Kelas merupakan sistem yang diorganisasi untuk tujuan tertentu, yang
dilengkapi dengan tugas- tugas dan dipimpin serta diarahkan oleh guru. Kelas
dalam perspektif pendidikan dapat dipahami sebagai sekelompok peserta didik
yang berada pada waktu yang sama, menerima pelajaran yang sama, serta bersumber
dari guru yang sama.
b.
Kegiatan
Belajar Mengajar (KBM) adalah inti dari proses pendidikan secara universal
(keseluruhan), sedangkan guru merupakan komponen sebagai pemegang peranan
fasilitator dan mediator. Kegiatan Belajar
Mengajar (KBM) merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan
siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif
untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi atau hubungan timbal balik antara
guru dengan murid itu merupakan syarat utama bagi berlangsungnya KBM.
ü
Latar Belakang
Siswa dan Pengaruhnya Terhadap Kondisi Kelas
Perlunya mengenal latar belakang siswa yaitu mendasari dalam
tercapainya proses pembelajaran yang kondusif dikelas. Siswa merupakan komponen
terpenting dalam proses pembelajaran di kelas. Tanpa adanya siswa, sesungguhnya tidak akan terjadi proses
pengajaran. Banyaknya aspek dari pribadi siswa yang perlu dikenal yaitu antara
lain :
a.
Latar Belakang
Masyarakat. Latar belakang
kultural ini menyebabkan para siswa memiliki sikap yang berbeda- beda tentang
agama, politik, masyarakat lain, dan cara bertingkah lakunya.
b.
Tingkat
Inteligensi. Hasil tes
inteligensi juga menjadi sumber yang menggambarkan tentang abilitas belajar
siswa.
c.
Sifat- sifat
Kepribadian. Guru perlu mengenal
sifat- sifat kepribadian murid agar guru mudah mengadakan pendekatan pribadi
dengan mereka.
Adanya beberapa aspek yang
mendasari latar belakang siswa tersebut, maka juga dapat dipastikan adanya
pengaruh terhadap kondisi kelas. Yaitu semakin beragamnya latar belakang siswa,
maka akan semakin banyak pula variasi kemampuan siswa yang akan muncul didalam
proses pembelajaran di kelas. Dalam hal ini yang terpenting adalah kreativitas
serta peran guru dalam menghadapi situasi dan kondisi atas keberagaman latar
belakang dari para siswa tersebut, supaya tercipta pembelajaran yang efektif
dan kondusif.
ü Hubungan Harmonis Guru- Siswa dalam KBM
Dalam proses belajar mengajar hubungan yang harmonis antara guru
dan siswa sangat diperlukan. Keberhasilan pembelajaran tergantung pada kedua
belah pihak yaitu guru sebagai pendidik dan siswa sebagai anak didik. Interaksi
yang efektif antara guru dan siswa akan mempermudah siswa menerima dan
mempelajari pelajaran tersebut. Bagaimanapun sulitnya materi pelajaran, siswa
akan mempelajarinya dengan baik. Siswa akan merasa bahwa belajar bukan
merupakan suatu beban, apabila hubungan dengan guru berlangsung dengan baik.
ü Iklim Kelas Kondusif bagi KBM
Iklim kelas adalah kondisi
lingkungan kelas dalam hubungannya dengan kegiatan pembelajaran serta ditandai
oleh adanya pola interaksi atau komunikasi antara guru-siswa, siswa-guru dan
siswa-siswa.
Banyak faktor yang perlu diperhatikan dalam menciptakan iklim kelas
yang berkualitas dan kondusif guna meningkatkan prestasi belajar siswa. Adapun
beberapa faktor yang perlu diperhatikan tersebut antara lain, yaitu: pertama,
pendekatan pembelajaran hendaknya berorientasi pada bagaimana siswa belajar (student
centered); Kedua, adanya penghargaan guru terhadap
partisipasi aktif siswa dalam setiap konteks pembelajaran. Ketiga,
guru hendaknya bersikap demokratis dalam memeneg kegiatan pembelajaran. Keempat,
setiap permasalahan yang muncul dalam proses pembelajaran sebaiknya dibahas
secara dialogis. Kelima, lingkungan kelas sebaiknya
disetting sedemikian rupa sehingga memotivasi belajar siswa dan mendorong
terjadinya proses pembelajaran.
BAB III Strategi Guru
dalam Penciptaan Manajemen Kelas Efektif
Manajemen kelas secara efektif adalah upaya yang dilakukan guru
dalam mengelola aktivitas kelas secara efektif. Menurut Santrock (2008),
Guru efektif berbeda dengan guru yang tidak efektif bukan dalam cara merespon
perilaku menyimpang siswa, tetapi berbeda dalam cara mereka mengelola aktivitas
kelompok secara kompeten. Guru yang berperan sebagai manajer kelas yang efektif
senantiasa mengikuti apa yang terjadi, selalu memonitor siswa secara regular,
sehingga dapat mendeteksi perilaku yang salah jauh sebelum perilaku itu lepas
kendali. Guru yang efektif mampu mengatasi situasi yang over- lapping secara
efektif, menjaga kelancaran dan kontinuitas pelajaran, serta melibatkan siswa
dalam berbagai aktivitas yang menantang. Ahmad Rohani (2004: 122)
mengemukakan bahwa : Usaha guru dalam menciptakan kondisi yang diharapkan akan
efektif apabila : Pertama, diketahui secara tepat faktor- faktor
yang dapat menunjang tercpitanya kondisi yang menguntungkan dalam KBM. Kedua,
dikenal masalah- masalah yang diperkirakan dan biasanya timbul dan dapat
merusak iklim belajar mengajar. Ketiga, dikuasainya berbagai
pendekatan dalam pengelolaan kelas dan diketahui pula kapan dan untuk masalah
mana suatu pendekatan digunakan.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Priansa, Donni
Juni. 2014. Kinerja dan Profesionalisme Guru. Bandung : Alfabeta
2.
Hamalik, Oemar.
2005. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar