Senin, 04 Mei 2015

UK Manajemen Kelas

BAB I PENDAHULUAN
 ü  Pentingnya Manajemen Kelas
Sugito (2003:70) mengemukakan bahwa “ manajemen kelas yang efektif dan efisien itu akan mewujudkan proses pembelajaran yang efektif pula yang ditandai oleh sifatnya yang menekankan pada pemberdayaan siswa secara efektif”. Maksud pernyataan tersebut bahwa pembelajaran bukan sekedar memorasi, bukan pula sekedar penekanan dada penugasan pengetahuan tentang apa yang diajarkan, tetapi lebih menekankan pada internalisasi tentang apa yang diajarkan sehingga tertanam dan berfungsi sebagai muatan nurani dan hayati serta di praktekkan dalam kehidupan siswa. Bahkan pembelajaran efektif juga lebih menekankan pada bagaimana agar siswa mampu belajar cara belajar (learning to learn). Berdasarkan pernyataan tersebut, jelaslah bahwa manajemen kelas sangat penting dalam pencapaian tujuan pembelajaran secara optimal. Berhasilnya pencapaian tujuan pembelajaran tersebut sangatlah ditentukan oleh manajemen kelas yang dilaksanakan guru yang bersangkutan.
 ü  Pengertian Manajemen Kelas
Manajemen kelas terdiri dari dua kata, yaitu manajemen dan kelas. Manajemen merupakan rangkaian usaha untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan memanfaatkan orang lain, sedangkan yang dimaksud dengan kelas adalah suatu kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, dalam kelas tersebut, guru berperan sebagai manajer utama dalam merencanakan, mengorganisasikan, mengaktualisasikan, dan melaksanakan pengawasan atau supervisi kelas.
Berdasarkan pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Manajemen Kelas adalah usaha sadar untuk merencanakan, mengorganisasikan, mengaktualisasikan, serta melaksanakan pengawasan atau supervise terhadap program dan kegiatan yang ada di kelas sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung secara sistematis, efektif, dan efisien, sehingga segala potensi peserta didik mampu dioptimalkan.

Tujuan, Prinsip dan Pendekatan Manajemen Kelas
 ü  Tujuan Manajemen Kelas
Dalam proses manajemen kelas keberhasilannya dapat dilihat dari tujuan apa yang ingin dicapainya, oleh karena itu guru harus menetapkan tujuan apa yang ingin dicapainya dengan kegiatan manajemen kelas yang dilakukannya. Manajemen kelas pada umumnya bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Adapun kegiatan pengelolaan fisik dan pengelolaan sosio- emosional merupakan bagian dalam pencapaian tujuan pembelajaran dan belajar peserta didik.
 ü  Prinsip Manajemen Kelas
Prinsip- prinsip Manajemen Kelas yang dikembangkan oleh Djamarah (2006) terdiri dari :
a.       Hangat dan Antusias. Guru yang hangat dan akrab pada peserta didik selalu menunjukkan antusias pada tugasnya atau pada aktivitasnya akan berhasil dalam mengimplementasikan pengelolaan kelas.
b.      Tantangan. Penggunaan kata- kata, tindakan, cara kerja, atau bahan- bahan yang menantang akan meningkatkan gairah peserta didik untuk belajar sehingga mengurangi potensi munculnya tingkah laku yang menyimpang.
c.       Bervariasi. Penggunaan alat atau media, gaya mengajar guru, pola interaksi antara guru dan peserta didik akan mengurangi munculnya gangguan, meningkatkan perhatian peserta didik.
d.      Keluwesan. Keluwesan tingkah laku guru untuk mengubah strategi mengajarnya dapat mencegah kemungkinan munculnya gangguan peserta didik serta menciptakan iklim belajar mengajar yang efektif.
e.       Penekanan Hal yang Positif.  Yaitu penekanan yang dilakukan guru terhadap tingkah laku peserta didik yang positif daripada mengomeli tingkah laku yang negatif.
f.       Penanaman Kedisiplinan. Tujuan akhir dari pengelolaan kelas adalah peserta didik dapat mengembangkan disiplin diri sendiri dan guru sendiri hendaknya menjadi teladan mengendalikan diri dan pelaksanaan tanggung jawab.

 ü  Pendekatan Manajemen Kelas
Terdapat berbagai pendekatan dalam manajemen kelas antara lain :
a.      Pendekatan Kekuasaan. Suatu proses untuk mengontrol tingkah laku peserta didik didalam kelas.
b.      Pendekatan Ancaman. Pendekatan ini diimplementasikan melalui papan larangan, sindiran saat belajar, dan paksaan kepada peserta didik yang membantah, yang semuanya ditujukan agar peserta didik mengikuti apa yang diinstruksikan oleh guru.
c.       Pendekatan Kebebasan. Suatu proses untuk membantu peserta didik agar merasa memiliki kebebasan untuk mengerjakan sesuatu sesuai dengan apa yang ia pahami dan ia inginkan, tanpa dibatasi oleh waktu dan tempat.
d.      Pendekatan Resep (cook book).  Dilaksanakan dengan memberi satu daftar yang dapat menggambarkan apa yang harus dan apa yang tidak boleh dikerjakan oleh guru dalam mereaksi semua masalah atau situasi yang terjadi di dalam kelas.
e.       Pendekatan Pengajaran. Didasarkan atas suatu anggapan bahwa pengajaran yang baik akan mampu mencegah munculnya masalah yang disebabkan oleh peserta didik di dalam kelas.
f.        Pendekatan Perubahan Tingkah Laku. Suatu proses untuk mengubah tingkah laku peserta didik di dalam kelas.
g.      Pendekatan Sosio Emosional. Pendekatan ini akan tercapai secara optimal apabila hubungan antar pribadi yang baik berkembang di dalam kelas. Hubungan tersebut meliputi hubungan antara guru dengan peserta didik, serta hubungan antar peserta didik.
h.      Pendekatan Kerja Kelompok. Memandang peran guru sebagai pencipta terbentuknya kelompok belajar yang ada di kelas.
i.        Pendekatan Elektis atau Pluralistik. Pendekatan elektis (electric approach)  menekankan pada potensi, kreatifitas, dan inisiatif dari wali atau guru kelas untuk memilih berbagai pendekatan yang tepat dalam berbagai situasi yang dihadapi di kelas. Pendekatan elektis disebut juga dengan pendekatan pluralistik, yaitu pengelolaan kelas dengan memanfaatkan berbagai macam pendekatan dalam rangka menciptakan dan mempertahankan kondisi belajar yang efektif dan efisien.
j.        Pendekatan Teknologi dan Informasi. Berasumsi bahwa pembelajaran tidak cukup hanya dengan kegiatan ceramah dan transfer pengetahuan semata, bahwa pembelajaran yang modern perlu memanfaatkan penggunaan teknologi dan informasi di dalam kelas.
BAB II            Kelas yang Kondusif bagi Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)
 ü  Pengertian Kelas dan KBM
a.       Kelas merupakan sistem yang diorganisasi untuk tujuan tertentu, yang dilengkapi dengan tugas- tugas dan dipimpin serta diarahkan oleh guru. Kelas dalam perspektif pendidikan dapat dipahami sebagai sekelompok peserta didik yang berada pada waktu yang sama, menerima pelajaran yang sama, serta bersumber dari guru yang sama.
b.      Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) adalah inti dari proses pendidikan secara universal (keseluruhan), sedangkan guru merupakan komponen sebagai pemegang peranan fasilitator dan mediator. Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dengan murid itu merupakan syarat utama bagi berlangsungnya KBM.

 ü  Latar Belakang Siswa dan Pengaruhnya Terhadap Kondisi Kelas
Perlunya mengenal latar belakang siswa yaitu mendasari dalam tercapainya proses pembelajaran yang kondusif dikelas. Siswa merupakan komponen terpenting dalam proses pembelajaran di kelas. Tanpa adanya  siswa, sesungguhnya tidak akan terjadi proses pengajaran. Banyaknya aspek dari pribadi siswa yang perlu dikenal yaitu antara lain :
a.       Latar Belakang Masyarakat. Latar belakang kultural ini menyebabkan para siswa memiliki sikap yang berbeda- beda tentang agama, politik, masyarakat lain, dan cara bertingkah lakunya.
b.      Tingkat Inteligensi. Hasil tes inteligensi juga menjadi sumber yang menggambarkan tentang abilitas belajar siswa.
c.       Sifat- sifat Kepribadian. Guru perlu mengenal sifat- sifat kepribadian murid agar guru mudah mengadakan pendekatan pribadi dengan mereka.
 Adanya beberapa aspek yang mendasari latar belakang siswa tersebut, maka juga dapat dipastikan adanya pengaruh terhadap kondisi kelas. Yaitu semakin beragamnya latar belakang siswa, maka akan semakin banyak pula variasi kemampuan siswa yang akan muncul didalam proses pembelajaran di kelas. Dalam hal ini yang terpenting adalah kreativitas serta peran guru dalam menghadapi situasi dan kondisi atas keberagaman latar belakang dari para siswa tersebut, supaya tercipta pembelajaran yang efektif dan kondusif.
 ü  Hubungan Harmonis Guru- Siswa dalam KBM
Dalam proses belajar mengajar hubungan yang harmonis antara guru dan siswa sangat diperlukan. Keberhasilan pembelajaran tergantung pada kedua belah pihak yaitu guru sebagai pendidik dan siswa sebagai anak didik. Interaksi yang efektif antara guru dan siswa akan mempermudah siswa menerima dan mempelajari pelajaran tersebut. Bagaimanapun sulitnya materi pelajaran, siswa akan mempelajarinya dengan baik. Siswa akan merasa bahwa belajar bukan merupakan suatu beban, apabila hubungan dengan guru berlangsung dengan baik.
 ü  Iklim Kelas Kondusif bagi KBM
Iklim kelas adalah kondisi lingkungan kelas dalam hubungannya dengan kegiatan pembelajaran serta ditandai oleh adanya pola interaksi atau komunikasi antara guru-siswa, siswa-guru dan siswa-siswa.
Banyak faktor yang perlu diperhatikan dalam menciptakan iklim kelas yang berkualitas dan kondusif guna meningkatkan prestasi belajar siswa. Adapun beberapa faktor yang perlu diperhatikan tersebut antara lain, yaitu: pertama, pendekatan pembelajaran hendaknya berorientasi pada bagaimana siswa belajar (student centered); Kedua, adanya penghargaan guru terhadap partisipasi aktif siswa dalam setiap konteks pembelajaran. Ketiga, guru hendaknya bersikap demokratis dalam memeneg kegiatan pembelajaran. Keempat, setiap permasalahan yang muncul dalam proses pembelajaran sebaiknya dibahas secara dialogis. Kelima, lingkungan kelas sebaiknya disetting sedemikian rupa sehingga memotivasi belajar siswa dan mendorong terjadinya proses pembelajaran.

BAB III          Strategi Guru dalam Penciptaan Manajemen Kelas Efektif
Manajemen kelas secara efektif adalah upaya yang dilakukan guru dalam mengelola aktivitas kelas secara efektif. Menurut Santrock (2008), Guru efektif berbeda dengan guru yang tidak efektif bukan dalam cara merespon perilaku menyimpang siswa, tetapi berbeda dalam cara mereka mengelola aktivitas kelompok secara kompeten. Guru yang berperan sebagai manajer kelas yang efektif senantiasa mengikuti apa yang terjadi, selalu memonitor siswa secara regular, sehingga dapat mendeteksi perilaku yang salah jauh sebelum perilaku itu lepas kendali. Guru yang efektif mampu mengatasi situasi yang over- lapping secara efektif, menjaga kelancaran dan kontinuitas pelajaran, serta melibatkan siswa dalam berbagai aktivitas yang menantang. Ahmad Rohani (2004: 122) mengemukakan bahwa : Usaha guru dalam menciptakan kondisi yang diharapkan akan efektif apabila : Pertama, diketahui secara tepat faktor- faktor yang dapat menunjang tercpitanya kondisi yang menguntungkan dalam KBM. Kedua, dikenal masalah- masalah yang diperkirakan dan biasanya timbul dan dapat merusak iklim belajar mengajar. Ketiga, dikuasainya berbagai pendekatan dalam pengelolaan kelas dan diketahui pula kapan dan untuk masalah mana suatu pendekatan digunakan.

DAFTAR PUSTAKA

1.      Priansa, Donni Juni. 2014. Kinerja dan Profesionalisme Guru. Bandung : Alfabeta
2.      Hamalik, Oemar. 2005. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara



Tidak ada komentar:

Posting Komentar