Senin, 04 Mei 2015

Analisis Kurikulum 2013 Pada Proses Belajar di MAN Wonokromo Bantul Yogyakarta

MAKALAH KEBIJAKAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI INDONESIA
“ Hasil Observasi Tentang Analisis Kurikulum 2013 pada Proses Belajar Mengajar di MAN Wonokromo Bantul Yogyakarta Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam ”
Dosen Pembimbing : Dr. H. Abdul Madjid, M. Ag

Disusun Oleh :
1.       Uun Rahmawati                    20130720101
2.     Annisa Putri Nabila               20130720061
3.     Miftah Rizky Rahmatika      20130720074
4.    Khafidz Sholeh                       20130720082
5.     Ahmad Nasrul Fajri               20130720064

Kelas : PAI B

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2014
KATA PENGANTAR

Alhamdul’illatirobbil ‘alamin segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT  yang telah memberikan taufik dan hidayahnya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini, namun penulis menyadari makalah ini belum dapat dikatakan sempurna karena mungkin masih banyak kesalahan-kesalahan. Shalawat serta salam semoga selalu dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya, dan mudah-mudahan sampai kepada kita selaku umatnya.
Makalah ini penulis susun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Kebijakan Pendidikan Agama Islam di Indonesia, dalam makalah ini penulis membahas mengenai “Analisis Penerapan Kurikulm 2013 pada Proses Belajar Mengajar di MAN Wonokromo Bantul Yogyakarta Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam ”. Dengan makalah ini penulis mengharapkan agar dapat membantu sistem pembelajaran. Penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini.
1.    Kepada Bapak Dr. H. Abdul Madjid, M.Ag  selaku dosen mata kuliah Kebijakan Pendidikan Agama Islam di Indonesia yang telah membimbing penulis dalam menyelesaikan makalah ini.
2.    Kepada kedua orang tua kami yang telah memberikan motivasi baik secara riil maupun materiil sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
3.    Tidak lupa kepada teman- teman yang selalu mendukung dan membantu penulis dalam penyelesaian makalah ini.
Akhir kata, penulis mengucapkan terimakasih atas perhatiannya. Mengingat makalah ini jauh dari kata sempurna, maka penulis mengharap akan adanya kritik dan saran dari para pembaca supaya penulis bisa memperbaiki karya- karya referensi makalah selanjutnya.


Yogyakarta,   November  2014



Penyusun
DAFTAR ISI

Kata Pengantar  ...........................................................................................................................
Daftar Isi ......................................................................................................................................
A.    BAB I PENDAHULUAN
ü  Latar Belakang ..............................................................................................
ü  Rumusan Masalah .........................................................................................
ü  Tujuan Penulisan ...........................................................................................
ü  Metode Penulisan ..........................................................................................

B.     BAB II PEMBAHASAN

1.      PENGERTIAN KURIKULUM .......................................................................
2.      RASIONAL PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013
ü  Tantangan Internal ...................................................................................
ü  Tantangan Eksternal ................................................................................
ü  Penyempurnaan Pola Pikir ......................................................................
ü  Penguatan Tata Kelola Kurikulum ..........................................................
ü  Penguatan Materi .....................................................................................
3.      KARAKTERISTIK KURIKULUM 2013 .......................................................
4.      TUJUAN KURIKULUM 2013 .........................................................................
5.      KERANGKA DASAR KURIKULUM
ü  Landasan Filosofis ...................................................................................
ü  Landasan Teoritis ....................................................................................
ü  Landasan Yuridis .....................................................................................
6.      STRUKTUR KURIKULUM
ü  Kompetensi Inti .......................................................................................
7.      PROFIL MAN WONOKROMO BANTUL YOGYAKARTA .....................
8.      FOKUS BAHASAN ...........................................................................................
9.      PRODUK KEBIJAKAN PENDIDIKAN ........................................................
10.  FORMULASI KEBIJAKAN ............................................................................
11.  IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MAPEL PAI DAN BAHASA ARAB DI MAN WONOKROMO BANTUL YOGYAKARTA ...................
12.  ANALISIS
ü  Kurangnya Sosialisasi dan Pelatihan Bagi Guru .....................................
ü  Lambatnya Penyaluran Buku Pegangan baik Bagi Guru Maupun Siswa
ü  Kesulitan Peserta Didik Dalam Mengikuti Pembelajaran Scientific di Kurikulum 2013 ini .................................................................................
13.  UPAYA GURU DALAM MENGATASI HAMBATAN PELAKSANAAN KURIKULUM 2013 ..........................................................................................
14.  KETERLIBATAN KONTROL PUBLIK .......................................................
15.  DAMPAK KEBIJAKAN KURIKULUM 2013
ü  Dampak Positif ........................................................................................
ü  Dampak Negatif ......................................................................................

C.    BAB III PENUTUP
ü Kesimpulan ..............................................................................................
ü Saran ........................................................................................................

Dokumentasi ................................................................................................................................


BAB I
PENDAHULUAN


A.    LATAR BELAKANG

·         Aspek Realitas
Munculnya kurikulum 2013 menimbulkan respon bermacam-macam baik dari kalangan pakar maupun praktisi pendidikan juga masyarakat lainnya. Namun adanya variasi opini mereka menunjukkan bahwa mereka memiliki kepedulian terhadap peningkatan pembangunan sistem pendidikan. 
Bagi yang pro, akan melihat kurikulum ini sebagai motivasi dan penerapannya lebih efektif dan efisien. Sebagai motivasi, guru akan lebih professional dalam melaksanakan tugasnya. Karena, peserta didik lebih banyak berperan, kreatif dan inovatif dalam menggali ilmu pengetahuan baik aspek kognitif, afektif maupun psikomotor. Sementara guru lebih banyak membimbing dan mengarahkan  juga sebagai mediator dan fasilitator dalam proses pembelajaran yang juga ditunjang dengan proses penilaian yang autentik.
Sementara bagi yang kontra, akan melihat kurikulum 2013 akan menjadi beban, terutama bagi guru yang  tidak punya semangat mengajar. Karena tuntutan sebagai guru professional lebih dikedepankan. Sementara bagi guru yang tidak disiplin dan tidak professional apalagi yang tidak mau maju, tuntutan dalam kurikulum 2013 bagi mereka terasa berat. Jadi, Implementasi kurikulum 2013 bisa menjadi motivasi bisa juga menjadi “beban” terutama bagi guru sebagai praktisi pendidikan yang terkait langsung dengan peserta didik.
·         Aspek Idealitas
Kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia.Kurikulum 2013 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di Madrasah dikembangkan dengan landasan filosofis yang memberikan dasar bagi pengembangan seluruh potensi peserta didik menjadi manusia Indonesia berkualitas yang tercantum dalam tujuan pendidikan Nasional.
Dengan filosofi ini, kurikulum 2013 bermaksud untuk mengembangkan potensi peserta didik menjadi kemampuan dalam berfikir reflektif bagi penyelesaian masalah sosial di masyarakat, dan untuk membangun kehidupan masyarakat demokratis yang lebih baik.
·         Relevansi Problematika
Berdasarkan pada Aspek Realitas dan Idealitas diatas maka dapat disimpulkan bahwa Kurikulum 2013 belum seutuhnya berjalan baik di masyarakat. Terbukti dengan adanya pro dan kontra terhadap kurikulum 2013 tersebut.Kurikulum 2013 mengembangkan kehidupan individu peserta didik dalam beragama, seni, kreativitas, berkomunikasi, nilai dan berbagai dimensi inteligensi yang sesuai dengan diri seorang peserta didik dan diperlukan masyarakat, bangsa dan umat manusia. Oleh karena itu perlunya  kerjasama antar semua pihak baik yang terkait dengan lembaga pendidikan maupun masyarakat itu sendiri.
B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana implementasi kebijakan Departemen Agama Kota Yogyakarta tentang kurikulum di MAN Wonokromo Bantul Yogyakarta?
2.      Faktor- faktor apa sajakah yang menjadi penghambat dalam pelaksanaan kurikulum 2013 di MAN Wonokromo Bantul Yogyakarta?
3.      Bagaimana upaya guru PAI dalam mengatasi hambatan pelaksanaan kurikulum 2013 ini?

C.    TUJUAN PENULISAN
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hambatan dalam mengimplementasi kurikulum 2013 pada Mata Pelajaran PAI dan Bahasa Arab di MAN Wonokromo Bantul Yogyakarta, serta bagaimana upaya guru dalam mengatasi hambatan tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kurikulum 2013 belum dapat diterapkan sesuai dengan harapan pemerintah. Terutama para guru masih kesulitan dalam menerapkan kurikulum 2013 ini. Terdapat beberapa hambatan dalam pelaksanaan kurikulum 2013 yaitu, kurangnya sosialisasi dan pelatihan, kurangnya pendampingan, serta kurangnya penguasaan komputer.

D.    METODE PENULISAN

v  Jenis Penelitian
    Jenis Penelitian yang kami gunakan yaitu penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Pada penelitian ini peneliti memaparkan pelaksanaan kurikulum 2013 di MAN Wonokromo Bantul Yogyakarta.

v  Teknik Pengumpulan Data
    1.  Wawancara
                Jenis wawancara dalam penelitian ini adalah wawancara terstruktur yaitu peneliti telah menyiapkan masalah dan pertanyaan- pertanyaan yang akan diajukan kepada narasumber. Metode ini digunakan untuk mengetahui implementasi kurikulum 2013 pada mata pelajaran PAI khususnya pelajaran Bahasa Arab di MAN Wonokromo Bantul Yogyakarta. Dimana Responden dalam penelitian ini yaitu Guru Mata Pelajaran Bahasa Arab, Guru BK, dan peserta didik.
Adapun kisi- kisi wawancara dalam penelitian ini yaitu :
a) Bagi guru Mata Pelajaran Bahasa Arab
    - Sosialisasi dan pelatihan guru
    - Pendekatan pembelajaran
    - Penilaian
b) Bagi peserta didik
    - Kesiapan peserta didik dalam menerima kurikulum baru ini
    - Kesulitan dengan pembelajaran scientific

    2. Observasi
    Untuk memperoleh data yang akurat, peneliti melakukan observasi untuk melihat  implementasi kurikulum 2013 dalam proses pembelajaran PAI khususnya Mata Pelajaran Bahasa Arab di MAN Wonokromo Bantul Yogyakarta.

v   Teknik Analisis Data
    Pengumpulan Data melalui wawancara. Peneliti melakukan wawancara dengan beberapa informan untuk memperoleh data berkaitan dengan kesiapan guru, hambatan yang dihadapi dalam mengimplementasikan kurikulum 2013, serta jalan keluar yang diambil untuk mengatasi kesulitan tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN


1.      Pengertian Kurikulum
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Berdasarkan pengertian tersebut, ada dua dimensi kurikulum, yang pertama adalah rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, sedangkan yang kedua adalah cara yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran.
Kurikulum 2013 yang diberlakukan mulai tahun ajaran 2013/2014 memenuhi kedua dimensi tersebut.

2.      Rasional Pengembangan Kurikulum 2013
Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan faktor-faktor sebagai berikut:
a.      Tantangan Internal
            Tantangan internal antara lain terkait dengan kondisi pendidikan dikaitkan dengan tuntutan pendidikan yang mengacu kepada 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan yang meliputi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan.
Tantangan internal lainnya terkait dengan perkembangan penduduk Indonesia dilihat dari pertumbuhan penduduk usia produktif. Saat ini jumlah penduduk Indonesia usia produktif (15-64 tahun) lebih banyak dari usia tidak produktif (anak-anak berusia 0-14 tahun dan orang tua berusia 65 tahun ke atas). Jumlah penduduk usia produktif ini akan mencapai puncaknya pada tahun 2020-2035 pada saat angkanya mencapai 70%. Oleh sebab itu tantangan besar yang dihadapi adalah bagaimana mengupayakan agar sumberdaya manusia usia produktif yang melimpah ini dapat ditransformasikan menjadi sumberdaya manusia yang memiliki kompetensi dan keterampilan melalui pendidikan agar tidak menjadi beban.


b. Tantangan Eksternal
Tantangan eksternal antara lain terkait dengan arus globalisasi dan berbagai isu yang terkait dengan masalah lingkungan hidup, kemajuan teknologi dan informasi, kebangkitan industri kreatif dan budaya, dan perkembangan pendidikan di tingkat internasional. Arus globalisasi akan menggeser pola hidup masyarakat dari agraris dan perniagaan tradisional menjadi masyarakat industri dan perdagangan modern seperti dapat terlihat di World Trade Organization (WTO), Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) Community, Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC), dan ASEAN Free Trade Area (AFTA). Tantangan eksternal juga terkait dengan pergeseran kekuatan ekonomi dunia, pengaruh dan imbas teknosains serta mutu, investasi, dan transformasi bidang pendidikan. Keikutsertaan Indonesia di dalam studi International Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) dan Program for International Student Assessment (PISA) sejak tahun 1999 juga menunjukkan bahwa capaian anak-anak Indonesia tidak menggembirakan dalam beberapa kali laporan yang dikeluarkan TIMSS dan PISA. Hal ini disebabkan antara lain banyaknya materi uji yang ditanyakan di TIMSS dan PISA tidak terdapat dalam kurikulum Indonesia.

c. Penyempurnaan Pola Pikir
Kurikulum 2013 dikembangkan dengan penyempurnaan pola pikir sebagai berikut:
1) pola pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi pembelajaran berpusat pada peserta didik. Peserta didik harus memiliki pilihan-pilihan terhadap materi yang dipelajari untuk memiliki kompetensi yang sama;
2) pola pembelajaran satu arah (interaksi guru-peserta didik) menjadi pembelajaran interaktif (interaktif guru-peserta didik-masyarakat-lingkungan alam, sumber/media lainnya);
3) pola pembelajaran terisolasi menjadi pembelajaran secara jejaring (peserta didik dapat menimba ilmu dari siapa saja dan dari mana saja yang dapat dihubungi serta diperoleh melalui internet);
4) pola pembelajaran pasif menjadi pembelajaran aktif-mencari (pembelajaran siswa aktif mencari semakin diperkuat dengan model pembelajaran pendekatan sains);
5) pola belajar sendiri menjadi belajar kelompok (berbasis tim);
6) pola pembelajaran alat tunggal menjadi pembelajaran berbasis alat multimedia;
7) pola pembelajaran berbasis massal menjadi kebutuhan pelanggan (users) dengan memperkuat pengembangan potensi khusus yang dimiliki setiap peserta didik;
8) pola pembelajaran ilmu pengetahuan tunggal (monodiscipline) menjadi pembelajaran ilmu pengetahuan jamak (multidisciplines); dan
9) pola pembelajaran pasif menjadi pembelajaran kritis.

d.      Penguatan Tata Kelola Kurikulum
Pelaksanaan kurikulum selama ini telah menempatkan kurikulum sebagai daftar matapelajaran. Pendekatan Kurikulum 2013 untuk Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah diubah sesuai dengan kurikulum satuan pendidikan. Oleh karena itu dalam Kurikulum 2013 dilakukan penguatan tata kelola sebagai berikut:
1) tata kerja guru yang bersifat individual diubah menjadi tata kerja yang bersifat kolaboratif;
2) penguatan manajeman sekolah melalui penguatan kemampuan manajemen kepala sekolah sebagai pimpinan kependidikan (educational leader); dan
3) penguatan sarana dan prasarana untuk kepentingan manajemen dan proses pembelajaran.

e. Penguatan Materi
Penguatan materi dilakukan dengan cara pendalaman dan perluasan materi yang relevan bagi peserta didik.

3.       Karakteristik Kurikulum 2013
Kurikulum 2013 dirancang dengan karakteristik sebagai berikut:
1. mengembangkan keseimbangan antara pengembangan sikap spiritual dan sosial, rasa ingin tahu, kreativitas, kerja sama dengan kemampuan intelektual dan psikomotorik;
2. sekolah merupakan bagian dari masyarakat yang memberikan pengalaman belajar terencana dimana peserta didik menerapkan apa yang dipelajari di sekolah ke masyarakat dan memanfaatkan masyarakat sebagai sumber belajar;
3. mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan serta menerapkannya dalam berbagai situasi di sekolah dan masyarakat;
4. memberi waktu yang cukup leluasa untuk mengembangkan berbagai sikap, pengetahuan, dan keterampilan;
5. kompetensi dinyatakan dalam bentuk kompetensi inti kelas yang dirinci lebih lanjut dalam kompetensi dasar matapelajaran;
6. kompetensi inti kelas menjadi unsur pengorganisasi (organizing elements) kompetensi dasar, dimana semua kompetensi dasar dan proses pembelajaran dikembangkan untuk mencapai kompetensi yang dinyatakan dalam kompetensi inti;
7. kompetensi dasar dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif, saling memperkuat (reinforced) dan memperkaya (enriched) antarmatapelajaran dan jenjang pendidikan (organisasi horizontal dan vertikal).

4.      Tujuan Kurikulum 2013
Kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia.

5. Kerangka Dasar Kurikulum
A. Landasan Filosofis
Landasan filosofis dalam pengembangan kurikulum menentukan kualitas peserta didik yang akan dicapai kurikulum, sumber dan isi dari kurikulum, proses pembelajaran, posisi peserta didik, penilaian hasil belajar, hubungan peserta didik dengan masyarakat dan lingkungan alam di sekitarnya.
Kurikulum 2013 dikembangkan dengan landasan filosofis yang memberikan dasar bagi pengembangan seluruh potensi peserta didik menjadi manusia Indonesia berkualitas yang tercantum dalam tujuan pendidikan nasional.
Pada dasarnya tidak ada satupun filosofi pendidikan yang dapat digunakan secara spesifik untuk pengembangan kurikulum yang dapat menghasilkan manusia yang berkualitas. Berdasarkan hal tersebut, Kurikulum 2013 dikembangkan menggunakan filosofi sebagai berikut:
1. Pendidikan berakar pada budaya bangsa untuk membangun kehidupan bangsa masa kini dan masa mendatang. Pandangan ini menjadikan Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan budaya bangsa Indonesia yang beragam, diarahkan untuk membangun kehidupan masa kini, dan untuk membangun dasar bagi kehidupan bangsa yang lebih baik di masa depan. Mempersiapkan peserta didik untuk kehidupan masa depan selalu menjadi kepedulian kurikulum, hal ini mengandung makna bahwa kurikulum adalah rancangan pendidikan untuk mempersiapkan kehidupan generasi muda bangsa. Dengan demikian, tugas mempersiapkan generasi muda bangsa menjadi tugas utama suatu kurikulum. Untuk mempersiapkan kehidupan masa kini dan masa depan peserta didik, Kurikulum 2013 mengembangkan pengalaman belajar yang memberikan kesempatan luas bagi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang diperlukan bagi kehidupan di masa kini dan masa depan, dan pada waktu bersamaan tetap mengembangkan kemampuan mereka sebagai pewaris budaya bangsa dan orang yang peduli terhadap permasalahan masyarakat dan bangsa masa kini.
2. Peserta didik adalah pewaris budaya bangsa yang kreatif. Menurut pandangan filosofi ini, prestasi bangsa di berbagai bidang kehidupan di masa lampau adalah sesuatu yang harus termuat dalam isi kurikulum untuk dipelajari peserta didik. Proses pendidikan adalah suatu proses yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi dirinya menjadi kemampuan berpikir rasional dan kecemerlangan akademik dengan memberikan makna terhadap apa yang dilihat, didengar, dibaca, dipelajari dari warisan budaya berdasarkan makna yang ditentukan oleh lensa budayanya dan sesuai dengan tingkat kematangan psikologis serta kematangan fisik peserta didik. Selain mengembangkan kemampuan berpikir rasional dan cemerlang dalam akademik, Kurikulum 2013 memposisikan keunggulan budaya tersebut dipelajari untuk menimbulkan rasa bangga, diaplikasikan dan dimanifestasikan dalam kehidupan pribadi, dalam interaksi sosial di masyarakat sekitarnya, dan dalam kehidupan berbangsa masa kini.
3. Pendidikan ditujukan untuk mengembangkan kecerdasan intelektual dan kecemerlangan akademik melalui pendidikan disiplin ilmu. Filosofi ini menentukan bahwa isi kurikulum adalah disiplin ilmu dan pembelajaran adalah pembelajaran disiplin ilmu (essentialism). Filosofi ini mewajibkan kurikulum memiliki nama matapelajaran yang sama dengan nama disiplin ilmu, selalu bertujuan untuk mengembangkan kemampuan intelektual dan kecemerlangan akademik.
4. Pendidikan untuk membangun kehidupan masa kini dan masa depan yang lebih baik dari masa lalu dengan berbagai kemampuan intelektual, kemampuan berkomunikasi, sikap sosial, kepedulian, dan berpartisipasi untuk membangun kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih baik (experimentalism and social reconstructivism). Dengan filosofi ini, Kurikulum 2013 bermaksud untuk mengembangkan potensi peserta didik menjadi kemampuan dalam berpikir reflektif bagi penyelesaian masalah sosial di masyarakat, dan untuk membangun kehidupan masyarakat demokratis yang lebih baik.
Dengan demikian, Kurikulum 2013 menggunakan filosofi sebagaimana di atas dalam mengembangkan kehidupan individu peserta didik dalam beragama, seni, kreativitas, berkomunikasi, nilai dan berbagai dimensi inteligensi yang sesuai dengan diri seorang peserta didik dan diperlukan masyarakat, bangsa dan ummat manusia.

B. Landasan Teoritis
Kurikulum 2013 dikembangkan atas teori “pendidikan berdasarkan standar” (standard-based education), dan teori kurikulum berbasis kompetensi (competency-based curriculum). Pendidikan berdasarkan standar menetapkan adanya standar nasional sebagai kualitas minimal warganegara yang dirinci menjadi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Kurikulum berbasis kompetensi dirancang untuk memberikan pengalaman belajar seluas-luasnya bagi peserta didik dalam mengembangkan kemampuan untuk bersikap, berpengetahuan, berketerampilan, dan bertindak.
Kurikulum 2013 menganut: (1) pembelajaan yang dilakukan guru (taught curriculum) dalam bentuk proses yang dikembangkan berupa kegiatan pembelajaran di sekolah, kelas, dan masyarakat; dan (2) pengalaman belajar langsung peserta didik (learned-curriculum) sesuai dengan latar belakang, karakteristik, dan kemampuan awal peserta didik. Pengalaman belajar langsung individual peserta didik menjadi hasil belajar bagi dirinya, sedangkan hasil belajar seluruh peserta didik menjadi hasil kurikulum.

C. Landasan Yuridis
Landasan yuridis Kurikulum 2013 adalah:
1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional;
3. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional, beserta segala ketentuan yang dituangkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional; dan
4. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
6. Struktur Kurikulum
A. Kompetensi Inti
Kompetensi inti dirancang seiring dengan meningkatnya usia peserta didik pada kelas tertentu. Melalui kompetensi inti, integrasi vertikal berbagai kompetensi dasar pada kelas yang berbeda dapat dijaga.
Rumusan kompetensi inti menggunakan notasi sebagai berikut:
1. Kompetensi Inti-1 (KI-1) untuk kompetensi inti sikap spiritual;
2. Kompetensi Inti-2 (KI-2) untuk kompetensi inti sikap sosial;
3. Kompetensi Inti-3 (KI-3) untuk kompetensi inti pengetahuan; dan
4. Kompetensi Inti-4 (KI-4) untuk kompetensi inti keterampilan.

7.      Profil MAN Wonokromo Bantul Yogyakarta
            MAN Wonokromo Bantul merupakan SMA berbasiskan ajaran agama Islam yang beralamatkan di Jalan Imogiri Timur km 10, Wonokromo, Pleret, Bantul Yogyakarta. Yang terletak didaerah ruang lingkup puluhan pondok pesantren yang sangat strategis. Didirikan pada tahun 1962. Dengan jumlah 19 kelas, yang meliputi jurusan IPA, IPS, Bahasa dan Agama. Yang di kepalai oleh Drs. Rahmat Mizan, M.A

8. Fokus Bahasan
1)  Aspek Produk Kebijakan : pada aspek ini fokus bahasan akan diarahkan kepada beberapa bentuk kebijakan Kurikulum 2013 di Lembaga Pendidikan Islam. Adapun substansi fokus bahasannya sebagai berikut :
Ø   Produk Peraturan Daerah, terkait dengan pengembangan dan pemberdayaan lembaga pendidikan, khususnya Madrasah Aliyah Negeri Wonokromo Bantul Yogyakarta
Ø  Aneka Formulasi Kebijakan, terkait dengan pengembangan dan pemberdayaan Madrasah Aliyah dalam hal pengembangan kompetensi peserta didik, kemampuan aplikasi kurikulum 2013 pada individu peserta didik, tenaga pendidik dan aspek lainnya.
2)  Aspek Implementasi dan Dampak Kebijakan : pada aspek ini fokus bahasan akan diarahkan terhadap implementasi dan dampak kebijakan yang telah dilaksanakan Pemerintahan Kota Yogyakarta bidang pemberdayaan pendidikan, khususnya lembaga pendidikan agama. Adapun substansi fokus bahasan mencakup :
Ø  Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum, Standar Isi, Standar Proses, dan Standar Penilaian Pendidikan Agama Islam.
Ø  Dampak dari interaksi pengaruh kebijakan Pemerintahan Kota Yogyakarta bidang Pendidikan Agama Islam terhadap Madrasah  Aliyah, dalam hal Peningkatan Kompetensi, Pengembangan Kurikulum, dan Kualitas Tenaga Pengajar.

9. Produk Kebijakan Pendidikan
1.  UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
2. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 69 Tahun 2013 Tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Atas / MA
3. Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia No. 000912 Tahun 2013 tentang Kurikulum Madrasah 2013 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

10. Formulasi Kebijakan
1. UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sisdiknas
BAB X Tentang Kurikulum
            a. Pasal 36 ayat (2) : Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip divertifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik.
            b. Pasal 37 ayat (1) : Kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat : pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, seni dan budaya, pendidikan jasmani dan olahraga, ketrampilan/ kejuruan, dan muatan lokal.
            c. Pasal 38 ayat (1) : Kerangka Dasar  dan Struktur Kurikulum pendidikan dasar dan menengah ditetapkan oleh Pemerintah.

2. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 69 Tahun 2013 Tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Atas / MA
KERANGKA DASAR KURIKULUM
A. Landasan Filosofis
            Landasan filosofis dalam pengembangan kurikulum menentukan kualitas peserta didik yang akan dicapai kurikulum, sumber dan isi dari kurikulum, proses pembelajaran, posisi peserta didik, penilaian hasil belajar, hubungan peserta didik dengan masyarakat dan lingkungan alam di sekitarnya.
            Kurikulum 2013 dikembangkan dengan landasan filosofis yang memberikan dasar bagi pengembangan seluruh potensi peserta didik menjadi manusia Indonesia berkualitas yang tercantum dalam tujuan pendidikan nasional.
B. Landasan Teoritis
            Kurikulum 2013 dikembangkan atas teori “pendidikan berdasarkan standar” (standard-based education), dan teori kurikulum berbasis kompetensi (competency-based curriculum). Pendidikan berdasarkan standar menetapkan adanya standar nasional sebagai kualitas minimal warganegara yang dirinci menjadi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan.
C. Landasan Yuridis
            Landasan yuridis Kurikulum 2013 adalah:
1.         Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2.         Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional;
3.         Undang-undang Nomor 17 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional, beserta segala ketentuan yang dituangkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional; dan
4.         Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

STRUKTUR KURIKULUM
A. Kompetensi Inti
            Kompetensi inti dirancang seiring dengan meningkatnya usia peserta didik pada kelas tertentu. Melalui kompetensi inti, integrasi vertikal berbagai kompetensi dasar pada kelas yang berbeda dapat dijaga.
Rumusan kompetensi inti menggunakan notasi sebagai berikut:
1. Kompetensi Inti-1 (KI-1) untuk kompetensi inti sikap spiritual;
2. Kompetensi Inti-2 (KI-2) untuk kompetensi inti sikap sosial;
3. Kompetensi Inti-3 (KI-3) untuk kompetensi inti pengetahuan; dan
4. Kompetensi Inti-4 (KI-4) untuk kompetensi inti keterampilan.

3. Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia No. 000912 Tahun 2013 tentang Kurikulum Madrasah 2013 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam
v  Ruang Lingkup Kelompok Mapel PAI dan Bahasa Arab di MA
Mapel Bahasa Arab
            “Mata Pelajaran Bahasa Arab merupakan suatu mata pelajaran yang diarahkan untuk mendorong, membimbing, mengembangkan, dan membina kemampuan serta menumbuhkan sikap positif terhadap Bahasa Arab, baik reseptif maupun produktif”.
Adapun tujuan Mapel Bahasa Arab di MA yaitu :
1)      Mengembangkan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Arab baik lisan maupun tulis yang mencakup empat kecakapan berbahasa, yaitu menyimak (istima’), berbicara (kalam), membaca (qira’ah), dan menulis (kitabah).
2)      Menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya bahasa Arab sebagai salah satu bahasa asing yang untuk menjadi alat utama dalam belajar, khususnya dalam mengkaji sumber- sumber ajaran Islam.
3)      Mengembangkan pemahaman tentang saling keterkaitan antara bahasa dan budaya serta memperluas cakrawala budaya.

11. Implementasi Kurikulum 2013 Mapel PAI dan Bahasa Arab di MAN Wonokromo Bantul Yogyakarta
Tempat Observasi
Implementasi
Analisis
Rekomendasi
Tempat Observasi kami di MAN Wonokromo Bantul Yogyakarta
Di MAN yang kami observasi ini, sudah menerapkan kurikulum 2013 pada kelas X di semua jurusan mulai tahun ajaran 2014/ 2015
Pelaksanaan kurikulum 2013 ini dirasa kurang memuaskan dalam hal persiapan maupun pelaksaannya bagi tenaga pendidik itu sendiri maupun bagi peserta didik.
Perlunya sosialisasi yang cukup jelas dan mendalam terutama bagi tenaga pendidik di sekolah ini, serta perlunya peningkatan kemampuan dalam penggunaan teknologi baik bagi tenaga pendidik maupun peserta didik itu sendiri.

Tempat Observasi kami di MAN Wonokromo Bantul Yogyakarta
Lambatnya penyaluran buku pegangan kurikulum 2013 ini baik bagi guru maupun bagi peserta didik
Sehingga akibat keterlambatan distribusi buku pegangan ini, membuat guru melakukan inisiatif sendiri mencari sumber dari internet ataupun sumber lainnya untuk nantinya diajarkan kepada peserta didik.
Sebaiknya masalah ini harus cepat ditangani oleh Departemen Agama sebagai naungan dari MA baik dari sisi internal maupun eksternalnya, mengingat jika SMA sudah tidak mengalami masalah keterlambatan buku panduan kurikulum 2013 ini.


Tempat Observasi kami di MAN Wonokromo Bantul Yogyakarta
Kesiapan peserta didik dalam menerima kurikulum baru serta Kesulitan dengan pembelajaran scientific
Peserta didik merasa enjoy (menikmati) dengan diberlakukannya kurikulum ini. Adapun kesulitan dalam pembelajaran scientific ini mungkin dirasa para siswa dalam hal mereka harus dituntut aktif,  inovatif dan mandiri dalam pembelajaran. Seperti pembuatan makalah dan ppt
Sebaiknya dalam hal ini, gurulah yang harus mampu kreatif dan inovatif dalam hal strategi penyampaian materi yang disampaikan kepada siswa. Jika para guru saja masih merasa kebingungan, bagaimana dengan peserta didiknya itu sendiri. Jadi dapat dikatakan bahwa kurikulum 2013 ini masih samar- samar dalam hal pelaksaannya.


12. ANALISIS
ž  Kurangnya Sosialisasi dan Pelatihan bagi Guru
            Di sekolah yang kami observasi yaitu di MAN Wonokromo Bantul Yogyakarta , bahwa salah satu guru mapel Bahasa Arab menyatakan bahwa “ Kurikulum 2013 ini sebetulnya bagus untuk diterapkan, namun dalam hal persiapannya dirasa terlalu cepat ”. Selain itu dalam hal persiapan ini, memang para guru yang akan mendapat jatah mengajar menggunakan kurikulum 2013 ini sudah mengikuti sosialisasi dan pelatihan. Namun dalam sosialisasi tersebut, terdapat kendala yaitu dirasa penjelasannya terlalu cepat dan singkat bahkan pematerinya menurut saya juga masih samar- samar dalam memahami apa sih sebenarnya kurikulum 2013 itu sendiri.
            Selain itu, dengan diberlakukannya kurikulum 2013 ini memang menuntut guru untuk belajar dan belajar lagi. Terutama dalam hal penguasaan teknologi. Di MAN Wonokromo Bantul Yogyakarta ini hampir semua guru sudah menggunakan sarana laptop dan LCD dalam penyampaian pembelajaran dikelas. Selain penguasaan teknologi ini, guru harus belajar lagi tentang materi Kurikulum 2013 itu sendiri, baik dari panduan Silabus ataupun RPP yang harus mereka cari sendiri melalui internet ataupun sumber lainnya.
ž  Lambatnya Penyaluran Buku Pegangan baik bagi Guru maupun bagi Siswa
          Di MAN Wonokromo Bantul ini, memang distribusi buku pegangan untuk kurikulum 2013 mengalami hambatan. Tidak seperti di SMA yang tidak mengalami hambatan distribusi buku pegangan walaupun mereka sudah menerapkan kurikulum 2013. Hal ini mungkin disebabkan karena antara MAN dan SMA dinaungi oleh bidang masing- masing. SMA dinanungi oleh Dinas Pendidikan langsung dari pusat, sedangkan MAN dinaungi oleh Departemen Agama.
            Sebaiknya masalah ini harus cepat ditangani. Karena jika tidak ada buku pegangan, guru maupun para siswa juga akan kesulitan dalam proses pembelajaran di kelas.
ž  Kesulitan Peserta didik dalam mengikuti Pembelajaran Scientific  di Kurikulum 2013 ini
          Pembelajaran Scientific menuntut siswa untuk aktif, inovatif dan mandiri dalam pembelajaran. Hal ini tentunya merubah sistem pembelajaran dari kurikulum sebelumnya, serta merubah pola pikir peserta didik dalam mengatasi persoalan yang dihadapi. Hal semacam ini memang baik untuk diterapkan. Namun tak lupa, bahwa setiap perubahan yang terjadi pasti diikuti dengan dampak didalamnya, baik itu dampak positif maupun dampak negatif. Salah satu dampak negatifnya yaitu para siswa mulai kecanduan dalam bermain sosial media ketika mereka mengerjakan tugas atau mencari referensi lainnya. Selain itu, terkadang para siswa suka hanya men-copy dari internet kemudian dipaste menjadi tugas mereka sendiri. Hal ini tentunya tidak baik untuk dilanjutkan bagi para siswa, apalagi jika mereka nantinya sudah masuk dijenjang perkuliahan. Memang kurikulum 2013 ini mengajarkan siswa untuk berfikir yang lebih rasional ke depan, tetapi untuk menciptakan semua itu perlu usaha yang maksimal serta pengawasan yang mendalam.



13. Upaya Guru dalam Mengatasi Hambatan Pelaksanaan Kurikulum 2013
          Upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan tersebut adalah melalui :
  1. Melakukan diskusi dengan para guru lainnya,
  2. Berkonsultasi dengan pengawas,
  3. Menyamakan persepsi guru tentang kurikulum 2013 melalui Kelompok Kerja Guru (KKG), Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLKG),
  4. Serta meningkatkan penguasaan komputer,

14. Keterlibatan Kontrol Publik
Ø  Kurikulum ini menjadi kekuatan bagi masyarakat kedepannya dikarenakan para siswa dipersiapkan untuk berkembang dengan cara lebih banyak menggunakan laptop dalam sistem pembelajaran dan sudah dianjurkan membuat makalah serta mempersentasikan makalah tersebut dengan menggunakan aplikasi power point seperti yang telah dilakukan mahasiswa di bangku kuliah, karena mereka akan dipersiapkan terjun dimasyarakat.
Ø  Kepercayaan masyarakat terhadap instansi pendidikan inilah menjadikan kontrol publik agar instansi tersebut benar-benar mendidik siswanya yang dapat dipersiapkan untuk masyarakat.
Ø  Namun kebijakan ini terlihat samar dimata publik
                                                                                                                        
15. Dampak Kebijakan Kurikulum 2013
v  Dampak Positif :
1. Kompetensi lulusan yang meningkat.
2. Pengembangan diri terintegrasi pada setiap mata pelajaran dan ekstrakurikuler.
v   Dampak Negatif :
1. Kurikulum dibuat tidak melalui riset dan evaluasi yang mendalam
2. Memberatkan siswa, karena jam pelajaran ditambah padahal siswa mempunyai batas maksimal waktu konsentrasi dalam belajar
3. Ketidaksiapan guru karena terkesan penerapan kurikulum ini  mendadak.
4. Dalam kurikulum 2013, guru tidak lagi diwajibkan untuk membuat silabus atau bahan ajar.
5. Terforsirnya waktu siswa di sekolah untuk belajar dan mengikuti ekstrakurikuler yang diwajibkan dalam ketentuan kurikulum 2013.
BAB III
PENUTUP

      A.    Kesimpulan
Kurikulum 2013 merupakan penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya, setiap kurikulum pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing- masing. Oleh karena itu kita harus tetap mendukung upaya pemerintah untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia demi menciptakan peserta didik yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia dan sesuai dengan pancasila demi memenuhi perkembangan zaman.
Adapun kelebihan kurikulum 2013 ini :
 ü  Pendidikan karakter yang penting harus diintegrasikan ke semua program studi.
 ü  Kreatif dan Inovatif.
 ü  Siswa dan Guru menjadi aktif dan mandiri.
Kekurangan kurikulum 2013 :
 ü  Tidak ada keseimbangan antara proses pembelajaran dengan hasil pembelajaran.
 ü  Kurangnya sosialisasi mendalam tentang kurikulum 2013 ini.
 ü  Cenderung dadakan, sehingga antara siswa dan guru sama- sama saling belajar tentang kurikulum 2013 ini.

     B.     Saran
Suatu kurikulum haruslah mengandung isi dan arah perbaikan yang lebih baik. Kurikulum juga harus sesuai dengan perkembangan zaman dan tidak memberatkan siswa apalagi sampai membebankan siswa. Begitu pun dengan harapan kami pada kurikulum 2013 ini agar dapat membuat kemajuan dibidang pendidikan dan dapat mencetak pribadi yang cinta damai, sopan, serta berakhlak mulia.
Dalam hal penyusunan makalah ini tentu tidak terlepas dari kesalahan. Ibarat kata pepatah, tidak ada gading yang tak retak. Oleh karena itu,  penyusun meminta saran dan kritik yang membangun dari para pembaca untuk mencapai kesempurnaan makalah selanjutnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar