MAKALAH TAFSIR QUR’AN HADITS DAN AYAT
PENDIDIKAN
“ Tafsir Surat Al- Fatihah ”
Makalah
ini disusun untuk memenuhi tugas
Mata
Kuliah Tafsir Qur’an Hadits dan Ayat Pendidikan
Dosen : Drs. H. Marsudi Iman, M, Ag

Disusun
Oleh :
UUN
RAHMAWATI
20130720101
PAI
B 2013
PENDIDIKAN
AGAMA ISLAM
FAKULTAS
AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2014
Kata
Pengantar
Alhamdulillahirobbil ‘alamin segala puji dan syukur
penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan taufik dan
hidayahnya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini,
namun penulis menyadari makalah ini belum dapat dikatakan sempurna karena
mungkin masih banyak kesalahan-kesalahan. Shalawat serta salam semoga selalu
dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, kepada
para sahabatnya, dan mudah-mudahan sampai kepada kita selaku umatnya.
Makalah ini penulis susun untuk memenuhi tugas Mata
Kuliah Tafsir Qur’an Hadits dan Ayat Pendidikan, dalam makalah ini penulis
membahas mengenai “ Tafsir Surat Al- Fatihah”. Dengan makalah ini
penulis mengharapkan agar dapat membantu sistem pembelajaran. Penulis ucapkan
terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan
makalah ini.
1. Kepada
Bapak Drs. H. Marsudi Iman, M, Ag selaku dosen mata kuliah Tafsir Qur’an Hadits
dan Ayat Pendidikan yang telah membimbing penulis dalam menyelesaikan makalah
ini.
2. Kepada
kedua orang tua yang telah memberikan motivasi baik secara riil maupun materiil
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
3. Tidak
lupa kepada teman- teman yang selalu mendukung dan membantu penulis dalam
penyelesaian makalah ini.
Akhir
kata, penulis mengucapkan terimakasih atas perhatiannya. Mengingat makalah ini
jauh dari kata sempurna, maka penulis mengharap akan adanya kritik dan saran
dari para pembaca supaya penulis bisa memperbaiki karya- karya referensi
makalah selanjutnya.
Yogyakarta, Oktober 2014
Penyusun
Daftar Isi
Kata Pengantar ...........................................................................................................................
Daftar
Isi
......................................................................................................................................
A.
BAB I PENDAHULUAN
ü Latar
Belakang ..............................................................................................
ü Rumusan
Masalah .........................................................................................
ü Tujuan
Penulisan ...........................................................................................
ü Metode
Penulisan ..........................................................................................
B.
BAB II PEMBAHASAN
1.
TAFSIR
SURAT AL- FATIHAH SECARA UMUM
ü Muqaddimah
(Pembukaan)......................................................................
ü Surat
Al- Fatihah dan Terjemahnya.........................................................
ü Esensi
Surat Al- Fatihah...........................................................................
ü Ikhtisar
Surat Al- Fatihah.........................................................................
ü Asal
Makna Surat Al- Fatihah..................................................................
ü Asbabun
Nuzul Surat Al- Fatihah............................................................
ü Nama-
nama lain Surat Al- Fatihah..........................................................
2.
TAFSIR
SURAT AL- FATIHAH PER AYAT
ü Bismillahirrahmanirrahim........................................................................
ü Alhamdulillahi
rabbil ‘alamiin.................................................................
ü Arrahmaanir
rohim...................................................................................
ü Maalikiyaumiddin....................................................................................
ü Iyyakana’
budu wa iyyakanastaqiin.........................................................
ü Ihdinassyiratalmustaqim...........................................................................
ü Syiraatalladzina
an’amta’alaihim ghairil maghdzubi’alaihim.................
3.
KEUTAMAAN
SURAT AL- FATIHAH
ü Surat
yang Amat Masyur
ü Surat
yang Paling Agung
ü Surat
Terbaik Dalam Al- Qur’an
ü Al-
Qur’an Al- Azhim
ü Surat
Ruqyah
ü Cahaya
Untuk Umat Islam
ü Penentu
Salat
4.
POKOK-
POKOK AJARAN YANG TERKANDUNG DALAM SURAT AL- FATIHAH
ü Keimanan
(Aqa’id)...................................................................................
ü Ibadat........................................................................................................
ü Hukum-
hukum dan Peraturan- peraturan................................................
ü Janji
dan Ancaman...................................................................................
ü Kisah-
kisah atau Cerita- cerita................................................................
5.
HIKMAH
MEMBACA SURAT AL- FATIHAH
C.
BAB III PENUTUP
ü Kesimpulan
..............................................................................................
ü Saran
........................................................................................................
ü Referensi
Blog
Internet............................................................................
ü Referensi
Buku.........................................................................................
BAB
I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Surat Al-Fatihah merupakan surat yang paling
mulia karena merupakan pintu gerbang pembuka dari al qur’an. Karena itu tak
salah jika Quraish Shihab menyebutnya sebagai “ Mahkota Tuntunan Ilahi”. Sebagai
mahkota sudah barang tentu seluruh hal-hal yang terkandung dalam surat-surat
alqur’an sudah termaktub dalam kandungan ayat-ayat Al-Fatihah.
Keagungan surat Al-Fatihah tercermin dari
beberapa hadist Nabi, diantaranya yang menyatakan bahwa tidak sah shalat bagi
orang yang tidak membaca Al-Fatihah. Kemuliaan surat ini juga menyebabkan nabi
menganugrahkan sebagai “ Ummul Kitab” atau “ Ummul Qur’an”, dan tidak jarang
disebut “ Sab’ul Matsani”.
Disebut sebagai Ummul Qur’an atau Ummul Kitab
karena surat Al-Fatihah terdapat pada awal alqur’an dan juga bisa jadi karena
kandungan ayat-ayat surat Al-Fatihah mencakup semua kandungan tema-tema pokok
semua ayat-ayat al- qur’an. Dinamakan Sab’ul Matsani karena surat ini dibaca
berulang-ulang dalam shalat atau diluar shalat.
Menyitir pendapat Muhammad Abduh, Quraish
Shihab memaparkan bahwa surat Al-Fatihah diletakkan didepan karena menyangkut
kandungannya yang bersifat global yang dirinci oleh ayat-ayat lain sehingga ia
bagaikan mukaddimah atau pengantar bagi kandungan surat-surat al-qur’an.
Sejalan dengan hal tersbut, dalam tulisan
Syaikh Abdul Mushin Al ‘Abbad yang diterbitkan oleh blog Muslim.Or.Id disebutkan bahwa Surat Al Fatihah
mencakup ketiga macam tauhid: tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid
asma’ wa shifat. Tauhid uluhiyah sudah ditunjukkan keberadaannya dengan
firman-Nya, “Alhamdulillah” (Segala puji bagi Allah). Hal itu
dikarenakan penyandaran pujian oleh para hamba terhadap Rabb mereka merupakan
sebuah bentuk ibadah dan sanjungan kepada-Nya, dan itu merupakan bagian dari
perbuatan mereka. Adapun tauhid rububiyah, ia juga sudah terkandung di dalam
firman-Nya ta’ala, “Rabbil ‘alamin.” (Rabb seru sekalian alam). Hal itu
disebabkan Allah subhanahu
wa ta’ala adalah rabb
bagi segala sesuatu, pencipta sekaligus penguasanya. Sedangkan tauhid asma’ wa
shifat, maka sesungguhnya ayat pertama itu pun telah menyebutkan dua buah nama
Allah. Kedua nama itu adalah lafzhul jalalah ‘Allah’ dan Rabb sebagaimana di dalam
firman-Nya “Rabbil
‘alamin”. Pada ayat ini kata ‘rabb’ disebutkan dalam bentuk mudhaf.
Lebih lanjut mengupas tentang surat Al-Fatihah
ini, penulis akan mencoba secara sederhana menggambarkan dan menganalisa surat
ini berdasarkan sumber dari beberapa tafsir dan referensi lainnya.
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Bagaimana Tafsir Surat Al- Fatihah secara umum itu?
Jelaskan!
2.
Bagaimana Tafsir Surat Al- Fatihah per ayat?
Uraikan!
3.
Apa sajakah keutamaan dari Surat Al- Fatihah itu?
4.
Apa saja pokok- pokok ajaran yang terkandung dalam
Surat Al- Fatihah itu?
5.
Bagaimana hikmah membaca Surat Al- Fatihah?
C.
TUJUAN PENULISAN
Untuk mengetahui
bagaimana penjelasan tentang tafsir Surat Al- Fatihah, baik itu tafsir secara
umum, tafsir per ayat, pokok- pokok ajaran yang terkandung didalamnya, dan juga
keutamaan dari Surat Al- Fatihah itu sendiri serta sebagai bahan pertimbangan
dosen atas tugas makalah dalam mata kuliah Tafsir Qur’an Hadits dan Ayat
Pendidikan.
D.
METODE PENULISAN
Metode yang digunakan
penulis dalam penyusunan makalah ini
yaitu dengan mencari sumber referensi buku seperti kitab tafsir, catatan pokok
dari dosen, buku- buku panduan lainnya serta searching diinternet yang
berkaitan dengan topik makalah ini.
BAB
II
PEMBAHASAN
1.
Tafsir Surat Al- Fatihah Secara Umum
·
Muqaddimah
(Pembukaan)
Surah
ini diturunkan dua kali; pertama di Makkah; dan yang kedua di Madinah. Surah
ini, dibandingkan dengan surah- surah lainnya merupakan surah yang diturunkan
sekaligus secara lengkap. Dilihat dari urutan turunnya, surah ini terdapat pada
urutan kelima; jika ditilik dari susunan mushaf Al- Qur’an, surah ini terdapat
pada urutan pertama. Kendatipun demikian, sebagian ulama berpendapat bahwa
surah yang pertama kali diturunkan ialah Al- Fatihah; bukan surah Al- ‘Alaq
(Iqra’). Diantara ulama berpendapat demikian adalah Syeikh Muhammad Abduh.
Surah
ini dinamakan surah Al- Fatihah karena ia sebagai surah pembuka dalam susunan
mushaf Al- Qur’an. Surah ini dinamakan juga Ummul Qur’an dan Ummul Kitab karena
didalamnya termuat pokok- pokok isi Al- Qur’an. Selain itu, surah ini dinamai
juga dengan As- Sab’ul Matsani yang berarti tujuh ayat yang selalu diulang-
ulang dalam shalat; dan disebut juga Al- Quranul ‘Azhim. Membaca surah ini
dalam setiap shalat adalah wajib. Sahalat tidak sah kalau tidak dibaca surah
ini. Al- Fatihah disebut juga Fatihatul Kitab yang artinya pembuka Al- Qur’an;
karena susunan surah dalam Al- Qur’an dimulai dengan surah ini. Nama- nama lain
dari surah Al- Fatihah ialah : Asy- Syifa’ (obat penawar) karena dengan membaca
surah ini dapat menyejukkan hati dan sekaligus dapat mengobati segala penyakit
yang ada didalamnya, seperti dengki, khianat, takabbur, riya’ dan syirik; Al-
Waqiyah (penjaga atau pemelihara) karena dengan mengamalkan surah ini dapat
membentengi seseorang dari tindakan- tindakan yang bertentangan dengan agama
dan senantiasa berada dibawah naungan Allah; Al- Kafiyah (penyempurna) karena
surah ini menyempurnakan atau melengkapi surah- surah lain; kandungan isinya
meliputi seluruh kandungan surah lain dalam Al- Qur’an. Selanjutnya, surah ini
dinamakan juga Asasul Quran (dasar atau pokok Al- Quran) karena didalamnya
terdapat intisari kandungan Al- Qur’an.
Surah
Al- Fatihah ini mengandung pokok- pokok isi Al- Qur’an secara global dan prinsipal
yang meliputi : prinsip tauhid, ibadah, akhlak, dan muamalah. Keempat prinsip
ini kemudian dijabarkan dalam surah- surah lain. Dan kehidupan orang beriman
didasarkan pada prinsip- prinsip ini. Karena itu, dalam setiap shalat orang
beriman memohon kepada Allah agar diberikan hidayah untuk mengikuti pola
kehidupan yang benar dan lurus. Muhammad Abduh menyebutkan bahwa surah Al-
Fatihah mengandung pokok- pokok ajaran mengenai tauhid, wa’ad (janji baik) dan
wa’id (ancaman), ibadah, kebahagiaan hidup, dan kisah- kisah.
·
Surat
Al- Fatihah dan Terjemahnya
ÉOó¡Î0 «!$# Ç`»uH÷q§9$# ÉOÏm§9$# ÇÊÈ ßôJysø9$# ¬! Å_Uu úüÏJn=»yèø9$# ÇËÈ Ç`»uH÷q§9$# ÉOÏm§9$# ÇÌÈ Å7Î=»tB ÏQöqt ÉúïÏe$!$# ÇÍÈ x$Î) ßç7÷ètR y$Î)ur ÚúüÏètGó¡nS ÇÎÈ $tRÏ÷d$# xÞºuÅ_Ç9$# tLìÉ)tGó¡ßJø9$# ÇÏÈ xÞºuÅÀ tûïÏ%©!$# |MôJyè÷Rr& öNÎgøn=tã Îöxî ÅUqàÒøóyJø9$# óOÎgøn=tæ wur tûüÏj9!$Ò9$# ÇÐÈ
1. Dengan menyebut nama Allah yang Maha
Pemurah lagi Maha Penyayang [1]
2. Segala puji [2] bagi
Allah, Tuhan semesta alam [3]
3. Maha Pemurah lagi
Maha Penyayang
4. Yang menguasai [4]
di hari Pembalasan [5]
5.
Hanya Engkaulah yang Kami sembah [6], dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta
pertolongan [7]
6. Tunjukilah [8] Kami
jalan yang lurus
7. (yaitu) jalan
orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka
yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat [9]
* Esensi Surat Al-
Fatihah
[1]
Maksudnya: saya memulai membaca al-Fatihah ini dengan menyebut nama Allah.
Setiap pekerjaan yang baik, hendaknya dimulai dengan menyebut asma Allah,
seperti makan, minum, menyembelih hewan dan sebagainya. Allah ialah nama zat
yang Maha Suci, yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya, yang tidak
membutuhkan makhluk-Nya, tapi makhluk yang membutuhkan-Nya. Ar Rahmaan (Maha
Pemurah): salah satu nama Allah yang memberi pengertian bahwa Allah melimpahkan
karunia-Nya kepada makhluk-Nya, sedang Ar Rahiim (Maha Penyayang) memberi
pengertian bahwa Allah Senantiasa bersifat rahmah yang menyebabkan Dia selalu
melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya.
[2]
Alhamdu
(segala puji). memuji orang adalah karena perbuatannya yang baik yang
dikerjakannya dengan kemauan sendiri. Maka memuji Allah berrati: menyanjung-Nya
karena perbuatannya yang baik. lain halnya dengan syukur yang berarti: mengakui
keutamaan seseorang terhadap nikmat yang diberikannya. kita menghadapkan segala
puji bagi Allah ialah karena Allah sumber dari segala kebaikan yang patut
dipuji.
[3]
Rabb
(tuhan) berarti: Tuhan yang ditaati yang Memiliki, mendidik dan Memelihara. Lafal
Rabb tidak dapat dipakai selain untuk Tuhan, kecuali kalau ada sambungannya,
seperti rabbul bait (tuan rumah). 'Alamiin (semesta alam): semua yang
diciptakan Tuhan yang terdiri dari berbagai jenis dan macam, seperti: alam
manusia, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati dan sebagainya.
Allah Pencipta semua alam-alam itu.
[4]
Maalik
(yang menguasai) dengan memanjangkan mim,ia berarti: pemilik. dapat pula dibaca
dengan Malik (dengan memendekkan mim), artinya: Raja.
[5]
Yaumiddin
(hari Pembalasan): hari yang diwaktu itu masing-masing manusia menerima
pembalasan amalannya yang baik maupun yang buruk. Yaumiddin disebut juga
yaumulqiyaamah, yaumulhisaab, yaumuljazaa' dan sebagainya.
[6]
Na'budu
diambil dari kata 'ibaadat: kepatuhan dan ketundukkan yang ditimbulkan oleh
perasaan terhadap kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang disembah, karena
berkeyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya.
[7]
Nasta'iin
(minta pertolongan), terambil dari kata isti'aanah: mengharapkan bantuan untuk dapat
menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga
sendiri.
[8]
Ihdina
(tunjukilah kami), dari kata hidayaat: memberi petunjuk ke suatu jalan yang
benar. yang dimaksud dengan ayat ini bukan sekedar memberi hidayah saja, tetapi
juga memberi taufik.
[9]
Yang dimaksud dengan mereka yang dimurkai dan mereka yang sesat ialah semua
golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.
·
Ikhtisar
Surat Al- Fatihah
1. Surah
ini menegaskan bahwa dengan sifat Rahman (Pemurah) Allah memberikan penghidupan
kepada seluruh makhluk- Nya. Dan dengan sifat Rahim (Penyayang) Allah
memberikan kasih sayang- Nya yang istimewa kepada orang- orang yang beriman dan
taat kepada perintah- Nya.
2. Allah
menjelaskan bahwa segala puja dan puji hanya milik- Nya. Makhluk tidak berhak
dipuji dan dipuja. Pemujaan kepada selain- Nya berarti keluar dari jalur yang
telah ditentukan-Nya; bahkan mengarah kepada syirik.
3. Kerajaan
dan kekuasaan di Hari Kiamat nanti hanya kepunyaan- Nya. Dialah Raja satu-
satunya, tidak ada seorang pun yang lain yang berkuasa pada hari itu. Segala
kerajaan dan kekuasaan yang pernah diberikan kepada manusia sirna. Semua
manusia mengharapkan kasih sayang dari- Nya dan tunduk hanya kepada- Nya.
4. Ibadah
atau penyembahan hanya untuk Allah. Demikian juga segala permohonan hanya
dituju kepada- Nya. Hanya Allah yang mampu menolong para hamba- Nya. Permohonan
kepada selain- Nya adalah bertentangan dengan kehendak- Nya; karena Dialah yang
berhak dimintai segala sesuatu, dan Dia pula yang berhak menerima atau menolak
suatu permohonan.
5. Allah
memberikan hidayah (bimbingan atau petunjuk) kepada siapa saja yang
dikehendaki- Nya. Orang yang tidak memperoleh hidayah akan tersesat dijalan.
Karena itu, orang beriman sekurang- kurangnya dalam sehari semalam 17 kali memohon
hidayah dari- Nya agar ditunjuki ke jalan yang lurus dan benar. Jalan yang
lurus dan benar adalah jalan iman dan Islam; atau tauhid.
6. Jalan
benar dan lurus adalah jalan yang pernah ditempuh oleh orang- orang yang
diberikan kenikmatan dan kebahagiaan hidup oleh Allah SWT yaitu para Rasul,
Syuhada’, Shiddiqin, dan Shalihin. Bukan jalan orang- orang Yahudi dan Nasrani.
Orang- orang Yahudi telah dimurkai oleh Allah; sedangkan orang- orang Nasrani
termasuk golongan orang- orang yang sesat dan menyesatkan.
·
Asal
Makna Al- Fatihah
Yaitu
permulaan sesuatu yang dengannya sesuatu itu dibuka. Kemudian digunakan untuk
permulaan segala sesuatu, termasuk perkataan. Fungsi ta’ adalah untuk
transformasi dari sifat menjadi ism (sebutan), karena itulah surah ini dinamai“
Faatihatul Kitab” (pembuka Al- Kitab) karena Al- Kitab (yakni Al- Qur’an)
dibuka dengannya, sebab Al- Fatihah adalah yang pertama kali ditulis dalam
Mushaf dan yang pertama kali dibaca dari Al- Kitab yang mulia, walaupun bukan
yang pertama kali diturunkan dari Al- Qur’an. Surah yang mulia ini sudah
dikenal dengan nama itu sejak masa kenabian.
·
Asbabun
Nuzul
Dalam
suatu riwayat diceritakan bahwa Rasulullah SAW apabila mendengar suara
panggilan: “Hai Muhammad”, maka begitu beliau mendengarnya beliau terus lari;
kemudian Waraqah bin Naufal menasehati beliau: “Apabila engkau mendengar suara
panggilan, maka tetaplah hatimu sampai sampai engkau mendengar apa yang dia
uacapkan kepadamu, “ Maka tatkala mendengar suara panggilan: “Hai Muhammad”,
jawablah: Labbaik ( Ya ), dan ucapkanlah: Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan
kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah; kemudian
bacalah: Al- Hamdulillahi rabbil ‘aalamiin, ar- rahmaanirrahiim, maaliki
yaumiddiin sampai akhir surah Al- Fatihah (Riwayat Abu Ishaq dan Abu Maisarah
dari Ali bin Abi Thalib).
Selanjutnya,
Ali bin Abi Thalib meriwayatkan bahwa “ surah Al- Fatihah diturunkan di Makkah
dan surah ini merupakan perbendaharaan dari bawah ‘Arasy’. Abu Shalih dari Ibnu
Abbas berkata: “ Ketika Nabi SAW berada di Makkah, beliau membaca:
Bismillahirrahmanirrahiim: al- hamdulillahi rabbil ‘aalamiin, “ maka orang
Quraisy berkata: “ Semoga Allah menghancurkan mulutmu. “ Hasan dan Qatadah
cenderung kepada riwayat ini. Namun, menurut Mujahid, surah Al- Fatihah
diturunkan di Madinah.
Menurut
riwayat Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda: Ubai bin Ka’ab membaca Ummul
Qur’an kepada beliau, maka beliau bersabda: “ Demi Allah yang jiwaku ada
ditangan- Nya, surah Al- Fatihah ini tidak ada tandingannya baik dalam Taurat,
Injil maupun Zabur; bahkan tidak ada tandingannya dengan surah- surah lain
dalam Al- Qur’an. Sesungguhnya surah ini adalah As- Sab’ul Matsani dan Al-
Quranul ‘Azhim yang aku terima dari- Nya.
·
Nama-
nama lain Surah Al- Fatihah
1.
Surat
Al- Fatihah
Kata
“Al- Fatihah” itu terambil dari kata “ fataha” yang berarti “ membuka” atau “memulai”, dan Al- Fatihah disini berarti “pembukaan” atau “permulaan”.
Surah ini dinamai “Al- Fatihah”
karena dengan surat inilah dibuka Al-
Qur’anul Karim, artinya dengan surat inilah dimulai tertib urut susunan
surat- surat Al- Qur’an. Meletakkannya dipermulaan Al- Qur’an adalah dengan
perintah dari Nabi Muhammad SAW sendiri (tauqifi).
2.
Ummul
Al- Qur’an atau Ummul Kitab
Disamping
nama “Al- Fatihah“ maka surat ini
juga dinamai “Ummul Qur’an“ (Induk
Al- Qur’an) atau “Ummul Kitab” (Induk
Al- Kitab). Surat Al- Fatihah ini dinamai “Ummul
Qur’an” atau “Ummul Kitab”, karena dia merupakan induk, pokok, atau basis bagi
Al- Qur’an seluruhnya, dengan arti bahwa surat Al- Fatihah ini mengandung
pokok- pokok isi Al- Qur’an.
3.
As
Sab’ul Masani
Surat
Al- Fatihah ini juga dinamai “As Sab’ul
Masani” (tujuh yang berulang- ulang). Dinamai demikian, karena ayatnya
berjumlah tujuh ayat dan dibaca berulang- ulang dalam shalat.
2.
Tafsir
Surat Al- Fatihah per Ayat
ÉOó¡Î0 «!$# Ç`»uH÷q§9$# ÉOÏm§9$# ÇÊÈ
“ Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha
Penyayang”.
“Dengan
menyebut nama Allah” maksudnya : “Dengan menyebut nama Allah saya baca atau
saya mulai”. Seakan- akan Nabi berkata: “Saya baca surat ini dengan menyebut
nama Allah, bukan dengan menyebut nama saya sendiri, sebab dia wahyu dari Tuhan,
bukan dari saya sendiri. Maka Basmallah disini mengandung arti bahwa Al-
Qur’anul Karim itu wahyu dari Allah, bukan karangan Muhammad SAW dan Muhammad
itu hanyalah seorang Pesuruh Allah yang dapat perintah menyampaikan Al- Qur’an
kepada manusia.
Di
dalam Al- Qur’an ada 114 surat, semuanya dimulai dengan “Basmallah” kecuali
surat At Taubah. Surat At- Taubah ini tidak dimulai dengan “Basmallah” karena
memang tidak serasi kalau dimulai dengan “Basmallah”. Disamping pada
permulaannya, “Basmallah” ada disebutkan satu kali pada pertengahan surat An-
Naml ayat 30, dengan demikian “Basmallah” itu didapati didalam Al- Qur’an 114
kali.
Ada
beberapa pendapat ulama berkenaan dengan “Basmallah” yang terdapat pada
permulaan sesuatu surat. Diantara pendapat- pendapat itu yang termasyur adalah
:
1. “Basmallah”
itu adalah suatu surat yang tersendiri, diturunkan Allah untuk jadi kepala
masing- masing surat, dan pembatas antara surat dengan surat yang lain. Jadi
dia bukanlah satu ayat dari Al- Fatihah atau dari sesuatu yang lain, yang
dimulai dengan Basmallah itu. Ini adalah pendapat Imam Malik beserta ahli
qiraah dan Fuqaha Madinah, Basrah dan Syam, dan juga pendapat Imam Abu Hanifah
dan pengikut- pengikutnya. Sebab itu menurut Imam Abu Hanifah “Basmallah” itu
tidak dikeraskan membacanya dalam shalat bahkan Imam Malik tidak membaca
Basmallah sama sekali.
2. “Basmallah”
adalah salah satu ayat dari Al- Fatihah, dan dari sesuatu surat yang lain, yang
dimulai dengan “Basmallah”. Ini adalah pendapat Imam Syafi’i beserta ahli
qira’ah Mekah dan Kufah. Sebab itu menurut mereka “Basmallah” itu dibaca dengan
suara keras dalam shalat (Jahar).
Kalau
kita perhatikan bahwa sahabat- sahabat Rasulullah SAW telah sependapat
menuliskan “Basmallah” pada permulaan sesuatu surat dari surat- surat Al- Qur’anul
Karim itu, kecuali surat At Taubah (karena memang dari semula turunnya tidak
dimulai dengan Basmallah) dan bahwa Rasulullah SAW melarang menuliskan sesuatu
yang bukan Al- Qur’an supaya tidak bercampur aduk dengan Al- Qur’an. Sebab itu
oleh mereka tidak dituliskan “amin” di akhir surat Al- Fatihah. Basmallah itu
adalah salah satu ayat dari Al- Qur’an atau dengan perkataan lain bahwa
“basmallah basmallah” yang terdapat didalam Al- Qur’an itu adalah ayat- ayat
Al- Qur’an, lepas dari pendapat apakah satu ayat dari Al- Fatihah atau dari
sesuatu surat yang lain, yang dimulai dengan Basmallah atau tidak.
Sebagai disebutkan diatas surat Al-
Fatihah itu terdiri dari tujuh ayat. Mereka yang berpendapat bahwa Basmallah
itu tidak termasuk satu ayat dari Al Fatihah, memandang :
Îöxî ÅUqàÒøóyJø9$# óOÎgøn=tæ wur tûüÏj9!$Ò9$# ÇÐÈ
Adalah
salah satu ayat, dengan demikian ayat- ayat Al- Fatihah itu tetap tujuh.
·
Pemakaian
kata “ Allah ”
“Allah”
nama bagi Zat Yang ada dengan sendiri- Nya (wajibul wujud). Kata “Allah” itu hanya dipakai oleh bangsa Arab kepada
Tuhan yang sebenarnya, yang berhak disembah, yang mempunyai sifat- sifat
kesempurnaan. Mereka tidak memakai kata itu untuk tuhan- tuhan atau dewa- dewa
mereka yang lain.
Kata
“Ar Rahman” terambil dari “Ar Rahman” yang berarti: “belas kasihan”, yaitu
suatu sifat yang menimbulkan perbuatan memberi nikmat dan karunia. Jadi kata Ar
Rahman itu ialah: Yang berbuat (memberi) nikmat dan karunia yang banyak. Kata
“Ar Rahman” juga terambil dari “Ar Rahmah”, dan arti “Rahim” ialah: “Orang yang
mempunyai sifat belas kasihan, dan sifat itu “tetap” padanya selama- lamanya.
Maka
Ar Rahman Rahim itu maksudnya: “Tuhan itu telah memberi nikmat yang banyak
dengan murah-Nya dan telah melimpahkan karunia yang tidak terhingga, karena Dia
adalah bersifat belas kasihan kepada makhluk- Nya, dan oleh karena sifat belas
kasihan ini adalah suatu sifat yang tetap pada- Nya maka nikmat dan karunia
Allah itu tidak ada putus- putusnya. Dengan demikian maka kata- kata “Ar
Rahman” dan “Ar Rahim” itu kedua- duanya adalah diperlakukan dalam susunan ini,
karena masing- masing mempunyai arti yang khusus. Tegasnya bila seseorang Arab
mendengar orang mensifati Allah dengan Ar Rahman, maka terpahamlah olehnya
bahwa Allah itu telah melimpahkan nikmat dan karunia- Nya dengan banyak dan
berlimpah- limpah. Tetapi bahwa limpahan nikmat dan karunia yang banyak itu
tetap, tidak putus- putus, tidak dapat dipahami dari lafadz Ar Rahman itu saja.
Karena itu perlu lah diikuti dengan Ar Rahim, supaya orang dapat mengambil
pengertian bahwa limpahan nikmat dan karunia serta kemurahan Allah itu tidak
ada putus- putusnya.
·
Hikmah
Membaca Basmallah
Seorang
Muslim disuruh membaca basmallah di waktu mengerjakan sesuatu pekerjaan yang
baik. Yang demikian itu untuk mengingatkan bahwa pekerjaan itu dikerjakannya
adalah karena suruhan Allah, atau karena telah diizinkan- Nya. Maka karena
Allah-lah dia mengerjakan pekerjaan itu dan kepada Nya dia meminta pertolongan
supaya pekerjaan itu terlaksana dengan baik dan berhasil.
Orang
Arab sebelum datang Islam mengerjakan sesuatu pekerjaan adalah dengan menyebut
Al Lata dan Al Uzza, yaitu nama- nama berhala mereka. Sebab itu Allah SWT
mengajarkan kepada penganut- penganut agama Islam yang telah meng- Esa-kan Nya,
supaya mereka mengerjakan dengan menyebut nama Allah. Pada ayat diatas, Allah
SWT memulai firman- Nya dengan menyebut “basmallah” untuk mengajarkan kepada
hamba- Nya agar memulai sesuatu perbuatan yang baik dengan menyebut basmallah
itu, sebagai pernyataan bahwa dia mengerjakan perbuatan itu karena Allah dan
kepada Nyalah dia memohonkan pertolongan dan berkat. Maka pada ayat ini Allah
SWT mengajarkan kepada hamba- Nya agar selalu memuji Allah.
ßôJysø9$# ¬! Å_Uu úüÏJn=»yèø9$# ÇËÈ
"Segala puji hanya bagi Allah pemelihara seluruh alam."
Lafazd حمد yang yang didahului huruf alif dan lam dalam kaidah arabiah dinamai al-istighraq yang berarti mencakup segala
sesuatu. Karena itu, kalimat alhamdulillah
sering diterjemahkan dengan segala
puji bagi Allah.
Hamdu atau
pujian adalah ucapan yang ditujukan kepada yang dipuji atas sikap atau
perbuatannya yang baik walaupun ia tidak memberi sesuatu kepada yang memuji.
Sementara dalam kalimat الحمد
لله, huruf lam yang mengikuti kata lafdzul
jalalah mengindikasikan arti pengkhususan bagi-Nya. Dengan demikian segala
pujian hanya wajar dipersembahkan kepada Allah SWT.
·
Dalam hal Memuji ini, yaitu
menyampaikan hal- hal yang baik terkait pihak lain meskipun kita belum
mendapatkan kenikmatan terhadap orang yang dipuji. Segala puji hanya bagi Allah
SWT yang meliputi :
a.
Asma’ (nama- Nya) yaitu pada
Asmaul Husna
b.
Af’al (perbuatan- Nya)
c.
Mahluquh (ciptaan- Nya)
·
Selain memuji, juga ada
kaitannya dengan bersyukur. Bersyukur ini yaitu menyampaikan rasa kesyukuran
pada pihak lain karena telah mendapatkan kenikmatan atau manfaat atas atau pada
pihak orang yang kita syukuri. Bersyukur harus titik, tidak boleh koma, jika
masih koma berarti belum sempurna bersyukur.
·
Kata kunci dari Rabbi yaitu
Robbun yang mengandung Tuhid Rubbubiyah. Tauhid ini meliputi bahwa Allah yang
telah :
a.
Menghidupkan atau menciptakan
b.
Menumbuhkan
c.
Mengembangkan
d.
Memberi Rizki
e.
Mendidik
Pada dasarnya Allah itu pendidik manusia, hanya
saja tidak secara langsung. Allah mendidik lewat Nabi dan Rasul yaitu Kitab
Suci. Jika Nabi dan Rasul sudah tidak ada maka dilanjutkan oleh ‘Ulama.
Selanjutnya jika ‘Uama tidak ada, maka dilanjutkan oleh manusia.
Kalimat Robbul
'aalamin, merupakan keterangan lebih lanjut tentang layaknya segala pujian
hanya diperuntukkan kepada Allah. Betapa tidak, Dia adalah Robb dari seluruh
alam. Dengan ada penegasan bahwa Allah adalah Rabbul
A’lamin membuat manusia
menjadi tenang sebab segala sesuatu kebutuhan manusia telah dipersiapkan Allah.
Al ‘alamiin mengandung arti yaitu alam- alam
selain bumi. Yaitu dapat dibedakan atas Biotik dan Abiotik. Biotik meliputi
manusia, hewan, tumbuhan, jin, malaikat. Sedangkan Abiotik meliputi tanah,
batu, kayu, air dan udara.
Ç`»uH÷q§9$# ÉOÏm§9$# ÇÌÈ
"Ar-Rahman Ar-Rahim."
Pemeliharaan tidak dapat terlaksana dengan baik
dan sempurna kecuali bila disertai dengan rahmat dan kasih sayang. Oleh karena
itu, ayat ini sebagai penegasan dari sifat Allah yang rabbul’alamin. Pemeliharaan-Nya
terhadap seluruh alam itu bukan atas dasar kesewenangan-wenangan semata, tetapi
diliputi oleh rahmat dan kasih sayang.
Penekanannya pada Tauhid Rubbubiyah yaitu Allah
yang menciptakan seluruh alam, Allah yang Maha Mendidik, Memberi Rizki,
memiliki sifat Penyayang. Sedangkan implikasi dalam pendidikan yaitu seorang
guru harus berkarakter kasih sayang.
Dengan disebutkan sifat Ar-Rahman Ar-Rahim memberi kesan bahwa keabsolutan Allah
bergabung dengan kesan rahmat dan kasih sayang. Ini mengantarkan pada keyakinan
bahwa Allah Maha Agung lagi Maha Indah, Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.
Å7Î=»tB ÏQöqt ÉúïÏe$!$# ÇÍÈ
"Pemilik hari pembalasan."
Allah Swt yang merajai,
menguasai, memiliki hari pembalasan. Dibagi menjadi dua yaitu Dhahir (Yaumul
Akhir) dan Bathin (Langsung) saat dan atau sesudah manusia melakukansesuatu
(Al- Biqa’i).
Allah Swt menguasai hari
pembalasan secara absolut. Manusia mendapatkan musibah sebab perbuatan manusia.
Musibah dibagi menjadi dua yaitu Azab dan Cobaan atau Ujian. Karakteristik
balasan di dunia : a) bisa salah sasaran
b) Siksa/ nikmat kolektif individual
Sedangkan karakteristik balasan di akhirat : a)
Pasti tepat sasaran b) Balasan
individual
Sifat ketuhanan tidak dapat
dilepaskan dari kepemilikan dan kakuasaan. Karena itu kapemilikan dan kakuasaan
yang dimaksud perlu ditegaskan. Maka Yaumuddin
merupakan penegasan dari kepemilikan dan kekuasaan Allah. Keyakinan tentang
adanya hari pembalasan memberi arti bagi hidup ini. Tanpa keyakinan itu, semua
akan diukur disini dan sekarang yakni di dunia. Padahal banyak nilai-nilai yang
tidak bisa diukur dengan disini dan sekarang. Adanya hari pembalasan juga
memberikan ketenangan terhadap manusia, sebab Allah sebagai pemilik dan
penguasa tunggal akan membalaskan setiap perbuatan.
x$Î) ßç7÷ètR y$Î)ur ÚúüÏètGó¡nS ÇÎÈ
"
Hanya kepada-Mu kami mengabdi dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan."
Kalimat "Hanya kepada-Mu kami mengabdi
dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan", adalah bukti bahwa kalimat-kalimat
tersebut adalah pengajaran. Allah mengajarkan ini kepada kita agar kita
ucapkan, karena mustahil Allah yang Maha Kuasa itu berucap demikian, bila bukan
untuk pengajaran.
Iyyaka dan na'budu juga
merupakan pengecaman terhadap mereka yang mempertuhan atau menyembah selain
Allah, baik masyarakat Arab ketika itu maupun selainnya. Penggalan ayat
mengecam mereka semua dan mengumandangkan bahwa Allah-lah yang patut disembah
dan tidak ada sesembahan yang lain.
Sementara dalam kalimat Iyyaka nastain mengandung arti bahwa kepada
selain Allah manusia tidak memohon pertolongan. Meski Allah menjadi sandaran
untuk memohon pertolongan, bukan berarti tidak ada upaya dengan berlepas tangan
sama sekali. Tetapi Kita masih dituntut untuk berperan, sedikit atau banyak,
sesuai dengan kondisi yang dihadapi.
Mendahulukan na’budu daripada nasta’in menunjukkan bahwa manusia harus lebih
dulu menghambakan diri atau mendekatkan diri kepada Allah sebelum mereka
meminta pertolongan. Na’budu yaitu mengabdi, menghamba, menyembah dibagi atas
ibadah mahdhah seperti salat, puasa, haji dan al ‘amun seperti bekerja dan
belajar. Semua itu harus dilakukan secara ikhlas tanpa paksaan.
Indikator ikhlas :
a.
Ikhlas niatnya mencari ridho
Allah Swt
b.
Profesional kerja
c.
Pemanfaatan hasil dijalan-
Nya
Sedangkan Nasta’iin artinya hanya kepada- Mu
kami memohon pertolongan. Mengandung arti bahwa melakukan kewajiban baru
meminta haknya. Caranya melalui Addu’a seperti doa, amal shaleh, asmaul husna.
$tRÏ÷d$# xÞºuÅ_Ç9$# tLìÉ)tGó¡ßJø9$# ÇÏÈ
"Bimbing (antar)lah Kami (memasuki) jalan lebar dan luas."
Setelah mempersembahkan puja puji kepada Allah
dan mengakui kekuasaan dan kepemilikan-Nya, ayat selanjut ini merupakan
pernyataan tentang ketulusan-Nya beribadah serta kebutuhannya kepada
pertolongan Allah. Maka dengan ayat ini sang hamba mengajukan permohonan kepada
Allah, yakni bimbing dan antarkanlah Kami memasuki jalan yang lebar dan luas.
Pada pembahasan ini juga menyangkut tentang
Hidayah. Hidayah dibagi menjadi dua yaitu ilmu dan ‘amal. Sebelum manusia
mendapat hidayah pastinya ada yang namanya hambatan hidup. Hambatan hidup itu
sendiri ada yang internal (dari diri sendiri) dan eksternal (pengaruh bacaan,
alat komunikasi, serta pengaruh teman).
Hidayah itu harus sampai ke amal. Perspektif
hidayah dalam kehidupan yaitu :
a.
Kognitif ( knowledge,
analisis, comprehension)
b.
Afektif ( caracterization)
c.
Psikomotorik ( praktek)
Shiroth di sini bagaikan jalan tol yang lurus
dan tanpa hambatan, semua yang telah memasukinya tidak dapat keluar kecuali
setelah tiba di tempat tujuan. Shiroth adalah jalan yang lurus, semua orang
dapat melaluinya tanpa berdesak-desakan. Sehingga shiroth menjadi jalan utama
untuk sampai kepada tujuan utama umat manusia, yaitu keridloan Allah dalam
setiap tingkah laku.
xÞºuÅÀ tûïÏ%©!$# |MôJyè÷Rr& öNÎgøn=tã Îöxî ÅUqàÒøóyJø9$# óOÎgøn=tæ wur tûüÏj9!$Ò9$# ÇÐÈ
"(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahi nikmat kepada
mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan)
orang-orang- orang sesat."
Kata nikmat yang dimaksud di sini adalah nikmat
yang paling bernilai yang tanpa nikmat itu nikmat-nikmat yang lain tidak akan
mempunyai nilai yang berarti, bahkan dapat menjadi niqmah atau bencana jika
tidak bisa mensyukuri dan menggunakannya dengan benar.
Nikmat tersebut adalah nikmat memperoleh
hidayah Allah serta ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka yang taat
melaksanakan pesan-pesan Ilahi yang merupakan nikmat terbesar itu, mereka
itulah yang masuk dan bisa melalui shiroth al-mustaqim.
Ada empat kelompok yang mendapatkan nikmat
khusus dari Allah SWT, yaitu nikmat keagamaan dan jalan kelompok-kelompok
tersebut yang dimohon untuk ditelusuri. Mereka adalah :
1. Para nabi yaitu mereka yang dipilih
Allah untuk memperoleh bimbingan sekaligus ditugasi untuk menuntun manusia ke
jalan Ilahi.
2. Para shiddiqin yaitu orang-orang
dengan pengertian apapun selalu benar dan jujur. Mereka tidak ternoda oleh
kebatilan dan tidak pernah bersikap yang bertentangan dengan kebenaran.
3. Para syuhada’ yaitu orang yang
senantiasa bersaksi atas kebenaran dan kebajikan melalui ucapan dan tindakan
mereka walau harus mengorbankan nyawa sekalipun.
4. Orang-orang shaleh yakni yang tangguh
dalam kebajikan dan selalu berusaha untuk mewujudkannya.
Penggalan ayat ghair il-maghdhub 'alaihim tidak menjelaskan siapakah orang-orang
tersebut, tetapi dalam beberapa hal rasulullah telah memberi contoh konkret,
yaitu orang-orang Yahudi yang mengerti akan kebenaran tetapi enggan
melaksanakannya. Hal yang wajar jika murka ini disandarkan kepada orang-orang
yahudi (meski bukan keseluruhan) sebab dalam al-qur’an sebanyak dua belas kali
disebutkan tentang pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh orang-orang
yahudi.
Sementara adh-dhalin,
yang berarti sesat, kehilangan
jalan, bingung, tidak mengetahui arah, banyak
dinisbahkan kepada orang-orang nasrani. Namun secara umum dapat diberi makna
bahwa adh-dholin adalah bentuk tindakan atau ucapan yang tidak menyentuh pada
kebenaran.
3. Keutamaan Surat Al-Fatihah
Telah
dikenal oleh seluruh kaum muslimin. Saking terkenalnya, terkadang sebagian kaum
muslimin menyalahgunakannya, seperti membacanya untuk orang mati saat ziarah
kubur, atau mengirimkan pahalanya kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-,
Syaikh Abdul Qodir Al-Jailaniy, dan orang-orang yang telah mati. Semua ini tak
ada contohnya dari Allah dan Rasul-Nya.
Surat
Al-Fatihah amat masyhur, namun banyak di antara kita tak mengetahui fadhilah,
dan keutamaannya. Padahal banyak sekali hadits-hadits yang menunjukkan
keutamaannya, baik dari sisi kandungan atau kedudukannya di sisi Allah -Azza wa
Jalla-. Diantara fadhilah dan keutamaan Surat Al-Fatihah:
Orang
yang membaca Al-Fatihah akan mendapatkan balasan pahala yang besar di sisi
Allah. Terlebih lagi jika ia membacanya dengan ikhlash, dan mentadabburi
maknanya.
Abu
Sa’id bin Al-Mu’allaa -radhiyallahu ‘anhu- berkata,
“Dulu aku pernah sholat. Lalu Nabi -Shallallahu
‘alaihi wa sallam- memanggilku. Namun aku tak memenuhi panggilan beliau. Aku
katakan, “Wahai Rasulullah, tadi aku sholat“. Beliau bersabda,
“Bukankah Allah berfirman, “Penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul
apabila Rasul menyeru kamu“. (QS. Al-Anfaal: 24).
Kemudian
beliau bersabda, “Maukah engkau kuajarkan surat yang paling agung
dalam Al-Qur’an sebelum engkau keluar dari masjid”?. Beliau pun memegang
tanganku. Tatkala kami hendak keluar, maka aku katakan, “Wahai Rasulullah,
sesungguhnya tadi Anda bersabda, “Aku akan ajarkan kepadamu Surat yang paling
agung dalam Al-Qur’an”. Beliau bersabda, “Alhamdulillahi Robbil alamin. Dia (
Surat Al-Fatihah) adalah tujuh ayat yang berulang-ulang, dan Al-Qur’an Al-Azhim
yang diberikan kepadaku”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (4720),
Abu Dawud dalam Sunan-nya (1458), dan An-Nasa’iy dalam Sunan-nya (913)]
Al-Imam
Ibnu At-Tiin-rahimahullah- berkata saat menjelaskan makna hadits di atas, “Maknanya,
bahwa pahalanya lebih agung (lebih besar) dibandingkan surat lainnya”.
[Lihat Fathul Bari(8/158) karya Ibnu Hajar Al-Asqolaniy]
Surat
Al-Fatihah merupakan surat terbaik, karena ia mengandung tauhid, ittiba’
(mengikuti) Sunnah, adab berdo’a, al-wala’ wal baro’, keimanan terhadap perkara
gaib, dan lainnya.
Ibnu
Jabir-radhiyallahu ‘anhu- berkata,
“Aku tiba kepada Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi
wa sallam- , sedang beliau mengalirkan air. Aku berkata, “Assalamu alaika,
wahai Rasulullah”. Maka beliau tak menjawab salamku (sebanyak 3 X). Kemudian
Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- berjalan, sedang aku berada di
belakangnya sampai beliau masuk ke kemahnya, dan aku masuk ke masjid sambil
duduk dalam keadaan bersedih. Maka keluarlah Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa
sallam- menemuiku, sedang beliau telah bersuci seraya bersabda, “Alaikas salam
wa rahmatullah (3 kali)”. Kemudian beliau bersabda, “Wahai Abdullah bin Jabir,
maukah kukabarkan kepadamu tentang sebaik-baik surat di dalam Al-Qur’an”. Aku
katakan, “Mau ya Rasulullah”. Beliau bersabda, “Bacalah surat Alhamdulillahi
Robbil alamin (yakni, Surat Al-Fatihah) sampai engkau menyelesaikannya“.
[HR. Ahmad dalam Al-Musnad (4/177). Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Arna’uth
dalam Takhrij Al-Musnad (no. 17633)]
·
Al – Fatihah adalah Al – Qur’an Al – Azhim
Surat
Al-Fatihah dinamai oleh Allah dengan “Al-Qur’an Al-Azhim”, padahal Al-Qur’an
Al-Azim bukan hanya Al-Fatihah, masih ada surat-surat lainnya yang berjumlah 11
3. Namun Allah -Azza wa Jalla- menamainya demikian karena kandungan Al-Fatihah
meliputi segala perkara yang dikandung oleh Al-Qur’an Al-Azhim secara global.
Wallahu A’lam bish showab.
Rasulullah
-Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
“Ummul
Qur’an (yakni, Al-Fatihah) adalah tujuh ayat yang berulang-ulang, dan Al-Qur’an
Al-Azhim“. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (4427), Abu Dawud
dalam Sunan-nya (1457), dan At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (3124)]
·
Surat Ruqyah
Al-Qur’an
seluruhnya bisa digunakan dalam meruqyah. Namun secara khusus Al-Fatihah pernah
dipergunakan oleh para sahabat dalam meruqyah sebagian orang yang tergigit
kalajengking. Dengan berkat pertolongan Allah, orang yang digigit kalajengking
tersebut sembuh kala itu juga.
Sekarang
kita dengarkan kisahnya dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudriy -radhiyallahu ‘anhu-
ketika beliau berkata,
” Ada beberapa orang dari kalangan
sahabat Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah berangkat dalam suatu
perjalanan yang mereka lakukan sampai mereka singgah pada suatu perkampungan
Arab. Mereka pun meminta jamuan kepada mereka. Tapi mereka enggan untuk menjamu
mereka (para sahabat). Akhirnya, pemimpin suku itu digigit kalajengking. Mereka
(orang-orang kampung itu) telah mengusahakan segala sesuatu untuknya. Namun
semua itu tidak bermanfaat baginya. Sebagian diantara mereka berkata,
“Bagaimana kalau kalian mendatangi rombongan (para sahabat) yang telah singgah.
Barangkali ada sesuatu (yakni, obat) diantara mereka”.Orang-orang itu pun
mendatangi para sahabat seraya berkata, “Wahai para rombongan, sesungguhnya
pemimpin kami tersengat, dan kami telah melakukan segala usaha, tapi tidak
memberikan manfaat kepadanya. Apakah ada sesuatu (obat) pada seorang diantara
kalian?” Sebagian sahabat berkata, “Ya, ada. Demi Allah, sesungguhnya aku bisa
me-ruqyah. Tapi demi Allah, kami telah meminta jamuan kepada kalian, namun kalian
tak mau menjamu kami. Maka aku pun tak mau me-ruqyah kalian sampai kalian mau
memberikan gaji kepada kami”. Merekapun menyetujui para sahabat dengan gaji
berupa beberapa ekor kambing. Lalu seorang sahabat pergi (untuk me-ruqyah
mereka) sambil memercikkan ludahnya kepada pimpinan suku tersebut, dan membaca,
“Alhamdulillah Robbil alamin (yakni, Al-Fatihah)”. Seakan-akan orang itu
terlepas dari ikatan. Maka mulailah ia berjalan, dan sama sekali tak ada lagi
penyakit padanya. Dia (Abu Sa’id) berkata, “Mereka pun memberikan kepada para
sahabat gaji yang telah mereka sepakati. Sebagian sahabat berkata, “Silakan
bagi (kambingnya)”. Yang me-ruqyah berkata, “Janganlah kalian lakukan hal itu
sampai kita mendatangi Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, lalu kita sebutkan
kepada beliau tentang sesuatu yang terjadi. Kemudian kita lihat, apa yang
beliau perintahkan kepada kita”. Mereka pun datang kepada Rasulullah
-Shallallahu ‘alaihi wa sallam- seraya menyebutkan hal itu kepada beliau. Maka
beliau bersabda, “Apa yang memberitahukanmu bahwa Al-Fatihah adalah ruqyah?”
Kemudian beliau bersabda lagi, “Kalian telah benar, silakan (kambingnya)
dibagi. Berikan aku bagian bersama kalian”. Lalu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa
sallam- tertawa“. [HR. Al-Bukhoriy (2156), Muslim (2201)]
Al-Imam
Ibnu Abi Jamroh-rahimahullah- berkata, “Tempat memercikkan ludah ketika
me-ruqyah adalah usai membaca Al-Qur’an pada anggota badan yang dilalui oleh
ludah”. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (9/206)]
·
Cahaya Untuk Ummat Islam
Satu
lagi diantara fadhilah Al-Fatihah, ia disebut dengan cahaya, karena di dalamnya
terdapat petunjuk bagi seorang muslim dalam semua urusannya. Jika kita mengkaji
Al-Fatihah secara mendalam, maka kita akan mendapat banyak faedah dan petunjuk.
Oleh karena itu, sebagian ulama’ telah menulis kitab khusus menafsirkan
Al-Fatihah dan mengeluarkan mutiara hikmahnya yang berisi pelita yang menerangi
kehidupan kita.
Ibnu
Abbas -radhiyallahu ‘anhu- berkata,
“Tatkala Jibril duduk di sisi Nabi -Shallallahu
‘alaihi wa sallam- , maka ia mendengarkan suara (seperti suara pintu saat
terbuka) dari atasnya. Maka ia (Jibril) mengangkat kepalanya seraya berkata,
“Ini adalah pintu di langit yang baru dibuka pada hari ini; belum pernah
terbuka sama sekali, kecuali pada hari ini”. Lalu turunlah dari pintu itu
seorang malaikat seraya Jibril berkata, “Ini adalah malaikat yang turun ke
bumi; ia sama sekali belum pernah turun, kecuali pada hari ini”. Malaikat itu
pun memberi salam seraya berkata, “Bergembiralah dengan dua cahaya yang
diberikan kepadamu; belum pernah diberikan kepada seorang nabi sebelummu, yaitu
Fatihatul Kitab, dan ayat-ayat penutup Surat Al-Baqoroh. Tidaklah engkau
membaca sebuah huruf dari keduanya, kecuali engkau akan diberi“.
[HR. Muslim dalam Shahih-nya (806), dan An-Nasa’iy (912)]
·
Penentu Sholat
Al-Fatihah
adalah kewajiban bagi setiap orang yang mengerjakan sholat, baik ia imam,
makmum, atau pun munfarid (sholat sendiri). Barangsiapa yang tak membacanya,
maka sholatnya tak sah.
Nabi
-Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
“Barangsiapa yang melakukan sholat, sedang ia
tak membaca Ummul Qur’an (Al-Fatihah) di dalamnya, maka sholatnya kurang (3X),
tidak sempurna”. Abu Hurairah ditanya, “Bagaimana kalau kami di belakang imam”.
Beliau berkata, “Bacalah pada dirimu (yakni, secara sirr/pelan), karena sungguh
aku telah mendengar Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Allah
-Ta’ala- berfirman, “Aku telah membagi Sholat (yakni, Al-Fatihah) antara Aku
dengan hamba-Ku setengah, dan hamba-Ku akan mendapatkan sesuatu yang ia minta”.
[HR. Muslim (395), Abu Dawud (821), At-Tirmidziy (2953), An-Nasa’iy (909), dan
Ibnu Majah (838)]
Abu
Zakariya An-Nawawiy-rahimahullah- berkata, “Al-Fatihah dinamai sholat,
karena sholat tak sah, kecuali bersama Al-Fatihah“. [Lihat Syarh
Shohih Muslim (2/127)]
Inilah
beberapa diantara keutamaan Al-Fatihah, kami sajikan bagi para khotib, da’i,
penuntut ilmu, dan seluruh kaum muslimin agar mereka tahu dan mengamalkan
hadits-hadits shohih ini, dan menyebarkannya, tanpa berpegang lagi dengan
hadits-hadits lemah dan palsu tentang fadhilah Al-Fatihah.
4.
Pokok-
pokok Ajaran yang Terkandung dalam Surat Al- Fatihah
Telah
disebutkan diatas, bahwa Surat Al- Fatihah adalah sebagai induk dari Al- Qur’an
seluruhnya, yakni didalam surat Al- Fatihah ini terdapat kesimpulan atau
intisari dari isi Al- Qur’an. Al- Qur’an diturunkan di waktu umat manusia di
seluruh penjuru alam ini amat membutuhkan tuntunan dan hidayah yang akan
menuntun mereka kepada ketentraman jiwa dalam segala segi- segi hidup dan
kehidupan.
Jika
manusia tidak puas, malah tidak mengingini keadaan yang berlaku dalam
masyarakat. Dimana saja di waktu itu dunia telah dipenuhi dengan keadaan-
keadaan yang tidak wajar, i’tikad dan kepercayaan yang bukan- bukan terhadap
Allah dan Rasul- Rasul- Nya, pemuka agama, raja- raja, pemimpin- pemimpin dan
syekh- syekh kabilah yang mempunyai kekuasaan yang tidak terikat sedikitpun.
Akhlak dan budi pekerti serta tindakan- tindakan yang amat bertentangan dengan
peri kemanusiaan, seakan- akan orang telah lupa kepada ajaran- ajaran yang
dibawa oleh nabi- nabi dan rasul- rasul sebelum nabi Muhammad.
Maka
kedatangan Al- Qur’an adalah untuk memenuhi tuntutan jiwa yang hendak lepas
dari belenggu kepercayaan- kepercayaan, hukum dan peraturan- peraturan, adat
istiadat atau tradisi- tradisi serta dongeng- dongeng yang tidak selaras lagi
dengan akal dan fikiran yang selalu berkembang dan selalu menuju kepada
kesempurnaannya.
Untuk
memenuhi aspirasi jiwa ini, Al- Qur’anul Karim datang dengan membawa aqaid
(keimanan), hukum- hukum dan peraturan- peraturan, janji- janji dan ancaman-
ancaman (peringatan) serta kisah- kisah tentang umat- umat yang telah berlalu
yang dapat dijadikan pelajaran dan i’tibar, agar manusia hidup aman dan
tentram, berbahagia dunia akhirat. Dengan ringkas dapat disimpulkan bahwa isi
Al- Qur’an itu kepada pokok- pokok sebagai berikut :
1. Keimanan
(‘aqaid).
2. Ibadat.
3. Hukum-
hukum dan peraturan- peraturan.
4. Janji
dan ancaman.
5. Kisah-
kisah atau cerita- cerita.
·
Keimanan
( Aqa’id )
Keimanan
inilah yang pertama kali dibawa oleh Al- Qur’anul Karim yang diajarkan oleh
Muhammad SAW, nabi- nabi dan rasul- rasul yang telah diutus sebelum Muhammad
SAW pun menanamkan keimanan ini pula pada pertama kali mereka diutus kepada
umatnya. Keimanan yang dibawa oleh Al- Qur’an meliputi keimanan kepada Allah,
rasul- rasul- Nya, malaikat- malaikat- Nya, kitab- kitab yang telah diturunkan-
Nya, hari akhirat, serta qada’ dan qadar.
Di
waktu Al- Qur’an diturunkan, keimanan yang dibawa oleh rasul- rasul sebelumnya
sudah kabur, tauhid yang khalis (murni) tidak ada lagi. Kepada umat- umat yang
dahulunya, telah pernah diutus rasul- rasul kepada mereka, dan telah pernah
mempunyai kitab- kitab samawi, namun kemudian mereka telah memandang rasul-
rasul, orang- orang shaleh, malaikat- malaikat sebagai Tuhan. Kitab- kitab
samawi yang dibawa oleh nabi- nabi dan rasul- rasul kepada mereka sudah
dirobah- robah oleh tangan mereka sendiri.
Bangsa
Arab, biarpun yang telah pernah menganut ajaran- ajaran Nabi Ibrahim, maupun
yang tidak, rata- rata telah menjadi penganut kepercayaan wasani, penyembah
patung- patung dan dewa- dewa, sehingga menurut riwayat di sekitar Ka’bah
terdapat 360 buah patung. Maka datanglah Al- Qur’anul Karim untuk mensucikan
akidah manusia dari kotoran- kotoran syirik, dengan membawa akidah tauhid yang
semurni- murninya, yang tidak dicampuri sedikit juga oleh kepercayaan-
kepercayaan dan perbuatan- perbuatan membesarkan sesuatu dalam alam ini.
Akidah
tauhid dibawa oleh Al- Qur’anul Karim itu adalah akidah yang amat jelas dan
tegas. Akidah yang paling sempurna yang dapat dicapai oleh akal, yang paling
sempurna yang dibawa oleh agama. Tuhan Yang Maha Esa, Dialah yang Khalik,
sedang selain- Nya adalah makhluk. Tak ada permulaan- Nya, dan tak ada
kesudahan- Nya. Maha Kuasa, Maha Pemurah, Maha Penyayang, Maha Mengetahui.
Ilmunya meliputi segala sesuatu, tidak ada suatu juga yang serupa dengan Dia,
alam semesta ini makhluk Allah. Yang akan lenyap dan habis dengan kehendak
Allah, sebagaimana dia ada, adalah dengan kehendak Allah.
Didalam
Surat Al- Fatihah, akidah tauhid ini didapat dalam ayat- ayat :
ßôJysø9$# ¬! Å_Uu úüÏJn=»yèø9$# ÇËÈ
“ Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam ”
Jadi
maksud ayat ini : “ Semua puji itu untuk Allah, Tuhan semesta alam ”. Yakni :
yang berhak dipuji adalah Allah, maka pujian itu haruslah dihadapkan kepada-
Nya.
Seseorang
dipuji adalah karena sifat- sifat yang mulia yang berada pada dirinya, atau
karena perbuatan- perbuatan, jasa- jasa dan budi baiknya. Oleh karena puji itu
semata- mata adalah untuk Allah sajalah yang mempunyai sifat- sifat yang
sempurna, yang menyebabkan Dia berhak dipuji, umpama: sifat Maha Esa, Maha
Pemurah, Maha Penyayang, Maha Kuasa, Maha Adil, Maha Mengetahui, Maha
Pengampun, Maha Pemaaf dan lain sebagainya.
Pernyataan
bahwa Allah sajalah yang mempunyai sifat- sifat yang sempurna dan bahwa Dia
sajalah yang telah memberi nikmat- nikmat dan karunia, inti dari Keimanan
kepada Allah dan merupakan akidah tauhid yang sebenarnya. Keimanan kepada Allah
serta segala sifat kesempurnaan- Nya, dan akidah tauhid yang semurni- murninya
itu adalah salah satu dari ajaran Islam yang terpenting, sebab itu didalam ayat
ini ditegaskan lagi bahwa Allah Rabb bagi semesta alam.
Kata
Rabb itu selain “ Yang Punya” juga berarti “ Pendidik” atau “Pengasuh”. Dengan
ini jelaslah bahwa sesuatu apapun yang berada di alam ini adalah kepunyaan
Allah. Dialah yang menciptakan, mendidik, mengasuh, menumbuhkan dan
memeliharanya. Tidak ada yang menyekutui Dia dalam hal ini. Sejalan dengan ini
maka makhluk itu bagaimana kecil dan halusnya, dan jauh dari tempatnya dibawah
pengetahuan, lindungan, pemeliharaan Allah. Allah telah memberi kepada makhluk-
Nya suatu bentuk, lalu dikaruniai Nya akal, naluri- naluri (instink) dan
kodrat- kodrat alamiah, yang dapat dipergunakannya untuk kelanjutan hidupnya.
Sesudah itu makhluk itu tidak dilepaskan saja oleh Allah, melainkan selalu
dipelihara, dilindungi dan dijaga Nya.
Pendidikan,
pemeliharaan, penumbuhan oleh Allah terhadap makhluk Nya haruslah diperhatikan
dan dipelajari oleh manusia dengan sedalam- dalamnya, dan memang dari dahulu
sampai sekarang telah diperhatikan dan dipelajari oleh para ahli fikir dan para
sarjana, sehingga telah menjadi sumber berbagai macam ilmu pengetahuan, yang
dapat menambah keyakinan manusia kepada keagungan dan kebesaran Allah, serta
berguna pula bagi masyarakat.
x$Î) ßç7÷ètR y$Î)ur ÚúüÏètGó¡nS ÇÎÈ
“ hanya kepada Engkaulah kami menyembah “ dan” hanya
kepada Engkaulah kami mohon pertolongan”
Ayat ini juga berisi keimanan,
karena dalam ayat ini dinyatakan dengan lebih jelas akidah tauhid itu. Ayat ini
berarti bahwa hanya Allah sajalah yang berhak disembah dan hanya kepada Allah
sajalah manusia seharusnya memohon sesuatu pertolongan. Jadi manusia sebagai
makhluk Allah, haruslah berhubungan langsung dengan Allah sebagai Khaliknya.
Dia berdoa memohon sesuatu haruslah langsung kepada Allah, Khaliknya itu dengan
tidak ada perantaraan apapun juga.
Dengan ini terbongkarlah dengan
akar- akarnya kepercayaan syirik (mempersekutukan Allah, membesarkan sesuatu
apapun selain Allah) kepercayaan wasani (menyembah dewa- dewa, matahari, bulan,
bintang- bintang, dan lain- lain), kepercayaan majusi (menyembah api) dan yang
lain sebagainya, yaitu kepercayaan yang banyak berkembang dan dianut oleh
segala bangsa, sebelum datang agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW.
Dua
buah ayat yang disebutkan itu :
ßôJysø9$# ¬! Å_Uu úüÏJn=»yèø9$# ÇËÈ
x$Î) ßç7÷ètR y$Î)ur ÚúüÏètGó¡nS ÇÎÈ
Kedua-
duanya adalah inti- inti ayat keimanan dan tauhid. Ayat- ayat yang lain, yang
menyeru kepada tauhid dan memberantas kepercayaan syirik wasani, majusi dan
lain sebagainya, adalah penjelasan dari kedua ayat ini.
Semua ayat- ayat Surat Al- Fatihah
itu sejak dari
ÉOó¡Î0 «!$# Ç`»uH÷q§9$# ÉOÏm§9$# ÇÊÈ
xÞºuÅÀ tûïÏ%©!$# |MôJyè÷Rr& öNÎgøn=tã Îöxî ÅUqàÒøóyJø9$# óOÎgøn=tæ wur tûüÏj9!$Ò9$# ÇÐÈ
Dan
seterusnya, menerangkan akidah tauhid, kalau tidak jelas, maka dengan secara
dibayangkan, sebagaimana akan kelihatan nanti pada tafsir masing- masing ayat
ini.
·
Ibadat
Ibadat
ini adalah buah dari keimanan kepada adanya Allah, dengan segala sifat- sifat
kesempurnaan- Nya, seseorang yang meyakinkan adanya segala sifat- sifat
kesempurnaan- Nya itu, dia akan menyembah Allah. Ibadat ini telah dibayangkan
didalam Surat Al- Fatihah dengan firman- Nya :
x$Î) ßç7÷ètR y$Î)ur ÚúüÏètGó¡nS ÇÎÈ
“ Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan
hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan”
Didalam
ayat ini Allah mengajari hamba- Nya supaya menyembah hanya kepada Allah semata.
Maka ayat ini selain mengandung akidah tauhid, juga mengandung ibadat kepada
yang Maha Esa itu.
$tRÏ÷d$# xÞºuÅ_Ç9$# tLìÉ)tGó¡ßJø9$# ÇÏÈ
“ Tunjukilah Kami kejalan yang lurus ”
Untuk
kebahagiaan hidup manusia didunia dan di akhirat, Allah mengadakan peraturan- peraturan,
hukum- hukum, menjelaskan kepercayaan, memberi pelajaran dan contoh- contoh.
Ini semua adalah laksana jalan lurus yang dibentangkan Allah yang menyampaikan
manusia kepada kebahagiaannya di dunia dan di akhirat. Maka berbahagialah
mereka yang menjalaninya dan sengsaralah orang yang menghindari diri dari jalan
itu.
Menjalani
jalan yang lurus ini artinya ialah beribadat kepada Allah, dengan mematuhi
peraturan- peraturan, menjalankan hukum- hukum, dan berpegang kepada akidah
yang benar, melaksanakan pelajaran- pelajaran dan mengambil tauladan kepada
contoh- contoh yang telah diberikan Allah, menurut yang dijelaskan oleh Allah
dalam ayat- ayat yang lain, yang jadi uraian bagi inti pati yang telah
disebutkan di surat Al- Fatihah ini.
Ibadat
itu tidak dapat dipisahkan dari tauhid, sebagaimana tauhid pun tidak dapat
dipisahkan dari ibadat, karena ibadat itu adalah buah dari tauhid, dan tak
adalah dia mempunyai nilai dan harga kalau timbulnya tidak dari perasaan
tauhid. Demikian pula halnya dengan tauhid, yakni tauhid itu tidak akan subur
hidupnya didalam jiwa dan raga manusia, kalau tidak selalu dipupuk dengan
ibadat.
Sebab
itu didalam surat Al- Fatihah ini, disamping disebut tauhid, disebut juga oleh
Allah ibadat. Kedua- duanya secara ringkas akan diikuti dengan penjelasan-
penjelasan pada ayat- ayat yang lain didalam surat- surat yang berikut.
·
Hukum-
hukum dan Peraturan- peraturan
Telah
disebutkan diatas, bahwa untuk kebahagiaan hidup manusia di dunia dan di
akhirat, Allah mengadakan Hukum- hukum dan peraturan- peraturan ini ada yang
berkenaan dengan hubungan manusia dengan Allah dan ada yang berhubungan dengan
masyarakat dan siasat kenegaraan dan yang lainnya.
Didalam
Al- Qur’anul Karim banyak didapati ayat- ayat yang berhubungan dengan hukum-
hukum dan peraturan- peraturan ini. Semua ayat- ayat ini adalah penjelasan bagi
apa yang telah dicantumkan dalam Surat Al- Fatihah Allah memberi tuntunan hukum
dan peraturan- peraturan dalam firmannya :
$tRÏ÷d$# xÞºuÅ_Ç9$# tLìÉ)tGó¡ßJø9$# ÇÏÈ
“ Tunjukilah kami kejalan yang lurus ”
Jalan
yang menyampaikan manusia kepada kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat,
yaitu akidah- akidah (kepercayaan) yang benar, hukum- hukum dan peraturan-
peraturan, pelajaran- pelajaran yang dibawa oleh Al- Qur’an sebagai disebutkan
diatas.
·
Janji
dan Ancaman
Al-
Qur’anul Karim juga berisi janji dan ancaman. Dia menjanjikan kebahagiaan
kepada mereka yang beriman dan berbuat baik. Sebagaimana dia mengancam mereka
yang mempersekutukan Allah, yang membuat onar dan kejahatan dengan azab dan
siksa. Janji dan ancaman kepada umum, kaum atau bangsa.
Didalam
Surat Al- Fatihah didapati ayat- ayat yang mengandung janji dan ancaman, yaitu
:
ÉOó¡Î0 «!$# Ç`»uH÷q§9$# ÉOÏm§9$# ÇÊÈ
“ Dengan menyebut nama Allah yang Maha
Pemurah lagi Maha Penyayang”
Dengan
menyebut “ Maha Pemurah” lagi “ Maha Penyayang”, Allah menjanjikan kepada
mereka yang beriman dan berbuat baik limpahan karunia dan nikmat dari Dia.
Å7Î=»tB ÏQöqt ÉúïÏe$!$# ÇÍÈ
“
Yang menguasai di hari Pembalasan”
Dihari
itu perbuatan manusia sewaktu di dunia akan dibalas. Surga untuk mereka yang
beriman dan berbuat baik, dan neraka bagi mereka yang ingkar dan berbuat salah.
Ini adalah janji dan ancaman.
$tRÏ÷d$# xÞºuÅ_Ç9$# tLìÉ)tGó¡ßJø9$# ÇÏÈ
“ Tunjukilah Kami jalan yang lurus ”
Orang
yang mengikuti jalan yang lurus itu akan bahagialah dia, dan yang menghindarkan
diri dari jalan yang lurus itu akan celakalah dia. Dengan ini dapat dipahami
adanya janji dan ancaman.
xÞºuÅÀ tûïÏ%©!$# |MôJyè÷Rr& öNÎgøn=tã Îöxî ÅUqàÒøóyJø9$# óOÎgøn=tæ wur tûüÏj9!$Ò9$# ÇÐÈ
“
(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka;
bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”.
Ada
orang- orang yang telah dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu nabi- nabi, rasul-
rasul, orang- orang shaleh dan siddiiqin orang- orang semacam ini akan diberi
pahala dan ganjaran oleh Tuhan, yaitu surga jannatunna’im dan ini adalah janji
dari Tuhan. Dalam pada itu pula orang- orang yang dimurkai oleh Allah, yaitu mereka
yang tak mau menjalani jalan yang lurus, padahal dia tahu bahwa itulah jalan
yang benar, dan ada pula orang sesat, yaitu orang yang tak mengetahui jalan
yang lurus itu atau dia mengetahuinya, tetapi dia kesasar (sesat) dalam
menempuh jalan itu. Mereka yang dimurkai Allah dan orang yang sesat itu akan
menderita hukuman dari Allah, dan ini adalah suatu anacaman.
·
Kisah-
kisah atau Cerita- cerita
Unutk
jadi contoh dan tauladan, pelajaran dan i’tibar, maka Al- Qur’anul Karim telah
menceritakan keadaan bangsa- bangsa dan kaum- kaum yang telah berlalu dan bahwa
Allah telah mengutus rasul- rasul dan nabi- nabi kepada mereka dan telah
membuat peraturan- peraturan, hukum- hukum dan syari’at untuk kebahagiaan hidup
mereka.
Diantara
mereka ada yang menerima dan ada yang menolak, dan Allah menerangkan apa akibat
dari penerimaan dan penolakan itu, untuk jadi i’tibar dan pelajaran. Lebih
kurang tiga perempat dari isi Al- Qur’anul Karim itu adalah cerita- cerita
tentang bangsa- bangsa dan umat- umat yang berlalu, serta anjuran- anjuran dari
Allah untuk mengambil i’tibar dan pelajaran dari keadaan mereka.
Didalam
surat Al- Fatihah ini keadaan bangsa- bangsa dan umat- umat yang telah berlalu
itu dibayangkan oleh Allah dalam firman- Nya :
xÞºuÅÀ tûïÏ%©!$# |MôJyè÷Rr& öNÎgøn=tã Îöxî ÅUqàÒøóyJø9$# óOÎgøn=tæ wur tûüÏj9!$Ò9$# ÇÐÈ
“
(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka;
bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”.
Dengan
keterangan yang disebutkan diatas, teranglah bahwa surat Al- Fatihah mengandung
kesimpulan isi Al- Qur’an dalam surat- surat yang berikutnya adalah uraian dari
apa yang telah disimpulkan dalam surat Al- Fatihah itu.
5.
Hikmah
Membaca Surat Al- Fatihah
Surah al-Fatihah adalah surah yang bisa dihafal
oleh setiap orang hingga anak-anak. sayang sekali jika kita tidak mengetahui
fadhilah membaca surah al-Fatihah yang bedasarkan hadits-hadits Rasulullah
Saw., karena itu disini kami ingin mencatat beberapa fadhilah membaca surah
al-Fatihah yang dapat memotivasi kita untuk selalu membacanya. Semoga
bermanfaat.
Dengan melihat hadits-hadits dalam kitab Khazinatu al-Asrar hal. 108-115, dapat disimpulkan beberapa kelebihan membaca surah
al-Fatihah, antara lain:
1. Diampuni dosa
2. Diterima
kebaikan
3. Aman dari Marah
Allah Swt.
4. Dibebaskan lidah
pembacanya dari Api neraka
5. Terlepas dari azab
kubur, azab neraka, dan azab hari kiamat
6. Berjumpa dengan
Allah Swt. sebelum para ambiya dan para Aulia
7. Orang yang membaca
al-Fatihah seolah ia telah membaca kitab taurat, injil, zabur, al-Quran, suhuf
idris As., dan suhuf Ibrahim As. tujuh kali.
8. Mendapat derajat
yang tinggi dalam surga.
9. Orang yang membaca
al-Fatihah seolah ia telah menyedekahkan emas di jalan Allah Swt.
10. Setiap satu ayat
dari al-Fatihah menjadi penutup satu pintu neraka
11. Rumah yang dibacakan
surah al-Fatihah dan surah al-Ikhlas tidak akan ditimpa kefakiran dan banyak
kebaikan.
12. Membaca surah
al-fatihah, ayat kursi, dan dua ayat dari ali Imran setiap selesai shalat akan
dibalas oleh Allah Swt. dengan surga, dipandang oleh Allah Swt. 70 kali setiap
hari, ditunaikan hajat, dimenangkan dari musuh dan pendengki.
13. Membaca al-Fatihah
dan surah al-Ikhlas sebelum tidur akan mendapatkan keamanan dari apapun kecuali
maut.
Oleh karena itu, marilah kita sering-sering membaca al-Fatihah dan
juga surah-surah lain dari al-Quran. semoga Allah memberikan kepada kita
keberhasilan hidup di Dunia dan Akhira. Amin.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Surat Al-Fatihah (pembukaan) yang terdiri atas
7 ayat ini adalah surat merupakan surat yang agung. Karena itu surat ini juga
mendapat julukan sebagai “Mahkota Tuntunan Ilahi” dalam bahasa Quraish Shihab.
Disebut dengan Al-Fatihah karena merupakan pembuka dalam Al-Qur'an. Dinamakan
juga sebagai Ummul Qur'an karena di dalamnya mencakup kandungan tema-tema pokok
semua ayat Al-Qur'an. Yang di antaranya mencakup aspek keimanan, hukum, dan
kisah.
Alasan mengapa Al-Fatihah diletakkan di awal
Al-Qur'an karena kandungan Surat ini bersifat global yang dirinci oleh
ayat-ayat lain sehingga ia bagaikan mukaddimah atau pengantar bagi kandungan
surat-surat Al-Qur'an.
Dalam tafsir Al-Misbah, Quraish Shihab
mengelompokkan kandungan surat Al-Fatihah dalam dua rangkaian, yakni
pembicaraan tentang Allah dan sifat-sifatnya dan pembicaraan tantang permohonan
yang diajarkan Allah kepada hamba-hambanya. Pembahasan tentang Allah dan
sifat-sifatnya terwakili pada ayat 1 sampai dengan 4, sedang berkaitan dengan
permohonan termaktub dalam ayat 5 sampai dengan 7.
B. Saran
Dalam hal
penyusunan makalah ini tentu tidak terlepas dari kesalahan. Ibarat kata
pepatah, tidak ada gading yang tak retak. Oleh karena itu, penyusun meminta saran dan kritik yang
membangun dari para pembaca untuk mencapai kesempurnaan makalah selanjutnya.
C. Referensi Blog Internet
1. Ghazali,
Imam. Ajaran Bahagia (terj.
Kimyaa’u As-sa’adah). Yogyakarta: Cakrawala. 2011.
2. Ilyas,
Yunahar. Kuliah Aqidah Islam.
Yogyakarta: LPPI. 2009.
3. Shihab,
Quraish. Tafsir Al-Misbah.
Ciputat: Lentera Hati. 2007.
4. WWW. Muslim. Or. Id
5.
xa.yimg.com/kq/groups/23346012/.../TAFSIR+AL+MISBAH.doc
6. http://www.ahlussunnah-jakarta.com/artikel_detil.php?id=428 Penulis:
Buletin Jum’at Al-Atsariyyah Judul: Keutamaan Surat Al-Fatihah
Posted
by Wali almadadi on - Rating: 4.5
7. Title : 13 Keutamaan Membaca Surah
al-Fatihah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar