Senin, 04 Mei 2015

Tafsir Surat Al Fatihah

MAKALAH TAFSIR QUR’AN HADITS DAN AYAT PENDIDIKAN
“ Tafsir Surat Al- Fatihah ”
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas
Mata Kuliah Tafsir Qur’an Hadits dan Ayat Pendidikan
Dosen : Drs. H. Marsudi Iman, M, Ag

Disusun Oleh :
UUN RAHMAWATI
20130720101
PAI B 2013


PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2014


Kata Pengantar

Alhamdulillahirobbil ‘alamin segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT  yang telah memberikan taufik dan hidayahnya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini, namun penulis menyadari makalah ini belum dapat dikatakan sempurna karena mungkin masih banyak kesalahan-kesalahan. Shalawat serta salam semoga selalu dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya, dan mudah-mudahan sampai kepada kita selaku umatnya.
Makalah ini penulis susun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Tafsir Qur’an Hadits dan Ayat Pendidikan, dalam makalah ini penulis membahas mengenai “ Tafsir Surat Al- Fatihah”. Dengan makalah ini penulis mengharapkan agar dapat membantu sistem pembelajaran. Penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini.
1.      Kepada Bapak Drs. H. Marsudi Iman, M, Ag selaku dosen mata kuliah Tafsir Qur’an Hadits dan Ayat Pendidikan yang telah membimbing penulis dalam menyelesaikan makalah ini.
2.      Kepada kedua orang tua yang telah memberikan motivasi baik secara riil maupun materiil sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
3.      Tidak lupa kepada teman- teman yang selalu mendukung dan membantu penulis dalam penyelesaian makalah ini.
Akhir kata, penulis mengucapkan terimakasih atas perhatiannya. Mengingat makalah ini jauh dari kata sempurna, maka penulis mengharap akan adanya kritik dan saran dari para pembaca supaya penulis bisa memperbaiki karya- karya referensi makalah selanjutnya.



Yogyakarta,   Oktober 2014



Penyusun


Daftar Isi

Kata Pengantar  ...........................................................................................................................
Daftar Isi ......................................................................................................................................
A.   BAB I PENDAHULUAN
ü  Latar Belakang ..............................................................................................
ü  Rumusan Masalah .........................................................................................
ü  Tujuan Penulisan ...........................................................................................
ü  Metode Penulisan ..........................................................................................

B.    BAB II PEMBAHASAN
1.      TAFSIR SURAT AL- FATIHAH SECARA UMUM
ü  Muqaddimah (Pembukaan)......................................................................
ü  Surat Al- Fatihah dan Terjemahnya.........................................................
ü  Esensi Surat Al- Fatihah...........................................................................
ü  Ikhtisar Surat Al- Fatihah.........................................................................
ü  Asal Makna Surat Al- Fatihah..................................................................
ü  Asbabun Nuzul Surat Al- Fatihah............................................................
ü  Nama- nama lain Surat Al- Fatihah..........................................................

2.      TAFSIR SURAT AL- FATIHAH PER AYAT
ü  Bismillahirrahmanirrahim........................................................................
ü  Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin.................................................................
ü  Arrahmaanir rohim...................................................................................
ü  Maalikiyaumiddin....................................................................................
ü  Iyyakana’ budu wa iyyakanastaqiin.........................................................
ü  Ihdinassyiratalmustaqim...........................................................................
ü  Syiraatalladzina an’amta’alaihim ghairil maghdzubi’alaihim.................

3.      KEUTAMAAN SURAT AL- FATIHAH
ü  Surat yang Amat Masyur
ü  Surat yang Paling Agung
ü  Surat Terbaik Dalam Al- Qur’an
ü  Al- Qur’an Al- Azhim
ü  Surat Ruqyah
ü  Cahaya Untuk Umat Islam
ü  Penentu Salat

4.      POKOK- POKOK AJARAN YANG TERKANDUNG DALAM SURAT AL- FATIHAH
ü  Keimanan (Aqa’id)...................................................................................
ü  Ibadat........................................................................................................
ü  Hukum- hukum dan Peraturan- peraturan................................................
ü  Janji dan Ancaman...................................................................................
ü  Kisah- kisah atau Cerita- cerita................................................................

5.      HIKMAH MEMBACA SURAT AL- FATIHAH

C.    BAB III PENUTUP
ü Kesimpulan ..............................................................................................
ü Saran ........................................................................................................
ü Referensi Blog Internet............................................................................
ü Referensi Buku.........................................................................................
  


BAB I
PENDAHULUAN

A.     LATAR BELAKANG
Surat Al-Fatihah merupakan surat yang paling mulia karena merupakan pintu gerbang pembuka dari al qur’an. Karena itu tak salah jika Quraish Shihab menyebutnya sebagai “ Mahkota Tuntunan Ilahi”. Sebagai mahkota sudah barang tentu seluruh hal-hal yang terkandung dalam surat-surat alqur’an sudah termaktub dalam kandungan ayat-ayat Al-Fatihah. 
Keagungan surat Al-Fatihah tercermin dari beberapa hadist Nabi, diantaranya yang menyatakan bahwa tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah. Kemuliaan surat ini juga menyebabkan nabi menganugrahkan sebagai “ Ummul Kitab” atau “ Ummul Qur’an”, dan tidak jarang disebut “ Sab’ul Matsani”.
Disebut sebagai Ummul Qur’an atau Ummul Kitab karena surat Al-Fatihah terdapat pada awal alqur’an dan juga bisa jadi karena kandungan ayat-ayat surat Al-Fatihah mencakup semua kandungan tema-tema pokok semua ayat-ayat al- qur’an. Dinamakan Sab’ul Matsani karena surat ini dibaca berulang-ulang dalam shalat atau diluar shalat.
Menyitir pendapat Muhammad Abduh, Quraish Shihab memaparkan bahwa surat Al-Fatihah diletakkan didepan karena menyangkut kandungannya yang bersifat global yang dirinci oleh ayat-ayat lain sehingga ia bagaikan mukaddimah atau pengantar bagi kandungan surat-surat al-qur’an.
Sejalan dengan hal tersbut, dalam tulisan Syaikh Abdul Mushin Al ‘Abbad yang diterbitkan oleh blog Muslim.Or.Id disebutkan bahwa Surat Al Fatihah mencakup ketiga macam tauhid: tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma’ wa shifat. Tauhid uluhiyah sudah ditunjukkan keberadaannya dengan firman-Nya, “Alhamdulillah” (Segala puji bagi Allah). Hal itu dikarenakan penyandaran pujian oleh para hamba terhadap Rabb mereka merupakan sebuah bentuk ibadah dan sanjungan kepada-Nya, dan itu merupakan bagian dari perbuatan mereka. Adapun tauhid rububiyah, ia juga sudah terkandung di dalam firman-Nya ta’ala, “Rabbil ‘alamin.” (Rabb seru sekalian alam). Hal itu disebabkan Allah subhanahu wa ta’ala adalah rabb bagi segala sesuatu, pencipta sekaligus penguasanya. Sedangkan tauhid asma’ wa shifat, maka sesungguhnya ayat pertama itu pun telah menyebutkan dua buah nama Allah. Kedua nama itu adalah lafzhul jalalah ‘Allah’ dan Rabb sebagaimana di dalam firman-Nya “Rabbil ‘alamin”. Pada ayat ini kata ‘rabb’ disebutkan dalam bentuk mudhaf.
Lebih lanjut mengupas tentang surat Al-Fatihah ini, penulis akan mencoba secara sederhana menggambarkan dan menganalisa surat ini berdasarkan sumber dari beberapa tafsir dan referensi lainnya.
B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana Tafsir Surat Al- Fatihah secara umum itu? Jelaskan!
2.      Bagaimana Tafsir Surat Al- Fatihah per ayat? Uraikan!
3.      Apa sajakah keutamaan dari Surat Al- Fatihah itu?
4.      Apa saja pokok- pokok ajaran yang terkandung dalam Surat Al- Fatihah itu?
5.      Bagaimana hikmah membaca Surat Al- Fatihah?

C.     TUJUAN PENULISAN

Untuk mengetahui bagaimana penjelasan tentang tafsir Surat Al- Fatihah, baik itu tafsir secara umum, tafsir per ayat, pokok- pokok ajaran yang terkandung didalamnya, dan juga keutamaan dari Surat Al- Fatihah itu sendiri serta sebagai bahan pertimbangan dosen atas tugas makalah dalam mata kuliah Tafsir Qur’an Hadits dan Ayat Pendidikan.

D.    METODE PENULISAN

Metode yang digunakan penulis dalam penyusunan makalah  ini yaitu dengan mencari sumber referensi buku seperti kitab tafsir, catatan pokok dari dosen, buku- buku panduan lainnya serta searching diinternet yang berkaitan dengan topik makalah ini.



BAB II
PEMBAHASAN

1.    Tafsir Surat Al- Fatihah Secara Umum

·        Muqaddimah (Pembukaan)
Surah ini diturunkan dua kali; pertama di Makkah; dan yang kedua di Madinah. Surah ini, dibandingkan dengan surah- surah lainnya merupakan surah yang diturunkan sekaligus secara lengkap. Dilihat dari urutan turunnya, surah ini terdapat pada urutan kelima; jika ditilik dari susunan mushaf Al- Qur’an, surah ini terdapat pada urutan pertama. Kendatipun demikian, sebagian ulama berpendapat bahwa surah yang pertama kali diturunkan ialah Al- Fatihah; bukan surah Al- ‘Alaq (Iqra’). Diantara ulama berpendapat demikian adalah Syeikh Muhammad Abduh.
Surah ini dinamakan surah Al- Fatihah karena ia sebagai surah pembuka dalam susunan mushaf Al- Qur’an. Surah ini dinamakan juga Ummul Qur’an dan Ummul Kitab karena didalamnya termuat pokok- pokok isi Al- Qur’an. Selain itu, surah ini dinamai juga dengan As- Sab’ul Matsani yang berarti tujuh ayat yang selalu diulang- ulang dalam shalat; dan disebut juga Al- Quranul ‘Azhim. Membaca surah ini dalam setiap shalat adalah wajib. Sahalat tidak sah kalau tidak dibaca surah ini. Al- Fatihah disebut juga Fatihatul Kitab yang artinya pembuka Al- Qur’an; karena susunan surah dalam Al- Qur’an dimulai dengan surah ini. Nama- nama lain dari surah Al- Fatihah ialah : Asy- Syifa’ (obat penawar) karena dengan membaca surah ini dapat menyejukkan hati dan sekaligus dapat mengobati segala penyakit yang ada didalamnya, seperti dengki, khianat, takabbur, riya’ dan syirik; Al- Waqiyah (penjaga atau pemelihara) karena dengan mengamalkan surah ini dapat membentengi seseorang dari tindakan- tindakan yang bertentangan dengan agama dan senantiasa berada dibawah naungan Allah; Al- Kafiyah (penyempurna) karena surah ini menyempurnakan atau melengkapi surah- surah lain; kandungan isinya meliputi seluruh kandungan surah lain dalam Al- Qur’an. Selanjutnya, surah ini dinamakan juga Asasul Quran (dasar atau pokok Al- Quran) karena didalamnya terdapat intisari kandungan Al- Qur’an.
Surah Al- Fatihah ini mengandung pokok- pokok isi Al- Qur’an secara global dan prinsipal yang meliputi : prinsip tauhid, ibadah, akhlak, dan muamalah. Keempat prinsip ini kemudian dijabarkan dalam surah- surah lain. Dan kehidupan orang beriman didasarkan pada prinsip- prinsip ini. Karena itu, dalam setiap shalat orang beriman memohon kepada Allah agar diberikan hidayah untuk mengikuti pola kehidupan yang benar dan lurus. Muhammad Abduh menyebutkan bahwa surah Al- Fatihah mengandung pokok- pokok ajaran mengenai tauhid, wa’ad (janji baik) dan wa’id (ancaman), ibadah, kebahagiaan hidup, dan kisah- kisah.
·        Surat Al- Fatihah dan Terjemahnya
ÉOó¡Î0 «!$# Ç`»uH÷q§9$# ÉOŠÏm§9$# ÇÊÈ   ßôJysø9$# ¬! Å_Uu šúüÏJn=»yèø9$# ÇËÈ   Ç`»uH÷q§9$# ÉOŠÏm§9$# ÇÌÈ   Å7Î=»tB ÏQöqtƒ ÉúïÏe$!$# ÇÍÈ   x$­ƒÎ) ßç7÷ètR y$­ƒÎ)ur ÚúüÏètGó¡nS ÇÎÈ   $tRÏ÷d$# xÞºuŽÅ_Ç9$# tLìÉ)tGó¡ßJø9$# ÇÏÈ   xÞºuŽÅÀ tûïÏ%©!$# |MôJyè÷Rr& öNÎgøn=tã ÎŽöxî ÅUqàÒøóyJø9$# óOÎgøn=tæ Ÿwur tûüÏj9!$žÒ9$# ÇÐÈ  
1. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang [1]
2. Segala puji [2] bagi Allah, Tuhan semesta alam [3]
3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
4. Yang menguasai [4] di hari Pembalasan [5]
5. Hanya Engkaulah yang Kami sembah [6], dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan [7]
6. Tunjukilah [8] Kami jalan yang lurus
7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat [9]
* Esensi Surat Al- Fatihah
[1] Maksudnya: saya memulai membaca al-Fatihah ini dengan menyebut nama Allah. Setiap pekerjaan yang baik, hendaknya dimulai dengan menyebut asma Allah, seperti makan, minum, menyembelih hewan dan sebagainya. Allah ialah nama zat yang Maha Suci, yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya, yang tidak membutuhkan makhluk-Nya, tapi makhluk yang membutuhkan-Nya. Ar Rahmaan (Maha Pemurah): salah satu nama Allah yang memberi pengertian bahwa Allah melimpahkan karunia-Nya kepada makhluk-Nya, sedang Ar Rahiim (Maha Penyayang) memberi pengertian bahwa Allah Senantiasa bersifat rahmah yang menyebabkan Dia selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya.
[2] Alhamdu (segala puji). memuji orang adalah karena perbuatannya yang baik yang dikerjakannya dengan kemauan sendiri. Maka memuji Allah berrati: menyanjung-Nya karena perbuatannya yang baik. lain halnya dengan syukur yang berarti: mengakui keutamaan seseorang terhadap nikmat yang diberikannya. kita menghadapkan segala puji bagi Allah ialah karena Allah sumber dari segala kebaikan yang patut dipuji.
[3] Rabb (tuhan) berarti: Tuhan yang ditaati yang Memiliki, mendidik dan Memelihara. Lafal Rabb tidak dapat dipakai selain untuk Tuhan, kecuali kalau ada sambungannya, seperti rabbul bait (tuan rumah). 'Alamiin (semesta alam): semua yang diciptakan Tuhan yang terdiri dari berbagai jenis dan macam, seperti: alam manusia, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati dan sebagainya. Allah Pencipta semua alam-alam itu.
[4] Maalik (yang menguasai) dengan memanjangkan mim,ia berarti: pemilik. dapat pula dibaca dengan Malik (dengan memendekkan mim), artinya: Raja.
[5] Yaumiddin (hari Pembalasan): hari yang diwaktu itu masing-masing manusia menerima pembalasan amalannya yang baik maupun yang buruk. Yaumiddin disebut juga yaumulqiyaamah, yaumulhisaab, yaumuljazaa' dan sebagainya.
[6] Na'budu diambil dari kata 'ibaadat: kepatuhan dan ketundukkan yang ditimbulkan oleh perasaan terhadap kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang disembah, karena berkeyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya.
[7] Nasta'iin (minta pertolongan), terambil dari kata isti'aanah: mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri.
[8] Ihdina (tunjukilah kami), dari kata hidayaat: memberi petunjuk ke suatu jalan yang benar. yang dimaksud dengan ayat ini bukan sekedar memberi hidayah saja, tetapi juga memberi taufik.
[9] Yang dimaksud dengan mereka yang dimurkai dan mereka yang sesat ialah semua golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.

·        Ikhtisar Surat Al- Fatihah
1.      Surah ini menegaskan bahwa dengan sifat Rahman (Pemurah) Allah memberikan penghidupan kepada seluruh makhluk- Nya. Dan dengan sifat Rahim (Penyayang) Allah memberikan kasih sayang- Nya yang istimewa kepada orang- orang yang beriman dan taat kepada perintah- Nya.
2.      Allah menjelaskan bahwa segala puja dan puji hanya milik- Nya. Makhluk tidak berhak dipuji dan dipuja. Pemujaan kepada selain- Nya berarti keluar dari jalur yang telah ditentukan-Nya; bahkan mengarah kepada syirik.
3.      Kerajaan dan kekuasaan di Hari Kiamat nanti hanya kepunyaan- Nya. Dialah Raja satu- satunya, tidak ada seorang pun yang lain yang berkuasa pada hari itu. Segala kerajaan dan kekuasaan yang pernah diberikan kepada manusia sirna. Semua manusia mengharapkan kasih sayang dari- Nya dan tunduk hanya kepada- Nya.
4.      Ibadah atau penyembahan hanya untuk Allah. Demikian juga segala permohonan hanya dituju kepada- Nya. Hanya Allah yang mampu menolong para hamba- Nya. Permohonan kepada selain- Nya adalah bertentangan dengan kehendak- Nya; karena Dialah yang berhak dimintai segala sesuatu, dan Dia pula yang berhak menerima atau menolak suatu permohonan.
5.      Allah memberikan hidayah (bimbingan atau petunjuk) kepada siapa saja yang dikehendaki- Nya. Orang yang tidak memperoleh hidayah akan tersesat dijalan. Karena itu, orang beriman sekurang- kurangnya dalam sehari semalam 17 kali memohon hidayah dari- Nya agar ditunjuki ke jalan yang lurus dan benar. Jalan yang lurus dan benar adalah jalan iman dan Islam; atau tauhid.
6.      Jalan benar dan lurus adalah jalan yang pernah ditempuh oleh orang- orang yang diberikan kenikmatan dan kebahagiaan hidup oleh Allah SWT yaitu para Rasul, Syuhada’, Shiddiqin, dan Shalihin. Bukan jalan orang- orang Yahudi dan Nasrani. Orang- orang Yahudi telah dimurkai oleh Allah; sedangkan orang- orang Nasrani termasuk golongan orang- orang yang sesat dan menyesatkan.

·        Asal Makna Al- Fatihah
Yaitu permulaan sesuatu yang dengannya sesuatu itu dibuka. Kemudian digunakan untuk permulaan segala sesuatu, termasuk perkataan. Fungsi ta’ adalah untuk transformasi dari sifat menjadi ism (sebutan), karena itulah surah ini dinamai“ Faatihatul Kitab” (pembuka Al- Kitab) karena Al- Kitab (yakni Al- Qur’an) dibuka dengannya, sebab Al- Fatihah adalah yang pertama kali ditulis dalam Mushaf dan yang pertama kali dibaca dari Al- Kitab yang mulia, walaupun bukan yang pertama kali diturunkan dari Al- Qur’an. Surah yang mulia ini sudah dikenal dengan nama itu sejak masa kenabian.
·         Asbabun Nuzul
Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa Rasulullah SAW apabila mendengar suara panggilan: “Hai Muhammad”, maka begitu beliau mendengarnya beliau terus lari; kemudian Waraqah bin Naufal menasehati beliau: “Apabila engkau mendengar suara panggilan, maka tetaplah hatimu sampai sampai engkau mendengar apa yang dia uacapkan kepadamu, “ Maka tatkala mendengar suara panggilan: “Hai Muhammad”, jawablah: Labbaik ( Ya ), dan ucapkanlah: Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah; kemudian bacalah: Al- Hamdulillahi rabbil ‘aalamiin, ar- rahmaanirrahiim, maaliki yaumiddiin sampai akhir surah Al- Fatihah (Riwayat Abu Ishaq dan Abu Maisarah dari Ali bin Abi Thalib).
Selanjutnya, Ali bin Abi Thalib meriwayatkan bahwa “ surah Al- Fatihah diturunkan di Makkah dan surah ini merupakan perbendaharaan dari bawah ‘Arasy’. Abu Shalih dari Ibnu Abbas berkata: “ Ketika Nabi SAW berada di Makkah, beliau membaca: Bismillahirrahmanirrahiim: al- hamdulillahi rabbil ‘aalamiin, “ maka orang Quraisy berkata: “ Semoga Allah menghancurkan mulutmu. “ Hasan dan Qatadah cenderung kepada riwayat ini. Namun, menurut Mujahid, surah Al- Fatihah diturunkan di Madinah.
Menurut riwayat Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda: Ubai bin Ka’ab membaca Ummul Qur’an kepada beliau, maka beliau bersabda: “ Demi Allah yang jiwaku ada ditangan- Nya, surah Al- Fatihah ini tidak ada tandingannya baik dalam Taurat, Injil maupun Zabur; bahkan tidak ada tandingannya dengan surah- surah lain dalam Al- Qur’an. Sesungguhnya surah ini adalah As- Sab’ul Matsani dan Al- Quranul ‘Azhim yang aku terima dari- Nya.
·         Nama- nama lain Surah Al- Fatihah
1.      Surat Al- Fatihah
Kata “Al- Fatihah” itu terambil dari kata “ fataha” yang berarti “ membuka” atau “memulai”, dan Al- Fatihah disini berarti “pembukaan” atau “permulaan”. Surah ini dinamai “Al- Fatihah” karena dengan surat inilah dibuka Al- Qur’anul Karim, artinya dengan surat inilah dimulai tertib urut susunan surat- surat Al- Qur’an. Meletakkannya dipermulaan Al- Qur’an adalah dengan perintah dari Nabi Muhammad SAW sendiri (tauqifi).
2.      Ummul Al- Qur’an atau Ummul Kitab
Disamping nama “Al- Fatihah“ maka surat ini juga dinamai “Ummul Qur’an“ (Induk Al- Qur’an) atau “Ummul Kitab” (Induk Al- Kitab). Surat Al- Fatihah ini dinamai “Ummul Qur’an” atau “Ummul Kitab”, karena dia merupakan induk, pokok, atau basis bagi Al- Qur’an seluruhnya, dengan arti bahwa surat Al- Fatihah ini mengandung pokok- pokok isi Al- Qur’an.
3.      As Sab’ul Masani
Surat Al- Fatihah ini juga dinamai “As Sab’ul Masani” (tujuh yang berulang- ulang). Dinamai demikian, karena ayatnya berjumlah tujuh ayat dan dibaca berulang- ulang dalam shalat.
2.      Tafsir Surat Al- Fatihah per Ayat
ÉOó¡Î0 «!$# Ç`»uH÷q§9$# ÉOŠÏm§9$# ÇÊÈ  
“ Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.
“Dengan menyebut nama Allah” maksudnya : “Dengan menyebut nama Allah saya baca atau saya mulai”. Seakan- akan Nabi berkata: “Saya baca surat ini dengan menyebut nama Allah, bukan dengan menyebut nama saya sendiri, sebab dia wahyu dari Tuhan, bukan dari saya sendiri. Maka Basmallah disini mengandung arti bahwa Al- Qur’anul Karim itu wahyu dari Allah, bukan karangan Muhammad SAW dan Muhammad itu hanyalah seorang Pesuruh Allah yang dapat perintah menyampaikan Al- Qur’an kepada manusia.
Di dalam Al- Qur’an ada 114 surat, semuanya dimulai dengan “Basmallah” kecuali surat At Taubah. Surat At- Taubah ini tidak dimulai dengan “Basmallah” karena memang tidak serasi kalau dimulai dengan “Basmallah”. Disamping pada permulaannya, “Basmallah” ada disebutkan satu kali pada pertengahan surat An- Naml ayat 30, dengan demikian “Basmallah” itu didapati didalam Al- Qur’an 114 kali.
Ada beberapa pendapat ulama berkenaan dengan “Basmallah” yang terdapat pada permulaan sesuatu surat. Diantara pendapat- pendapat itu yang termasyur adalah :
1.      “Basmallah” itu adalah suatu surat yang tersendiri, diturunkan Allah untuk jadi kepala masing- masing surat, dan pembatas antara surat dengan surat yang lain. Jadi dia bukanlah satu ayat dari Al- Fatihah atau dari sesuatu yang lain, yang dimulai dengan Basmallah itu. Ini adalah pendapat Imam Malik beserta ahli qiraah dan Fuqaha Madinah, Basrah dan Syam, dan juga pendapat Imam Abu Hanifah dan pengikut- pengikutnya. Sebab itu menurut Imam Abu Hanifah “Basmallah” itu tidak dikeraskan membacanya dalam shalat bahkan Imam Malik tidak membaca Basmallah sama sekali.
2.      “Basmallah” adalah salah satu ayat dari Al- Fatihah, dan dari sesuatu surat yang lain, yang dimulai dengan “Basmallah”. Ini adalah pendapat Imam Syafi’i beserta ahli qira’ah Mekah dan Kufah. Sebab itu menurut mereka “Basmallah” itu dibaca dengan suara keras dalam shalat (Jahar).
Kalau kita perhatikan bahwa sahabat- sahabat Rasulullah SAW telah sependapat menuliskan “Basmallah” pada permulaan sesuatu surat dari surat- surat Al- Qur’anul Karim itu, kecuali surat At Taubah (karena memang dari semula turunnya tidak dimulai dengan Basmallah) dan bahwa Rasulullah SAW melarang menuliskan sesuatu yang bukan Al- Qur’an supaya tidak bercampur aduk dengan Al- Qur’an. Sebab itu oleh mereka tidak dituliskan “amin” di akhir surat Al- Fatihah. Basmallah itu adalah salah satu ayat dari Al- Qur’an atau dengan perkataan lain bahwa “basmallah basmallah” yang terdapat didalam Al- Qur’an itu adalah ayat- ayat Al- Qur’an, lepas dari pendapat apakah satu ayat dari Al- Fatihah atau dari sesuatu surat yang lain, yang dimulai dengan Basmallah atau tidak.
            Sebagai disebutkan diatas surat Al- Fatihah itu terdiri dari tujuh ayat. Mereka yang berpendapat bahwa Basmallah itu tidak termasuk satu ayat dari Al Fatihah, memandang :
  ÎŽöxî ÅUqàÒøóyJø9$# óOÎgøn=tæ Ÿwur tûüÏj9!$žÒ9$# ÇÐÈ  
Adalah salah satu ayat, dengan demikian ayat- ayat Al- Fatihah itu tetap tujuh.
·         Pemakaian kata “ Allah ”
“Allah” nama bagi Zat Yang ada dengan sendiri- Nya (wajibul wujud). Kata “Allah”  itu hanya dipakai oleh bangsa Arab kepada Tuhan yang sebenarnya, yang berhak disembah, yang mempunyai sifat- sifat kesempurnaan. Mereka tidak memakai kata itu untuk tuhan- tuhan atau dewa- dewa mereka yang lain.
Kata “Ar Rahman” terambil dari “Ar Rahman” yang berarti: “belas kasihan”, yaitu suatu sifat yang menimbulkan perbuatan memberi nikmat dan karunia. Jadi kata Ar Rahman itu ialah: Yang berbuat (memberi) nikmat dan karunia yang banyak. Kata “Ar Rahman” juga terambil dari “Ar Rahmah”, dan arti “Rahim” ialah: “Orang yang mempunyai sifat belas kasihan, dan sifat itu “tetap” padanya selama- lamanya.
Maka Ar Rahman Rahim itu maksudnya: “Tuhan itu telah memberi nikmat yang banyak dengan murah-Nya dan telah melimpahkan karunia yang tidak terhingga, karena Dia adalah bersifat belas kasihan kepada makhluk- Nya, dan oleh karena sifat belas kasihan ini adalah suatu sifat yang tetap pada- Nya maka nikmat dan karunia Allah itu tidak ada putus- putusnya. Dengan demikian maka kata- kata “Ar Rahman” dan “Ar Rahim” itu kedua- duanya adalah diperlakukan dalam susunan ini, karena masing- masing mempunyai arti yang khusus. Tegasnya bila seseorang Arab mendengar orang mensifati Allah dengan Ar Rahman, maka terpahamlah olehnya bahwa Allah itu telah melimpahkan nikmat dan karunia- Nya dengan banyak dan berlimpah- limpah. Tetapi bahwa limpahan nikmat dan karunia yang banyak itu tetap, tidak putus- putus, tidak dapat dipahami dari lafadz Ar Rahman itu saja. Karena itu perlu lah diikuti dengan Ar Rahim, supaya orang dapat mengambil pengertian bahwa limpahan nikmat dan karunia serta kemurahan Allah itu tidak ada putus- putusnya.
·         Hikmah Membaca Basmallah
Seorang Muslim disuruh membaca basmallah di waktu mengerjakan sesuatu pekerjaan yang baik. Yang demikian itu untuk mengingatkan bahwa pekerjaan itu dikerjakannya adalah karena suruhan Allah, atau karena telah diizinkan- Nya. Maka karena Allah-lah dia mengerjakan pekerjaan itu dan kepada Nya dia meminta pertolongan supaya pekerjaan itu terlaksana dengan baik dan berhasil.
Orang Arab sebelum datang Islam mengerjakan sesuatu pekerjaan adalah dengan menyebut Al Lata dan Al Uzza, yaitu nama- nama berhala mereka. Sebab itu Allah SWT mengajarkan kepada penganut- penganut agama Islam yang telah meng- Esa-kan Nya, supaya mereka mengerjakan dengan menyebut nama Allah. Pada ayat diatas, Allah SWT memulai firman- Nya dengan menyebut “basmallah” untuk mengajarkan kepada hamba- Nya agar memulai sesuatu perbuatan yang baik dengan menyebut basmallah itu, sebagai pernyataan bahwa dia mengerjakan perbuatan itu karena Allah dan kepada Nyalah dia memohonkan pertolongan dan berkat. Maka pada ayat ini Allah SWT mengajarkan kepada hamba- Nya agar selalu memuji Allah.
ßôJysø9$# ¬! Å_Uu šúüÏJn=»yèø9$# ÇËÈ  
          "Segala puji hanya bagi Allah pemelihara seluruh alam."

Lafazd حمد yang yang didahului huruf alif dan lam dalam kaidah arabiah dinamai al-istighraq  yang berarti mencakup segala sesuatu. Karena itu, kalimat alhamdulillah sering diterjemahkan dengan segala puji bagi Allah.  
Hamdu atau pujian adalah ucapan yang ditujukan kepada yang dipuji atas sikap atau perbuatannya yang baik walaupun ia tidak memberi sesuatu kepada yang memuji.
Sementara dalam kalimat الحمد لله, huruf lam yang mengikuti kata lafdzul jalalah mengindikasikan arti pengkhususan bagi-Nya. Dengan demikian segala pujian hanya wajar dipersembahkan kepada Allah SWT.
·         Dalam hal Memuji ini, yaitu menyampaikan hal- hal yang baik terkait pihak lain meskipun kita belum mendapatkan kenikmatan terhadap orang yang dipuji. Segala puji hanya bagi Allah SWT yang meliputi :
a.       Asma’ (nama- Nya) yaitu pada Asmaul Husna
b.      Af’al (perbuatan- Nya)
c.       Mahluquh (ciptaan- Nya)
·         Selain memuji, juga ada kaitannya dengan bersyukur. Bersyukur ini yaitu menyampaikan rasa kesyukuran pada pihak lain karena telah mendapatkan kenikmatan atau manfaat atas atau pada pihak orang yang kita syukuri. Bersyukur harus titik, tidak boleh koma, jika masih koma berarti belum sempurna bersyukur.
·         Kata kunci dari Rabbi yaitu Robbun yang mengandung Tuhid Rubbubiyah. Tauhid ini meliputi bahwa Allah yang telah :
a.       Menghidupkan atau menciptakan
b.      Menumbuhkan
c.       Mengembangkan
d.      Memberi Rizki
e.       Mendidik
Pada dasarnya Allah itu pendidik manusia, hanya saja tidak secara langsung. Allah mendidik lewat Nabi dan Rasul yaitu Kitab Suci. Jika Nabi dan Rasul sudah tidak ada maka dilanjutkan oleh ‘Ulama. Selanjutnya jika ‘Uama tidak ada, maka dilanjutkan oleh manusia.
Kalimat Robbul 'aalamin, merupakan keterangan lebih lanjut tentang layaknya segala pujian hanya diperuntukkan kepada Allah. Betapa tidak, Dia adalah Robb dari seluruh alam. Dengan ada penegasan bahwa Allah adalah Rabbul A’lamin membuat manusia menjadi tenang sebab segala sesuatu kebutuhan manusia telah dipersiapkan Allah.
Al ‘alamiin mengandung arti yaitu alam- alam selain bumi. Yaitu dapat dibedakan atas Biotik dan Abiotik. Biotik meliputi manusia, hewan, tumbuhan, jin, malaikat. Sedangkan Abiotik meliputi tanah, batu, kayu, air dan udara.
Ç`»uH÷q§9$# ÉOŠÏm§9$# ÇÌÈ  
            "Ar-Rahman Ar-Rahim."
Pemeliharaan tidak dapat terlaksana dengan baik dan sempurna kecuali bila disertai dengan rahmat dan kasih sayang. Oleh karena itu, ayat ini sebagai penegasan dari sifat Allah yang rabbul’alamin. Pemeliharaan-Nya terhadap seluruh alam itu bukan atas dasar kesewenangan-wenangan semata, tetapi diliputi oleh rahmat dan kasih sayang.
Penekanannya pada Tauhid Rubbubiyah yaitu Allah yang menciptakan seluruh alam, Allah yang Maha Mendidik, Memberi Rizki, memiliki sifat Penyayang. Sedangkan implikasi dalam pendidikan yaitu seorang guru harus berkarakter kasih sayang.
Dengan disebutkan sifat Ar-Rahman Ar-Rahim memberi kesan bahwa keabsolutan Allah bergabung dengan kesan rahmat dan kasih sayang. Ini mengantarkan pada keyakinan bahwa Allah Maha Agung lagi Maha Indah, Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.
Å7Î=»tB ÏQöqtƒ ÉúïÏe$!$# ÇÍÈ  
          "Pemilik hari pembalasan."
Allah Swt yang merajai, menguasai, memiliki hari pembalasan. Dibagi menjadi dua yaitu Dhahir (Yaumul Akhir) dan Bathin (Langsung) saat dan atau sesudah manusia melakukansesuatu (Al- Biqa’i).
Allah Swt menguasai hari pembalasan secara absolut. Manusia mendapatkan musibah sebab perbuatan manusia. Musibah dibagi menjadi dua yaitu Azab dan Cobaan atau Ujian. Karakteristik balasan di dunia : a) bisa salah sasaran  b) Siksa/ nikmat kolektif individual
Sedangkan karakteristik balasan di akhirat : a) Pasti tepat sasaran  b) Balasan individual
Sifat ketuhanan tidak dapat dilepaskan dari kepemilikan dan kakuasaan. Karena itu kapemilikan dan kakuasaan yang dimaksud perlu ditegaskan. Maka Yaumuddin merupakan penegasan dari kepemilikan dan kekuasaan Allah. Keyakinan tentang adanya hari pembalasan memberi arti bagi hidup ini. Tanpa keyakinan itu, semua akan diukur disini dan sekarang yakni di dunia. Padahal banyak nilai-nilai yang tidak bisa diukur dengan disini dan sekarang. Adanya hari pembalasan juga memberikan ketenangan terhadap manusia, sebab Allah sebagai pemilik dan penguasa tunggal akan membalaskan setiap perbuatan. 
x$­ƒÎ) ßç7÷ètR y$­ƒÎ)ur ÚúüÏètGó¡nS ÇÎÈ  
" Hanya kepada-Mu kami mengabdi dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan."
Kalimat "Hanya kepada-Mu kami mengabdi dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan", adalah bukti bahwa kalimat-kalimat tersebut adalah pengajaran. Allah mengajarkan ini kepada kita agar kita ucapkan, karena mustahil Allah yang Maha Kuasa itu berucap demikian, bila bukan untuk pengajaran.
Iyyaka dan na'budu juga merupakan pengecaman terhadap mereka yang mempertuhan atau menyembah selain Allah, baik masyarakat Arab ketika itu maupun selainnya. Penggalan ayat mengecam mereka semua dan mengumandangkan bahwa Allah-lah yang patut disembah dan tidak ada sesembahan yang lain.
Sementara dalam kalimat Iyyaka nastain mengandung arti bahwa kepada selain Allah manusia tidak memohon pertolongan. Meski Allah menjadi sandaran untuk memohon pertolongan, bukan berarti tidak ada upaya dengan berlepas tangan sama sekali. Tetapi Kita masih dituntut untuk berperan, sedikit atau banyak, sesuai dengan kondisi yang dihadapi.
Mendahulukan na’budu daripada nasta’in menunjukkan bahwa manusia harus lebih dulu menghambakan diri atau mendekatkan diri kepada Allah sebelum mereka meminta pertolongan. Na’budu yaitu mengabdi, menghamba, menyembah dibagi atas ibadah mahdhah seperti salat, puasa, haji dan al ‘amun seperti bekerja dan belajar. Semua itu harus dilakukan secara ikhlas tanpa paksaan.
 Indikator ikhlas :
a.       Ikhlas niatnya mencari ridho Allah Swt
b.      Profesional kerja
c.       Pemanfaatan hasil dijalan- Nya
Sedangkan Nasta’iin artinya hanya kepada- Mu kami memohon pertolongan. Mengandung arti bahwa melakukan kewajiban baru meminta haknya. Caranya melalui Addu’a seperti doa, amal shaleh, asmaul husna.
$tRÏ÷d$# xÞºuŽÅ_Ç9$# tLìÉ)tGó¡ßJø9$# ÇÏÈ  
          "Bimbing (antar)lah Kami (memasuki) jalan lebar dan luas."
Setelah mempersembahkan puja puji kepada Allah dan mengakui kekuasaan dan kepemilikan-Nya, ayat selanjut ini merupakan pernyataan tentang ketulusan-Nya beribadah serta kebutuhannya kepada pertolongan Allah. Maka dengan ayat ini sang hamba mengajukan permohonan kepada Allah, yakni bimbing dan antarkanlah Kami memasuki jalan yang lebar dan luas.
Pada pembahasan ini juga menyangkut tentang Hidayah. Hidayah dibagi menjadi dua yaitu ilmu dan ‘amal. Sebelum manusia mendapat hidayah pastinya ada yang namanya hambatan hidup. Hambatan hidup itu sendiri ada yang internal (dari diri sendiri) dan eksternal (pengaruh bacaan, alat komunikasi, serta pengaruh teman).
Hidayah itu harus sampai ke amal. Perspektif hidayah dalam kehidupan yaitu :
a.       Kognitif ( knowledge, analisis, comprehension)
b.      Afektif ( caracterization)
c.       Psikomotorik ( praktek)
Shiroth di sini bagaikan jalan tol yang lurus dan tanpa hambatan, semua yang telah memasukinya tidak dapat keluar kecuali setelah tiba di tempat tujuan. Shiroth adalah jalan yang lurus, semua orang dapat melaluinya tanpa berdesak-desakan. Sehingga shiroth menjadi jalan utama untuk sampai kepada tujuan utama umat manusia, yaitu keridloan Allah dalam setiap tingkah laku.
xÞºuŽÅÀ tûïÏ%©!$# |MôJyè÷Rr& öNÎgøn=tã ÎŽöxî ÅUqàÒøóyJø9$# óOÎgøn=tæ Ÿwur tûüÏj9!$žÒ9$# ÇÐÈ  
          "(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahi nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula   jalan) orang-orang- orang sesat."
Kata nikmat yang dimaksud di sini adalah nikmat yang paling bernilai yang tanpa nikmat itu nikmat-nikmat yang lain tidak akan mempunyai nilai yang berarti, bahkan dapat menjadi niqmah atau bencana jika tidak bisa mensyukuri dan menggunakannya dengan benar.
Nikmat tersebut adalah nikmat memperoleh hidayah Allah serta ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka yang taat melaksanakan pesan-pesan Ilahi yang merupakan nikmat terbesar itu, mereka itulah yang masuk dan bisa melalui shiroth al-mustaqim.
Ada empat kelompok yang mendapatkan nikmat khusus dari Allah SWT, yaitu nikmat keagamaan dan jalan kelompok-kelompok tersebut yang dimohon untuk ditelusuri. Mereka adalah :
1.    Para nabi yaitu mereka yang dipilih Allah untuk memperoleh bimbingan sekaligus ditugasi untuk menuntun manusia ke jalan Ilahi.
2.    Para shiddiqin yaitu orang-orang dengan pengertian apapun selalu benar dan jujur. Mereka tidak ternoda oleh kebatilan dan tidak pernah bersikap yang bertentangan dengan kebenaran.
3.    Para syuhada’ yaitu orang yang senantiasa bersaksi atas kebenaran dan kebajikan melalui ucapan dan tindakan mereka walau harus mengorbankan nyawa sekalipun.
4.    Orang-orang shaleh yakni yang tangguh dalam kebajikan dan selalu berusaha untuk mewujudkannya.   
Penggalan ayat ghair il-maghdhub 'alaihim tidak menjelaskan siapakah orang-orang tersebut, tetapi dalam beberapa hal rasulullah telah memberi contoh konkret, yaitu orang-orang Yahudi yang mengerti akan kebenaran tetapi enggan melaksanakannya. Hal yang wajar jika murka ini disandarkan kepada orang-orang yahudi (meski bukan keseluruhan) sebab dalam al-qur’an sebanyak dua belas kali disebutkan tentang pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh orang-orang yahudi.
Sementara adh-dhalin, yang berarti sesat, kehilangan jalan, bingung, tidak mengetahui arah, banyak dinisbahkan kepada orang-orang nasrani. Namun secara umum dapat diberi makna bahwa adh-dholin adalah bentuk tindakan atau ucapan yang tidak menyentuh pada kebenaran.

3.      Keutamaan Surat Al-Fatihah


Telah dikenal oleh seluruh kaum muslimin. Saking terkenalnya, terkadang sebagian kaum muslimin menyalahgunakannya, seperti membacanya untuk orang mati saat ziarah kubur, atau mengirimkan pahalanya kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, Syaikh Abdul Qodir Al-Jailaniy, dan orang-orang yang telah mati. Semua ini tak ada contohnya dari Allah dan Rasul-Nya.
Surat Al-Fatihah amat masyhur, namun banyak di antara kita tak mengetahui fadhilah, dan keutamaannya. Padahal banyak sekali hadits-hadits yang menunjukkan keutamaannya, baik dari sisi kandungan atau kedudukannya di sisi Allah -Azza wa Jalla-. Diantara fadhilah dan keutamaan Surat Al-Fatihah:
·         Surat yang Paling Agung
Orang yang membaca Al-Fatihah akan mendapatkan balasan pahala yang besar di sisi Allah. Terlebih lagi jika ia membacanya dengan ikhlash, dan mentadabburi maknanya.
Abu Sa’id bin Al-Mu’allaa -radhiyallahu ‘anhu- berkata,
 “Dulu aku pernah sholat. Lalu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- memanggilku. Namun aku tak memenuhi panggilan beliau. Aku katakan, “Wahai Rasulullah, tadi aku sholat“. Beliau bersabda, “Bukankah Allah berfirman, “Penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu“. (QS. Al-Anfaal: 24).
Kemudian beliau bersabda, “Maukah engkau kuajarkan surat yang paling agung dalam Al-Qur’an sebelum engkau keluar dari masjid”?. Beliau pun memegang tanganku. Tatkala kami hendak keluar, maka aku katakan, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya tadi Anda bersabda, “Aku akan ajarkan kepadamu Surat yang paling agung dalam Al-Qur’an”. Beliau bersabda, “Alhamdulillahi Robbil alamin. Dia ( Surat Al-Fatihah) adalah tujuh ayat yang berulang-ulang, dan Al-Qur’an Al-Azhim yang diberikan kepadaku”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (4720), Abu Dawud dalam Sunan-nya (1458), dan An-Nasa’iy dalam Sunan-nya (913)]
Al-Imam Ibnu At-Tiin-rahimahullah- berkata saat menjelaskan makna hadits di atas, “Maknanya, bahwa pahalanya lebih agung (lebih besar) dibandingkan surat lainnya”. [Lihat Fathul Bari(8/158) karya Ibnu Hajar Al-Asqolaniy]
Surat Al-Fatihah merupakan surat terbaik, karena ia mengandung tauhid, ittiba’ (mengikuti) Sunnah, adab berdo’a, al-wala’ wal baro’, keimanan terhadap perkara gaib, dan lainnya.
Ibnu Jabir-radhiyallahu ‘anhu- berkata,
 “Aku tiba kepada Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- , sedang beliau mengalirkan air. Aku berkata, “Assalamu alaika, wahai Rasulullah”. Maka beliau tak menjawab salamku (sebanyak 3 X). Kemudian Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- berjalan, sedang aku berada di belakangnya sampai beliau masuk ke kemahnya, dan aku masuk ke masjid sambil duduk dalam keadaan bersedih. Maka keluarlah Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- menemuiku, sedang beliau telah bersuci seraya bersabda, “Alaikas salam wa rahmatullah (3 kali)”. Kemudian beliau bersabda, “Wahai Abdullah bin Jabir, maukah kukabarkan kepadamu tentang sebaik-baik surat di dalam Al-Qur’an”. Aku katakan, “Mau ya Rasulullah”. Beliau bersabda, “Bacalah surat Alhamdulillahi Robbil alamin (yakni, Surat Al-Fatihah) sampai engkau menyelesaikannya“. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (4/177). Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Arna’uth dalam Takhrij Al-Musnad (no. 17633)]
·         Al – Fatihah adalah Al – Qur’an Al – Azhim
Surat Al-Fatihah dinamai oleh Allah dengan “Al-Qur’an Al-Azhim”, padahal Al-Qur’an Al-Azim bukan hanya Al-Fatihah, masih ada surat-surat lainnya yang berjumlah 11 3. Namun Allah -Azza wa Jalla- menamainya demikian karena kandungan Al-Fatihah meliputi segala perkara yang dikandung oleh Al-Qur’an Al-Azhim secara global. Wallahu A’lam bish showab.
Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
Ummul Qur’an (yakni, Al-Fatihah) adalah tujuh ayat yang berulang-ulang, dan Al-Qur’an Al-Azhim“. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (4427), Abu Dawud dalam Sunan-nya (1457), dan At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (3124)]
·         Surat Ruqyah
Al-Qur’an seluruhnya bisa digunakan dalam meruqyah. Namun secara khusus Al-Fatihah pernah dipergunakan oleh para sahabat dalam meruqyah sebagian orang yang tergigit kalajengking. Dengan berkat pertolongan Allah, orang yang digigit kalajengking tersebut sembuh kala itu juga.
Sekarang kita dengarkan kisahnya dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudriy -radhiyallahu ‘anhu- ketika beliau berkata,
 Ada beberapa orang dari kalangan sahabat Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah berangkat dalam suatu perjalanan yang mereka lakukan sampai mereka singgah pada suatu perkampungan Arab. Mereka pun meminta jamuan kepada mereka. Tapi mereka enggan untuk menjamu mereka (para sahabat). Akhirnya, pemimpin suku itu digigit kalajengking. Mereka (orang-orang kampung itu) telah mengusahakan segala sesuatu untuknya. Namun semua itu tidak bermanfaat baginya. Sebagian diantara mereka berkata, “Bagaimana kalau kalian mendatangi rombongan (para sahabat) yang telah singgah. Barangkali ada sesuatu (yakni, obat) diantara mereka”.Orang-orang itu pun mendatangi para sahabat seraya berkata, “Wahai para rombongan, sesungguhnya pemimpin kami tersengat, dan kami telah melakukan segala usaha, tapi tidak memberikan manfaat kepadanya. Apakah ada sesuatu (obat) pada seorang diantara kalian?” Sebagian sahabat berkata, “Ya, ada. Demi Allah, sesungguhnya aku bisa me-ruqyah. Tapi demi Allah, kami telah meminta jamuan kepada kalian, namun kalian tak mau menjamu kami. Maka aku pun tak mau me-ruqyah kalian sampai kalian mau memberikan gaji kepada kami”. Merekapun menyetujui para sahabat dengan gaji berupa beberapa ekor kambing. Lalu seorang sahabat pergi (untuk me-ruqyah mereka) sambil memercikkan ludahnya kepada pimpinan suku tersebut, dan membaca, “Alhamdulillah Robbil alamin (yakni, Al-Fatihah)”. Seakan-akan orang itu terlepas dari ikatan. Maka mulailah ia berjalan, dan sama sekali tak ada lagi penyakit padanya. Dia (Abu Sa’id) berkata, “Mereka pun memberikan kepada para sahabat gaji yang telah mereka sepakati. Sebagian sahabat berkata, “Silakan bagi (kambingnya)”. Yang me-ruqyah berkata, “Janganlah kalian lakukan hal itu sampai kita mendatangi Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, lalu kita sebutkan kepada beliau tentang sesuatu yang terjadi. Kemudian kita lihat, apa yang beliau perintahkan kepada kita”. Mereka pun datang kepada Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- seraya menyebutkan hal itu kepada beliau. Maka beliau bersabda, “Apa yang memberitahukanmu bahwa Al-Fatihah adalah ruqyah?” Kemudian beliau bersabda lagi, “Kalian telah benar, silakan (kambingnya) dibagi. Berikan aku bagian bersama kalian”. Lalu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- tertawa“. [HR. Al-Bukhoriy (2156), Muslim (2201)]
Al-Imam Ibnu Abi Jamroh-rahimahullah- berkata, “Tempat memercikkan ludah ketika me-ruqyah adalah usai membaca Al-Qur’an pada anggota badan yang dilalui oleh ludah”. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (9/206)]
·         Cahaya Untuk Ummat Islam
Satu lagi diantara fadhilah Al-Fatihah, ia disebut dengan cahaya, karena di dalamnya terdapat petunjuk bagi seorang muslim dalam semua urusannya. Jika kita mengkaji Al-Fatihah secara mendalam, maka kita akan mendapat banyak faedah dan petunjuk. Oleh karena itu, sebagian ulama’ telah menulis kitab khusus menafsirkan Al-Fatihah dan mengeluarkan mutiara hikmahnya yang berisi pelita yang menerangi kehidupan kita.
Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhu- berkata,
 “Tatkala Jibril duduk di sisi Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- , maka ia mendengarkan suara (seperti suara pintu saat terbuka) dari atasnya. Maka ia (Jibril) mengangkat kepalanya seraya berkata, “Ini adalah pintu di langit yang baru dibuka pada hari ini; belum pernah terbuka sama sekali, kecuali pada hari ini”. Lalu turunlah dari pintu itu seorang malaikat seraya Jibril berkata, “Ini adalah malaikat yang turun ke bumi; ia sama sekali belum pernah turun, kecuali pada hari ini”. Malaikat itu pun memberi salam seraya berkata, “Bergembiralah dengan dua cahaya yang diberikan kepadamu; belum pernah diberikan kepada seorang nabi sebelummu, yaitu Fatihatul Kitab, dan ayat-ayat penutup Surat Al-Baqoroh. Tidaklah engkau membaca sebuah huruf dari keduanya, kecuali engkau akan diberi“. [HR. Muslim dalam Shahih-nya (806), dan An-Nasa’iy (912)]
·         Penentu Sholat
Al-Fatihah adalah kewajiban bagi setiap orang yang mengerjakan sholat, baik ia imam, makmum, atau pun munfarid (sholat sendiri). Barangsiapa yang tak membacanya, maka sholatnya tak sah.
Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
 “Barangsiapa yang melakukan sholat, sedang ia tak membaca Ummul Qur’an (Al-Fatihah) di dalamnya, maka sholatnya kurang (3X), tidak sempurna”. Abu Hurairah ditanya, “Bagaimana kalau kami di belakang imam”. Beliau berkata, “Bacalah pada dirimu (yakni, secara sirr/pelan), karena sungguh aku telah mendengar Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Allah -Ta’ala- berfirman, “Aku telah membagi Sholat (yakni, Al-Fatihah) antara Aku dengan hamba-Ku setengah, dan hamba-Ku akan mendapatkan sesuatu yang ia minta”. [HR. Muslim (395), Abu Dawud (821), At-Tirmidziy (2953), An-Nasa’iy (909), dan Ibnu Majah (838)]
Abu Zakariya An-Nawawiy-rahimahullah- berkata, “Al-Fatihah dinamai sholat, karena sholat tak sah, kecuali bersama Al-Fatihah“. [Lihat Syarh Shohih Muslim (2/127)]
Inilah beberapa diantara keutamaan Al-Fatihah, kami sajikan bagi para khotib, da’i, penuntut ilmu, dan seluruh kaum muslimin agar mereka tahu dan mengamalkan hadits-hadits shohih ini, dan menyebarkannya, tanpa berpegang lagi dengan hadits-hadits lemah dan palsu tentang fadhilah Al-Fatihah.
4.      Pokok- pokok Ajaran yang Terkandung dalam Surat Al- Fatihah
Telah disebutkan diatas, bahwa Surat Al- Fatihah adalah sebagai induk dari Al- Qur’an seluruhnya, yakni didalam surat Al- Fatihah ini terdapat kesimpulan atau intisari dari isi Al- Qur’an. Al- Qur’an diturunkan di waktu umat manusia di seluruh penjuru alam ini amat membutuhkan tuntunan dan hidayah yang akan menuntun mereka kepada ketentraman jiwa dalam segala segi- segi hidup dan kehidupan.
Jika manusia tidak puas, malah tidak mengingini keadaan yang berlaku dalam masyarakat. Dimana saja di waktu itu dunia telah dipenuhi dengan keadaan- keadaan yang tidak wajar, i’tikad dan kepercayaan yang bukan- bukan terhadap Allah dan Rasul- Rasul- Nya, pemuka agama, raja- raja, pemimpin- pemimpin dan syekh- syekh kabilah yang mempunyai kekuasaan yang tidak terikat sedikitpun. Akhlak dan budi pekerti serta tindakan- tindakan yang amat bertentangan dengan peri kemanusiaan, seakan- akan orang telah lupa kepada ajaran- ajaran yang dibawa oleh nabi- nabi dan rasul- rasul sebelum nabi Muhammad.
Maka kedatangan Al- Qur’an adalah untuk memenuhi tuntutan jiwa yang hendak lepas dari belenggu kepercayaan- kepercayaan, hukum dan peraturan- peraturan, adat istiadat atau tradisi- tradisi serta dongeng- dongeng yang tidak selaras lagi dengan akal dan fikiran yang selalu berkembang dan selalu menuju kepada kesempurnaannya.
Untuk memenuhi aspirasi jiwa ini, Al- Qur’anul Karim datang dengan membawa aqaid (keimanan), hukum- hukum dan peraturan- peraturan, janji- janji dan ancaman- ancaman (peringatan) serta kisah- kisah tentang umat- umat yang telah berlalu yang dapat dijadikan pelajaran dan i’tibar, agar manusia hidup aman dan tentram, berbahagia dunia akhirat. Dengan ringkas dapat disimpulkan bahwa isi Al- Qur’an itu kepada pokok- pokok sebagai berikut :
1.      Keimanan (‘aqaid).
2.      Ibadat.
3.      Hukum- hukum dan peraturan- peraturan.
4.      Janji dan ancaman.
5.      Kisah- kisah atau cerita- cerita.

·         Keimanan ( Aqa’id )
Keimanan inilah yang pertama kali dibawa oleh Al- Qur’anul Karim yang diajarkan oleh Muhammad SAW, nabi- nabi dan rasul- rasul yang telah diutus sebelum Muhammad SAW pun menanamkan keimanan ini pula pada pertama kali mereka diutus kepada umatnya. Keimanan yang dibawa oleh Al- Qur’an meliputi keimanan kepada Allah, rasul- rasul- Nya, malaikat- malaikat- Nya, kitab- kitab yang telah diturunkan- Nya, hari akhirat, serta qada’ dan qadar.
Di waktu Al- Qur’an diturunkan, keimanan yang dibawa oleh rasul- rasul sebelumnya sudah kabur, tauhid yang khalis (murni) tidak ada lagi. Kepada umat- umat yang dahulunya, telah pernah diutus rasul- rasul kepada mereka, dan telah pernah mempunyai kitab- kitab samawi, namun kemudian mereka telah memandang rasul- rasul, orang- orang shaleh, malaikat- malaikat sebagai Tuhan. Kitab- kitab samawi yang dibawa oleh nabi- nabi dan rasul- rasul kepada mereka sudah dirobah- robah oleh tangan mereka sendiri.
Bangsa Arab, biarpun yang telah pernah menganut ajaran- ajaran Nabi Ibrahim, maupun yang tidak, rata- rata telah menjadi penganut kepercayaan wasani, penyembah patung- patung dan dewa- dewa, sehingga menurut riwayat di sekitar Ka’bah terdapat 360 buah patung. Maka datanglah Al- Qur’anul Karim untuk mensucikan akidah manusia dari kotoran- kotoran syirik, dengan membawa akidah tauhid yang semurni- murninya, yang tidak dicampuri sedikit juga oleh kepercayaan- kepercayaan dan perbuatan- perbuatan membesarkan sesuatu dalam alam ini.
Akidah tauhid dibawa oleh Al- Qur’anul Karim itu adalah akidah yang amat jelas dan tegas. Akidah yang paling sempurna yang dapat dicapai oleh akal, yang paling sempurna yang dibawa oleh agama. Tuhan Yang Maha Esa, Dialah yang Khalik, sedang selain- Nya adalah makhluk. Tak ada permulaan- Nya, dan tak ada kesudahan- Nya. Maha Kuasa, Maha Pemurah, Maha Penyayang, Maha Mengetahui. Ilmunya meliputi segala sesuatu, tidak ada suatu juga yang serupa dengan Dia, alam semesta ini makhluk Allah. Yang akan lenyap dan habis dengan kehendak Allah, sebagaimana dia ada, adalah dengan kehendak Allah.
Didalam Surat Al- Fatihah, akidah tauhid ini didapat dalam ayat- ayat :
ßôJysø9$# ¬! Å_Uu šúüÏJn=»yèø9$# ÇËÈ  
“ Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam ”
Jadi maksud ayat ini : “ Semua puji itu untuk Allah, Tuhan semesta alam ”. Yakni : yang berhak dipuji adalah Allah, maka pujian itu haruslah dihadapkan kepada- Nya.
Seseorang dipuji adalah karena sifat- sifat yang mulia yang berada pada dirinya, atau karena perbuatan- perbuatan, jasa- jasa dan budi baiknya. Oleh karena puji itu semata- mata adalah untuk Allah sajalah yang mempunyai sifat- sifat yang sempurna, yang menyebabkan Dia berhak dipuji, umpama: sifat Maha Esa, Maha Pemurah, Maha Penyayang, Maha Kuasa, Maha Adil, Maha Mengetahui, Maha Pengampun, Maha Pemaaf dan lain sebagainya.
Pernyataan bahwa Allah sajalah yang mempunyai sifat- sifat yang sempurna dan bahwa Dia sajalah yang telah memberi nikmat- nikmat dan karunia, inti dari Keimanan kepada Allah dan merupakan akidah tauhid yang sebenarnya. Keimanan kepada Allah serta segala sifat kesempurnaan- Nya, dan akidah tauhid yang semurni- murninya itu adalah salah satu dari ajaran Islam yang terpenting, sebab itu didalam ayat ini ditegaskan lagi bahwa Allah Rabb bagi semesta alam.
Kata Rabb itu selain “ Yang Punya” juga berarti “ Pendidik” atau “Pengasuh”. Dengan ini jelaslah bahwa sesuatu apapun yang berada di alam ini adalah kepunyaan Allah. Dialah yang menciptakan, mendidik, mengasuh, menumbuhkan dan memeliharanya. Tidak ada yang menyekutui Dia dalam hal ini. Sejalan dengan ini maka makhluk itu bagaimana kecil dan halusnya, dan jauh dari tempatnya dibawah pengetahuan, lindungan, pemeliharaan Allah. Allah telah memberi kepada makhluk- Nya suatu bentuk, lalu dikaruniai Nya akal, naluri- naluri (instink) dan kodrat- kodrat alamiah, yang dapat dipergunakannya untuk kelanjutan hidupnya. Sesudah itu makhluk itu tidak dilepaskan saja oleh Allah, melainkan selalu dipelihara, dilindungi dan dijaga Nya.
Pendidikan, pemeliharaan, penumbuhan oleh Allah terhadap makhluk Nya haruslah diperhatikan dan dipelajari oleh manusia dengan sedalam- dalamnya, dan memang dari dahulu sampai sekarang telah diperhatikan dan dipelajari oleh para ahli fikir dan para sarjana, sehingga telah menjadi sumber berbagai macam ilmu pengetahuan, yang dapat menambah keyakinan manusia kepada keagungan dan kebesaran Allah, serta berguna pula bagi masyarakat.
x$­ƒÎ) ßç7÷ètR y$­ƒÎ)ur ÚúüÏètGó¡nS ÇÎÈ  
hanya kepada Engkaulah kami menyembah “ dan” hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan”
            Ayat ini juga berisi keimanan, karena dalam ayat ini dinyatakan dengan lebih jelas akidah tauhid itu. Ayat ini berarti bahwa hanya Allah sajalah yang berhak disembah dan hanya kepada Allah sajalah manusia seharusnya memohon sesuatu pertolongan. Jadi manusia sebagai makhluk Allah, haruslah berhubungan langsung dengan Allah sebagai Khaliknya. Dia berdoa memohon sesuatu haruslah langsung kepada Allah, Khaliknya itu dengan tidak ada perantaraan apapun juga.
            Dengan ini terbongkarlah dengan akar- akarnya kepercayaan syirik (mempersekutukan Allah, membesarkan sesuatu apapun selain Allah) kepercayaan wasani (menyembah dewa- dewa, matahari, bulan, bintang- bintang, dan lain- lain), kepercayaan majusi (menyembah api) dan yang lain sebagainya, yaitu kepercayaan yang banyak berkembang dan dianut oleh segala bangsa, sebelum datang agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW.
Dua buah ayat yang disebutkan itu :
ßôJysø9$# ¬! Å_Uu šúüÏJn=»yèø9$# ÇËÈ  
x$­ƒÎ) ßç7÷ètR y$­ƒÎ)ur ÚúüÏètGó¡nS ÇÎÈ   
Kedua- duanya adalah inti- inti ayat keimanan dan tauhid. Ayat- ayat yang lain, yang menyeru kepada tauhid dan memberantas kepercayaan syirik wasani, majusi dan lain sebagainya, adalah penjelasan dari kedua ayat ini.
            Semua ayat- ayat Surat Al- Fatihah itu sejak dari
ÉOó¡Î0 «!$# Ç`»uH÷q§9$# ÉOŠÏm§9$# ÇÊÈ  
xÞºuŽÅÀ tûïÏ%©!$# |MôJyè÷Rr& öNÎgøn=tã ÎŽöxî ÅUqàÒøóyJø9$# óOÎgøn=tæ Ÿwur tûüÏj9!$žÒ9$# ÇÐÈ  
Dan seterusnya, menerangkan akidah tauhid, kalau tidak jelas, maka dengan secara dibayangkan, sebagaimana akan kelihatan nanti pada tafsir masing- masing ayat ini.
·         Ibadat
Ibadat ini adalah buah dari keimanan kepada adanya Allah, dengan segala sifat- sifat kesempurnaan- Nya, seseorang yang meyakinkan adanya segala sifat- sifat kesempurnaan- Nya itu, dia akan menyembah Allah. Ibadat ini telah dibayangkan didalam Surat Al- Fatihah dengan firman- Nya :
x$­ƒÎ) ßç7÷ètR y$­ƒÎ)ur ÚúüÏètGó¡nS ÇÎÈ  
“ Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan”
Didalam ayat ini Allah mengajari hamba- Nya supaya menyembah hanya kepada Allah semata. Maka ayat ini selain mengandung akidah tauhid, juga mengandung ibadat kepada yang Maha Esa itu.
$tRÏ÷d$# xÞºuŽÅ_Ç9$# tLìÉ)tGó¡ßJø9$# ÇÏÈ  
“ Tunjukilah Kami kejalan yang lurus ”
Untuk kebahagiaan hidup manusia didunia dan di akhirat, Allah mengadakan peraturan- peraturan, hukum- hukum, menjelaskan kepercayaan, memberi pelajaran dan contoh- contoh. Ini semua adalah laksana jalan lurus yang dibentangkan Allah yang menyampaikan manusia kepada kebahagiaannya di dunia dan di akhirat. Maka berbahagialah mereka yang menjalaninya dan sengsaralah orang yang menghindari diri dari jalan itu.
Menjalani jalan yang lurus ini artinya ialah beribadat kepada Allah, dengan mematuhi peraturan- peraturan, menjalankan hukum- hukum, dan berpegang kepada akidah yang benar, melaksanakan pelajaran- pelajaran dan mengambil tauladan kepada contoh- contoh yang telah diberikan Allah, menurut yang dijelaskan oleh Allah dalam ayat- ayat yang lain, yang jadi uraian bagi inti pati yang telah disebutkan di surat Al- Fatihah ini.
Ibadat itu tidak dapat dipisahkan dari tauhid, sebagaimana tauhid pun tidak dapat dipisahkan dari ibadat, karena ibadat itu adalah buah dari tauhid, dan tak adalah dia mempunyai nilai dan harga kalau timbulnya tidak dari perasaan tauhid. Demikian pula halnya dengan tauhid, yakni tauhid itu tidak akan subur hidupnya didalam jiwa dan raga manusia, kalau tidak selalu dipupuk dengan ibadat.
Sebab itu didalam surat Al- Fatihah ini, disamping disebut tauhid, disebut juga oleh Allah ibadat. Kedua- duanya secara ringkas akan diikuti dengan penjelasan- penjelasan pada ayat- ayat yang lain didalam surat- surat yang berikut.
·         Hukum- hukum dan Peraturan- peraturan
Telah disebutkan diatas, bahwa untuk kebahagiaan hidup manusia di dunia dan di akhirat, Allah mengadakan Hukum- hukum dan peraturan- peraturan ini ada yang berkenaan dengan hubungan manusia dengan Allah dan ada yang berhubungan dengan masyarakat dan siasat kenegaraan dan yang lainnya.
Didalam Al- Qur’anul Karim banyak didapati ayat- ayat yang berhubungan dengan hukum- hukum dan peraturan- peraturan ini. Semua ayat- ayat ini adalah penjelasan bagi apa yang telah dicantumkan dalam Surat Al- Fatihah Allah memberi tuntunan hukum dan peraturan- peraturan dalam firmannya :
$tRÏ÷d$# xÞºuŽÅ_Ç9$# tLìÉ)tGó¡ßJø9$# ÇÏÈ    
“ Tunjukilah kami kejalan yang lurus ”
Jalan yang menyampaikan manusia kepada kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat, yaitu akidah- akidah (kepercayaan) yang benar, hukum- hukum dan peraturan- peraturan, pelajaran- pelajaran yang dibawa oleh Al- Qur’an sebagai disebutkan diatas.
·         Janji dan Ancaman
Al- Qur’anul Karim juga berisi janji dan ancaman. Dia menjanjikan kebahagiaan kepada mereka yang beriman dan berbuat baik. Sebagaimana dia mengancam mereka yang mempersekutukan Allah, yang membuat onar dan kejahatan dengan azab dan siksa. Janji dan ancaman kepada umum, kaum atau bangsa.
Didalam Surat Al- Fatihah didapati ayat- ayat yang mengandung janji dan ancaman, yaitu :
ÉOó¡Î0 «!$# Ç`»uH÷q§9$# ÉOŠÏm§9$# ÇÊÈ  
“ Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”
Dengan menyebut “ Maha Pemurah” lagi “ Maha Penyayang”, Allah menjanjikan kepada mereka yang beriman dan berbuat baik limpahan karunia dan nikmat dari Dia.
Å7Î=»tB ÏQöqtƒ ÉúïÏe$!$# ÇÍÈ  
“  Yang menguasai di hari Pembalasan”
Dihari itu perbuatan manusia sewaktu di dunia akan dibalas. Surga untuk mereka yang beriman dan berbuat baik, dan neraka bagi mereka yang ingkar dan berbuat salah. Ini adalah janji dan ancaman.
$tRÏ÷d$# xÞºuŽÅ_Ç9$# tLìÉ)tGó¡ßJø9$# ÇÏÈ  
“ Tunjukilah Kami jalan yang lurus ”
Orang yang mengikuti jalan yang lurus itu akan bahagialah dia, dan yang menghindarkan diri dari jalan yang lurus itu akan celakalah dia. Dengan ini dapat dipahami adanya janji dan ancaman.
xÞºuŽÅÀ tûïÏ%©!$# |MôJyè÷Rr& öNÎgøn=tã ÎŽöxî ÅUqàÒøóyJø9$# óOÎgøn=tæ Ÿwur tûüÏj9!$žÒ9$# ÇÐÈ  
“  (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”.
Ada orang- orang yang telah dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu nabi- nabi, rasul- rasul, orang- orang shaleh dan siddiiqin orang- orang semacam ini akan diberi pahala dan ganjaran oleh Tuhan, yaitu surga jannatunna’im dan ini adalah janji dari Tuhan. Dalam pada itu pula orang- orang yang dimurkai oleh Allah, yaitu mereka yang tak mau menjalani jalan yang lurus, padahal dia tahu bahwa itulah jalan yang benar, dan ada pula orang sesat, yaitu orang yang tak mengetahui jalan yang lurus itu atau dia mengetahuinya, tetapi dia kesasar (sesat) dalam menempuh jalan itu. Mereka yang dimurkai Allah dan orang yang sesat itu akan menderita hukuman dari Allah, dan ini adalah suatu anacaman.
·         Kisah- kisah atau Cerita- cerita
Unutk jadi contoh dan tauladan, pelajaran dan i’tibar, maka Al- Qur’anul Karim telah menceritakan keadaan bangsa- bangsa dan kaum- kaum yang telah berlalu dan bahwa Allah telah mengutus rasul- rasul dan nabi- nabi kepada mereka dan telah membuat peraturan- peraturan, hukum- hukum dan syari’at untuk kebahagiaan hidup mereka.
Diantara mereka ada yang menerima dan ada yang menolak, dan Allah menerangkan apa akibat dari penerimaan dan penolakan itu, untuk jadi i’tibar dan pelajaran. Lebih kurang tiga perempat dari isi Al- Qur’anul Karim itu adalah cerita- cerita tentang bangsa- bangsa dan umat- umat yang berlalu, serta anjuran- anjuran dari Allah untuk mengambil i’tibar dan pelajaran dari keadaan mereka.
Didalam surat Al- Fatihah ini keadaan bangsa- bangsa dan umat- umat yang telah berlalu itu dibayangkan oleh Allah dalam firman- Nya :
xÞºuŽÅÀ tûïÏ%©!$# |MôJyè÷Rr& öNÎgøn=tã ÎŽöxî ÅUqàÒøóyJø9$# óOÎgøn=tæ Ÿwur tûüÏj9!$žÒ9$# ÇÐÈ  
“  (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”.
Dengan keterangan yang disebutkan diatas, teranglah bahwa surat Al- Fatihah mengandung kesimpulan isi Al- Qur’an dalam surat- surat yang berikutnya adalah uraian dari apa yang telah disimpulkan dalam surat Al- Fatihah itu.
5.      Hikmah Membaca Surat Al- Fatihah
Surah al-Fatihah adalah surah yang bisa dihafal oleh setiap orang hingga anak-anak. sayang sekali jika kita tidak mengetahui fadhilah membaca surah al-Fatihah yang bedasarkan hadits-hadits Rasulullah Saw., karena itu disini kami ingin mencatat beberapa fadhilah membaca surah al-Fatihah yang dapat memotivasi kita untuk selalu membacanya. Semoga bermanfaat.
Dengan melihat hadits-hadits dalam kitab Khazinatu al-Asrar hal. 108-115, dapat disimpulkan beberapa kelebihan membaca surah al-Fatihah, antara lain:
1.      Diampuni dosa 
2.      Diterima kebaikan 
3.      Aman dari Marah Allah Swt. 
4.      Dibebaskan lidah pembacanya dari Api neraka 
5.      Terlepas dari azab kubur, azab neraka, dan azab hari kiamat 
6.      Berjumpa dengan Allah Swt. sebelum para ambiya dan para Aulia 
7.      Orang yang membaca al-Fatihah seolah ia telah membaca kitab taurat, injil, zabur, al-Quran, suhuf idris As., dan suhuf Ibrahim As. tujuh kali. 
8.      Mendapat derajat yang tinggi dalam surga. 
9.      Orang yang membaca al-Fatihah seolah ia telah menyedekahkan emas di jalan Allah Swt. 
10.  Setiap satu ayat dari al-Fatihah menjadi penutup satu pintu neraka 
11.  Rumah yang dibacakan surah al-Fatihah dan surah al-Ikhlas tidak akan ditimpa kefakiran dan banyak kebaikan. 
12.  Membaca surah al-fatihah, ayat kursi, dan dua ayat dari ali Imran setiap selesai shalat akan dibalas oleh Allah Swt. dengan surga, dipandang oleh Allah Swt. 70 kali setiap hari, ditunaikan hajat, dimenangkan dari musuh dan pendengki. 
13.  Membaca al-Fatihah dan surah al-Ikhlas sebelum tidur akan mendapatkan keamanan dari apapun kecuali maut.

Oleh karena itu, marilah kita sering-sering membaca al-Fatihah dan juga surah-surah lain dari al-Quran. semoga Allah memberikan kepada kita keberhasilan hidup di Dunia dan Akhira. Amin.

BAB III
PENUTUP

     A.     Kesimpulan
Surat Al-Fatihah (pembukaan) yang terdiri atas 7 ayat ini adalah surat merupakan surat yang agung. Karena itu surat ini juga mendapat julukan sebagai “Mahkota Tuntunan Ilahi” dalam bahasa Quraish Shihab. Disebut dengan Al-Fatihah karena merupakan pembuka dalam Al-Qur'an. Dinamakan juga sebagai Ummul Qur'an karena di dalamnya mencakup kandungan tema-tema pokok semua ayat Al-Qur'an. Yang di antaranya mencakup aspek keimanan, hukum, dan kisah.
Alasan mengapa Al-Fatihah diletakkan di awal Al-Qur'an karena kandungan Surat ini bersifat global yang dirinci oleh ayat-ayat lain sehingga ia bagaikan mukaddimah atau pengantar bagi kandungan surat-surat Al-Qur'an.
Dalam tafsir Al-Misbah, Quraish Shihab mengelompokkan kandungan surat Al-Fatihah dalam dua rangkaian, yakni pembicaraan tentang Allah dan sifat-sifatnya dan pembicaraan tantang permohonan yang diajarkan Allah kepada hamba-hambanya. Pembahasan tentang Allah dan sifat-sifatnya terwakili pada ayat 1 sampai dengan 4, sedang berkaitan dengan permohonan termaktub dalam ayat 5 sampai dengan 7.
     B.    Saran
Dalam hal penyusunan makalah ini tentu tidak terlepas dari kesalahan. Ibarat kata pepatah, tidak ada gading yang tak retak. Oleh karena itu,  penyusun meminta saran dan kritik yang membangun dari para pembaca untuk mencapai kesempurnaan makalah selanjutnya.

    C.    Referensi Blog Internet
1.      Ghazali, Imam. Ajaran Bahagia (terj. Kimyaa’u As-sa’adah). Yogyakarta: Cakrawala. 2011.
2.      Ilyas, Yunahar. Kuliah Aqidah Islam. Yogyakarta: LPPI. 2009. 
3.      Shihab, Quraish. Tafsir Al-Misbah. Ciputat: Lentera Hati. 2007.
4.      WWW. Muslim. Or. Id
5.      xa.yimg.com/kq/groups/23346012/.../TAFSIR+AL+MISBAH.doc
Posted by Wali almadadi on - Rating: 4.5
7.      Title : 13 Keutamaan Membaca Surah al-Fatihah


Tidak ada komentar:

Posting Komentar