A. Pengertian Multiple
Intelegensi
Kecerdasan (intelegensi) adalah bahasa yang dibicarakan oleh semua
orang dan sebagian dipengaruhi oleh kebudayaan di mana ia dilahirkan.
Kecerdasan
sebagai suatu kemampuan untuk memahami informasi yang membentuk pengetahuan dan
kesadaran. Kecerdasan sebagai kemampuan untuk memproses informasi sehingga
masalah-masalah yang kita hadapi dapat dipecahkan (problemsolved) dan
dengan demikian pengetahuan pun bertambah. Jadi mudah dipahami bahwa kecerdasan
adalah pemandu bagi kita untuk mencapai sasaran-sasaran kita secara efektif dan
efisien. Dengan kata lain, orang yang lebih cerdas, akan mampu memilih strategi
pencapaian sasaran yang lebih baik dari orang yang kurang cerdas. Artinya orang
yang cerdas mestinya lebih sukses dari orang yang kurang cerdas.
Kemampuan kognitif, psikomotor, dan afektif yang dimiliki
seseorang disebut dengan kecerdasan.
Howard
Gardner mendefinisikan kecerdasan sebagai :
1. Kemampuan memecahkan masalah yang terjadi dalam
kehidupan manusia.
2. Kemampuan menciptakan persoalan baru untuk
diselesaikan.
3. Kemampuan
menyiapkan atau menawarkan suatu layanan yang bermakna dalam kehidupan kultur
tertentu.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan
adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki seseorang. Kemampuan-kemampuan yang
dimiliki seseorang tidak akan semuanya sama dengan kemampuan-kemampuan yang
dimiliki orang lain, karena kemampuan banyak jenisnya (beranekaragam), dan
keanekaragaman dari kemampuan-kemampuan itu disebut dengan kecerdasan majemuk (multiple
intelegensi).
B. Macam-Macam dan Ciri
ciri Multiple Intelegensi.
Menurut
Gardner kecerdasan atau intelegensi ada 8 macam yaitu:
1. Kecerdasan Linguistic (
Linguistik intelligence )
Kecerdasan Linguistik adalah
kemampuan untuk berfikir dalam bentuk kata-kata dan menggunakan bahasa untuk
mengekpresikan dan menghargai makna yang komplek, yang meliputi kemampuan
membaca, mendengar, menulis, dan berbicara.
Adapun
ciri ciri seseorang yang memiliki kecerdasan linguistik, yaitu:
a.
Menirukan suara, bahasa, membaca,
menulis dari orang lainnya.
b.
Menulis secara efektif, memahami dan menerapkan aturan aturan tata bahasa, ejaan, tanda baca dan
menggunakan kosakata yang efektif.
c.
Memperlihatkan kemampuan unruk
mempelajari bahasa lainnya.
d.
Belajar melaui menyimak, membaca,
menulis dan diskusi.
2.
Intelegensi Logis-Matematis ( Logical Matematich)
Inteligensi Logis Matematis
adalah kemampuan dalam menghitung, mengukur, dan mempertimbangkan proposisi dan
hipotesis serta menyelesaikan operasi operasi matematis.
Adapun ciri ciri seseorang yang
memiliki kecerdasan logis matematis, yaitu:
a.
Menunjukkan ketrampilan memecahkan
masalah secara logis.
b.
Menyukai operasi yang kompleks,
seperti kalkulus, fisika, dan pemprograman komputer.
c.
Mengungkapkan ketertarikan dalam
karir karir seperti akuntansi, teknologi komputer dan ilmu kimia.
d.
Mengguanakan teknologi untuk
memecahkan masalah matematis.
3.
Intelegensi Musikal ( Musical Intelegence )
Intelegensi musikal adalah
kecerdasan seseorang yang berhubungan dengan sensitivitas pada pola titik nada,
melodi, ritme, dan nada. Musik adalah bahasa pendengaran yang menggunakan tiga
komponen dasar yaitu intonasi suara, irama dan warna nada yang memakai system
symbol yang unik.
Adapun ciri ciri seseorang yang
memiliki kecerdasan musikal yaitu :
a.
Mendengarkan dan merespon dengan
ketertarikan terhadap berbagai bunyi.
b.
Mengembangkan kemampuan menyanyi
dan atau memainkan instrumen secara sendiri atau bersama dengan orang lain.
c.
Menungkapkan ketertarikan untuk
berkarir di bidang musik
d.
Menikmati dan mencari kesempatan
untuk mendengarkan musik atau suara suara alam pada suasana belajar.
4.
Intelegensi Kinestetik.
Inteligensi Kinestetik adalah
belajar melalui tindakan dan pengalaman melalui panca indera. Intelegensi
kinestetik adalah kemampuan untuk menyatukan tubuh atau pikiran untuk
menyempurnakan pementasan fisik. Dalam kehidupan sehari-hari dapat diamati pada
actor,atlet atau penari, penemu, tukang emas, mekanik.
Adapun ciri ciri seseorang yang memiliki inteligensi kinestetik
yaitu :
a.
Menjelajahi lingkungan dan sasaran
melalui sentuhan dan gerakan
b.
Menemukan pendekatan baru dalam
kemampuan fisik atau menciptakan bentuk bentuk baru dalam menari, berolahraga
atau kegiatan fisik lainnya.
c.
Mendemonstrasikan keahlian dalam
berakting, atletik, menari, menjahit, mengukir ukiran atau memainkan musik
sejenis piano.
5.
Intelegensi Visual-Spasial
Intelegensi visual-spasial
merupakan kemampuan memahami, memproses, dan berfikir dalam memvisualisasikan
gambar didalam kepala seseorang dalam bentuk dua atau tiga dimensi.
Adapun ciri ciri seseorang yang memiliki kecerdasan visual spasial
yaitu :
a.
Menggunakan gambaran visual sebagai
sebuah alat bantu dalam mengingat informasi
b.
Memiliki daya imajinasi yang tinggi
c.
Memiliki kelebihan dalam
menyesuaikan sesuatu menjadi serasi
d.
Menikmati gambar gambar tak
beraturan lukisan, ukiran, atau objek objek lain dalam bentuk yang dapat
dilihat.
6.
Intelegensi Interpersonal
Intelegensi Interpersonal
adalah kemampuan untuk memahami dan berkomunikasi dengan orang lain secara
efektif.Howard Gardner menjelaskan inteligensi interpersonal adalah kemampuan
untuk mengerti dan pekaterhadap perasaan, watak, intensi,motivasi dan
temperamen orang lain. Termasuk juga kepekaan terhadap ekspresi wajah, suara
dan isyarat dari orang lain.
Adapun ciri ciri orang yang memiliki
kecerdasan interpersonal yaitu :
a.
Membentuk dan menjaga hubungan
sosial/ pandai berkomunikasi
b.
Mengetahui dan menggunakan cara
cara yang beragam dalam berhubungan dengan orang lain.
c.
Merasakan perasaan, pikiran,
motivasi, tingkah laku dan gaya hidup orang lain
d.
Tertarik pada karir yang
berorientasi interpersonal seperti
mengajar, pekerjaan sosial, konseling, manajemen atau politik.
7.
Intelegensi Intrapersonal
Inteligensi Intrapersonal
adalah kemampuan seseorang untuk mengerti diri sendiri, apa yang terbaik yang
harus dilakukan, apa yang harus dihindari, serta apa saja yang dapat
meningkatkan kemampuan diri. Jenis
kecerdasan ini terdiri dari kemampuan untuk
mengenali emosi diri/ mengenali perasaan sendiri sewaktu perasaan atau emosi
sedang naik, kemampuan mengelola emosi/ mengendalikan perasaan sehingga tidak
meledak ledak dan akhirnya dapat mempengaruhi perilaku yang salah, kemampuan
memotivasi diri/ kemampuan untuk memberi semangat pada diri sendiri agar dapat
melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat.
Gambaran tentang inteligensi
intrapersonal ini adalah seberapa baik seseorang mengerti diri sendiri.
Adapun ciri ciri seseorang
yang memiliki keserdasan intrapersonal yaitu :
a. Sadar akan wilayah emosinya
b. Bekerja mandiri
c. Berusaha mengaktualisasikan diri
d. Penasaran akan “pertanyaan besar”
tentang makna kehidupan.
8.
Intelegensi Naturalis.
Intelegensi Naturalis adalah kemampuan
untuk mengenal flora dan fauna dengan baik, memahami dan menikmati alam, dan
menggunakan kemampuan itu secara produktif dalam berburu, ahli biologi,
peneliti alam, bertani, serta mengembangkan pengetahuan akan alam.
Adapun ciri ciri seseorang yang memiliki inteligensi naturalis
yaitu :
a.
Tertarik dalam mengamati perilaku
alam
b.
Mampu hidup di luar rumah, dapat
berkawan dan berhubungan baik dengan alam
c.
Mencintai lingkungan
C.
Faktor – Faktor yang
Mempengaruhi Inteligensi.
Intelegensi tiap individu cenderung
berbeda-beda. Hal ini dikarenakan beberapa faktor yang mempengaruhinya. Adapun
faktor-faktor yang mempengaruhi intelegensi antara lain sebagai berikut:
a.
Gen atau keturunan
Seseorang yang memiliki orang tua yang keduanya atau salah satunya
cerdas dan berinteligensi tinggi maka tidak menutup kemungkinan orang itu
berinteligensi tinggi pula. Namun jika kedua orangtua tidak berinteligensi
tinggi, mungkin juga ada gen resesif atau tersembunyi yang tiba tiba muncul,
yang kemudian menjadikan anak memiliki inteligensi yang lebih dibanding kedua
orangtuanya.
b.
Pengalaman
Ada benarnya tentang sebuah pepatah
yang menyatakan bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Dengan berdasarkan
pada pengalaman yang dimiliki, tingkat inteligensi akan berbanding lurus dengan
pengalaman. Bisa jadi, dengan semakin beragamnya pengalaman yang dimiliki maka
inteligensi akan meningkat. Sebaliknya jika memiliki pengalaman yang kurang,
inteligensi akan mengalami sedikit rangsangan sehingga berdampak pada tingkat
inteligensi itu sendiri. Inteligensi akan cenderung statis dan kurang
meningkat.
c.
Latihan
Semakin sering seseorang melatih
diri dan kemampuannya maka inteligensinyapun semakin tinggi. Jika seseorang
tidak membiasakan diri untuk berlatih, tidak menutup kemungkinan kemampuan dan
inteligensi yang dimiliki sebelumnya akan tetap, berkurang atau bahkan berlahan
memudar.
d.
Lingkungan
Lingkungan merupakan faktor ekstern yang dapat berpengaruh pada
inteligensi seseorang. Apabila lingkungan yang ditinggali seseorang mendukung
dan menyediakan rangsangan untuk mengembangkan inteligensi yang dimiliki maka
inteligensinya pun akan semakin meningkat. Demikian juga sebaliknya apabila
lingkungan tidak mendukung seseorang untuk meningkatkan inteligensinya, tetu
saja inteligensi yang dimiliki orang tersebut tidak akan berkembang.
Untuk itulah, hal yang sangat
penting bagi kita untuk senantiasa memberikan rangsangan bagi diri kita, bagi
anak anak, dan peserta didik demi mengembangkan inteligensi. Hal ini bisa
dibangun dengan mencoban memberikan dan melakukan kebiasaan kebiasaan yang
dapat menggugah inteligensi. Dengan demikian lingkungan akan benar benar dapat
mendukung peningkatan inteligensi setiap individu.
e.
Reward and Punishment
Seperti halnya dalam teori belajar
yang menyebutkan bahwa reward and punishment dapat mempengaruhi semangat dann
minat belajar seseorang, dalam intelegensi pun berlaku demikian. Adanya reward
and punishment dapat menggugah sesorang untuk mengembangkan intelegensi yang
dimiliki sebelumnya. Ketika sesorang mendapatkan reward dan intelegensi yang
dimilikinya, kecenderungan untuk meningkatkan intelegensinya akan muncul. Hal
ini tentu saja disebabkan keinginan orang ini untuk mendapatkan reward lagi,
atau paling tidak ia tergugah untuk menunjukkan prestasi yang lebih baik lagi.
Demikian juga jika ada punishment
sebagai konsekuensi intelegensi yang ada, kencenderungan unruk memperbaiki
serta meningkatkan intelegensi pun akan tumbuh.
Karena, seseorang tentunya tidak ingin mendapat punishment yang kedua
kalinya sehingga ia akan terdorong untuk berupaya meningkatkan intelegensinya
sendiri.
f.
Pola makan dan asupan gizi
Tak dapat dipungkiri, makanan yang
masuk kedalam tubuh juga berpengaruh terhadap konsidi organ tubuh, tak
terkecuali organ yang berkaitan erat dengan pembentukan serta pengembangan
intelegensi. Dengan demikian secara otomatis, makanan dan supan gizi ikut
mempengaruhi intelegnsi. Jika makanan yang dikonsumsi berupa makanan yang nilai
gizinya cukup dan seimabnag intelegnsi pun dapat berkembang. Sebaliknya, jika
asupan makanan tidak mendukung untuk peningkatan intelegensi tentu saja
intelegensi akan sulit berkembang pesat.
D.
Pengaruh Intelegensi Terhadap
Keberhasilan Peserta Didik
Intelegensi seseorang diyakini
sangat berpengaruh pada keberhasilan belajar yang dicapainya. Berdasarkan hasil
penelitian, prestasi belajar biasanya berkolerasi searah dengan tingkat
intelegensi. Artinya, semakin tinggi tingkat intelegensi seseorang, maka
semakin tinggi prestasi belajar yang dicapainya. Bahkan menurut sebagian besar
ahli, intelegensi merupakan modal utama dalam belajar dan mencapai hasil yang
optimal. Anak yang memiliki skor IQ dibawah 70 tidak mungkin dapat belajar dan
mencapai hasil belajar seperti anak-anak dengan skor IQ normal, apalagi dengan
anak-anak jenius.
Kenyataan menunjukkan bahwa
setiap anak memiliki tingkat intelegensi yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut
tampak memberikan warna di dalam kelas. Selama menerima pelajaran yang
diberikan guru, disampaikan oleh guru dan ada pula anak yang lamban.
Perbedaan individu dalam intelegensi ini perlu diketahui dan dipahami oleh
guru, terutama dalam hubungannya dengan pengelompokkan siswa. Selain itu, guru
harus menyesuaikan tujuan pembelajarannya dengan kapasitas intelegensi siswa.
Perbedaan intelegensi yang dimiliki oleh siswa bukan berarti membuat guru harus
memandang rendah pada siswa yang kurang, tetapi guru harus mengupayakan agar
pembelajaran yang diberikan dapat membantu semua siswa, tentu saja dengan perlakuan
metode yang beragam.
Selain itu, perbedaan
tersebut juga tampak dari hasil belajar yang dicapai. Tinggi rendahnya hasil
belajar yang dicapai oleh siswa bergantung pada tinggi rendahnya intelegensi
yang dimiliki. Meski demikian, intelegensi bukan merupakan satu-satunya faktor
yang mempengaruhi keberhasilan belajar seseorang. Seperti telah dikemukakan
bahwa banyak sekali faktor yang dapat mempengaruhinya. Yang terpenting dalam
hal ini adalah guru harus bijaksana dalam menyingkapi perbedaan tersebut.
E.
Program Pembelajaran yang
Mengakomodasi Perkembangan Multiple Inteligensi
Untuk menerapkan teori multipel intelegensi dalam program
pembelajaran diperlukan usaha yang serius dari guru. Guru harus membiasakan
diri mengembangkan program pelajaran yang berorientasi pada siswa bukan pada
materi atau dirinya sendiri. Tujuannya adalah untuk memudahkan guru dalam
menentukan strategi pembelajaran yang tepat yang dapat mengembangkan
intelegensi siswa secara maksimal. Mengingat multipel intelegensi belum
memasyarakat, maka hal ini akan menjadi penghambat bagi guru untuk
memasukkannya pada saat menyusun program pembelajaran.
Program pembelajaran pengertiannya lebih luas dari kegiatan
pembelajaran. Kegiatan pembelajaran terbatas pada aktivitas guru dan siswa di
kelas saja, sedangkan pengertian program pembelajaran adalah menyeluruh mulai
dari rencana pembelajaran, kegiatan pembelajaran sampai dengan produk hasil
dari pengembangan program pembelajaran. Program pembelajaran berbentuk produk
ini dapat berupa kegiatan pembelajaran langsung atau tatap muka, tetapi dapat
juga berbentuk program video, audio, dan sebagainya.
Gardner menjelaskan bahwa
setiap intelegensi bekerja dalam sistem otak yang relatif otonom. Artinya
setiap intelegensi mengelola informasi secara parsial, namun pada saat
mengeluarkannya memproduksi kembali kedelapan intelegensi yang ada, intelegensi
tersebut bekerja sama secara unik untuk menghasilkan informasi yang dibutuhkan.
Di sekolah, guru adalah orang yang berkepentingan dalam mengembangkan
program-program pembelajaran dikelasnya. Dalam mengembangkannya guru
dimungkinkan untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang inovatif dan
kreatif dalam dunia pendidikan, salah satunya adalah dengan menggunakan
strategi pembelajaran berbasis multipel intelegensi.
Menurut Amstrong dalam
Robinson (2004), strategi pembelajaran berbasis multiple intelegensi ini
merupakan suatu upaya mengoptimalkan berbagai intelegensi yang dimiliki setiap
siswa untuk mencapai kompetensi tertentu yang dituntut dalam kurikulum. Pada
prakteknya strategi pembelajaran berbasis multipel intelegensi ini memacu
kecerdasan yang menonjol pada diri siswa seoptimal mungkin, dan berupaya
mempertahankan intelegensi lainnya pada standar minimal yang dituntut sekolah.
Dengan kata lain, penerapan strategi multipel intelegensi dalam pengembangan
program-program pembelajaran menguntungkan bagi siswa. Siswa akan berkembang
sesuai dengan jati dirinya yang potensial pada salah satu atau lebih
intelegensi yang dimilikinya.
Adapun langkah-langkah yang
dapat digunakan dalam menerapkan strategi pembelajaran berbasis multiple inteligensi
antara lain:
1. Memberdayakan
semua intelegensi yang dimiliki setiap siswa
Memberdayakan semua intelegensi
pada setiap mata pelajaran adalah ibarat meng-input melalui jalur ke dalam otak
memori siswa. Contoh perhatikan TIK berikut: siswa dapat mempelajari proses
fotosintesis melalui tujuh cara/intelegensi. Intelegensi yang mencakup TIK
tersebut adalah intelegensi bahasa, logis-matematis, musik, kinestik,
interpersonal dan intrapersonal. Dengan demikian, tingkat belajar siswa akan
lebih tinggi dibanding jika siswa hanya membaca buku atau mendengar penjelasan
dari guru saja.
2. Mengoptimalkan
pecapaian mata pelajaran tertentu berdasarkan intelegensi yang menonjol pada
setiap siswa
Langkah ini dapat diterapkan
jika guru telah mengidentifikasi inteelegensi apa yang menonjol pada
siswa-siswanya. Dengan demikian strategi pembelajaran yang dipilih lebih
bersifat individual atau personal. Untuk siswa yang lebih menonjol intelegensi
bahasanya, maka guru harus merancang program pembelajaran yang merangsang dan
mengembangkan intelegensi siswa dalam kemampuan berbahas, dan seterusnya.
Pada kenyataannya, pengembangan
program-program pembelajaran yang merupakan teori multipel intelegensi tidaklah
mudah, terutama mencakup evaluasinya. Evaluasinya harus multi asesmen artinya
penilaian harus bervariasi dan dapat memberikan banyak motivasi dan merupakan
penilaian yang menarik. Untuk mewujudkan evaluasi yang multipel asesmen
tidaklah mudah. Dalam pembelajaran berbasis multipel intelegensi penilaian
membatasi atau bahkan mengurangi penggunaan skor tes sebagai penilaian tunggal.
Penggunaan pola-pola penilaian alternatif sehingga semua unsur mendapat
perhatian yang optimal, baik tentang hasil belajar siswa maupun tentang
pengembangan intelegensi siswa.
Hambatan yang mungkin dialami
guru pada saat pengembangan program pembelajaran yang menerapkan teori multipel
intelegensi, antara lain adalah sebagai berikut:
1. Guru belum mempunyai wawasan yang cukup
tentang multipel intelegensi.
2. Guru
butuh dukungan dari pimpinan sekolah atau pengelola sekolah untuk mengembangkan
program-program pembelajaran yang berbasis multiple intelegensi karena untuk
persiapan pengembangan program pembelajaran memerlukan waktu lama serta
bimbingan narasumber.
3. Dukungan
dari sekolah yang belum maksimal, dalam penyediaan sarana belajar seperti alat
peraga atau media pembelajaran dan ruang belajar yang kondusif dan lain-lain
tergantung kegiatan-kegiatan apa yang akan dilaksanakan serta sumber materi apa
yang akan digunakan..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar