Senin, 13 April 2015

Manajemen Pendidikan Islam



1    Dua pendapat dari ahli tentang filsafat manajemen pendidikan islam yaitu :
   Ramayulis (2008 : 260)
“ Manajemen pendidikan islam yaitu proses pemanfaatan semua sumber daya yang dimiliki (umat Islam, lembaga pendidikan atau lainnya) baik perangkat keras maupun lunak. Pemanfaatan tersebut dilakukan melalui kerjasama dengan orang lain secara efektif, efisien dan produktif untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan baik di dunia maupun di akhirat”.
   Prof. Dr. Mujamil Qomar
“ Manajemen pendidikan islam adalah suatu proses pengelolaan lembaga pendidikan Islam secara islami dengan cara menyiasati sumber- sumber belajar dan hal- hal lain yang terkait untuk mencapai tujuan pendidikan islam secara efektif dan efisien”.
Adapun Persamaan dan Perbedaan diantara Keduanya yaitu :
No
Nama Ahli
Persamaan
Perbedaan
1.
Ramayulis (2008 : 260)
Adapun persamaan dari kedua pendapat diatas yaitu bahwa manjemen pendidikan islam pada intinya adalah proses pemanfaatan dan pengelolaan lembaga pendidikan yang ada dengan memaksimalkan sumber daya dan sumber belajar yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan islam yang efektif dan efisien.
Manajemen pendidikan islam lebih menekankan pada  pemanfaatan sumber daya yang dimiliki melalui kerjasama dengan orang lain untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan didunia dan di akhirat.
2.
Prof. Dr. Mujamil Qomar
Manajemen pendidikan islam lebih menekankan pada pengelolaan sumber daya yang ada secara Islami demi tercapainya tujuan pendidikan islam yang efektif dan efisien.

   Menurut Pendapat Saya :
Menurut saya tentang pendapat dari dua ahli tersebut mengenai definisi dari manajemen pendidikan islam yaitu bahwa diantara keduanya memang ditemukan persamaan dan perbedaan seperti yang sudah saya utarakan melalui tulisan diatas. Namun disini saya hanya akan menganalisis dari pendapat yang diutarakan oleh dua ahli tersebut yaitu :
   Ramayulis (2008 : 260)
“ Manajemen pendidikan islam yaitu proses pemanfaatan semua sumber daya yang dimiliki (umat Islam, lembaga pendidikan atau lainnya) baik perangkat keras maupun lunak. Pemanfaatan tersebut dilakukan melalui kerjasama dengan orang lain secara efektif, efisien dan produktif untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan baik di dunia maupun di akhirat”.
Didalam pendapatnya tersebut, jelas sudah tertulis bahwa menurut Ramayulis (2008 : 260) Manajemen pendidikan islam lebih menekankan pada proses pemanfaatan sumber daya yang dimilki, baik itu yang ada pada umat Islam, lembaga pendidikan dan lainnya. Kemudian pemanfaatan tersebut dilakukan secara kerjasama/ gotong royong dengan orang lain untuk mencapai tujuan pendidikan islam yang efektif dan efisien serta untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Hal yang membedakan antara pendapat Ramayulis (2008 : 260) dengan pendapat ahli lainnya yaitu terletak pada adanya kerjasama/ gotong royong dengan orang lain. Dalam hal ini saya sangat setuju dengan adanya kerjasama tersebut demi tercapainya tujuan pendidikan islam yang efektif dan efisien. Mengapa? Karena suatu usaha, suatu keinginan yang besar akan tercapai dengan lebih mudah apabila dilakukan dengan adanya kerjasama tersebut. Apalagi demi tercapainya suatu kemajuan pendidikan bangsa yang islami. Hal ini tentunya membutuhkan suatu usaha yang keras dan sungguh- sungguh untuk mewujudkannya. Selain itu dalam pendapatnya juga, beliau mengatakan bahwa tujuan dari manajemen pendidikan islam ini demi tercapainya kebahagiaan dan kesejahteraan baik didunia maupun diakhirat.
Hal ini mengindikasi bahwa adanya suatu tujuan yang sangat tertata dan kompleks yaitu mencapai kebahagiaan diakhirat. Hal ini juga tidak mengherankan, karena disini kita membahas tentang substansi Islam, dimana Islam itu identik dengan cita- citanya bahagia didunia dan di akhirat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pendapat dari Ramayulis (2008 : 260) ini sangat baik dan sesuai dengan pembahasan kita yaitu tentang filsafat manajemen pendidikan islam.
   Prof. Dr. Mujamil Qomar
“ Manajemen pendidikan islam adalah suatu proses pengelolaan lembaga pendidikan Islam secara islami dengan cara menyiasati sumber- sumber belajar dan hal- hal lain yang terkait untuk mencapai tujuan pendidikan islam secara efektif dan efisien”.
            Dalam pendapatnya tersebut, jelas Prof. Dr. Mujamil Qomar menekankan pada proses pengelolaan lembaga pendidikan islam secara Islami dengan cara menyiasati sumber- sumber belajar dan lainnya yang terkait untuk mencapai tujuan pendidikan islam secara efektif dan efisien. Dalam hal ini berarti beliau menilik pada proses pengelolaannya, dimana terkadang sudah banyak lembaga pendidikan yang sudah didirikan namun perkembangannya tidak menunjukkan hasil yang maksimal. Ketidakmaksimalan ini mungkin saja bisa dipengaruhi faktor pengelolaan yang kurang baik.
            Langkah lainnya untuk memaksimalkan kinerja dari lembaga pendidikan islam itu sendiri yaitu dengan cara menyiasati sumber- sumber belajar dan hal- hal lain yang terkait, tidak hanya yang ada sumber- sumber yang berasal dari buku atau lainnya yang masih konvensional, namun seharusnya kita harus memanfaatkan kemajuan teknologi yang sudah sangat maju ini untuk menambah wawasan kita ke depannya. Didalam dunia pendidikan sendiri, tentunya tidak dapat dipisahkan dari apa yang namanya teknologi. Keduanya saling membutuhkan, sehingga usaha kita tentunya akan terbantu dalam peningkatan kualitas pendidikan islam di Indonesia ini jika kita pandai- pandai dalam penggunaan teknologi tersebut. Tujuan yang diharapkan juga akan mudah tercapai jika kita lebih kreatif dan inovatif dalam memanfaatkan segala sesuatu yang tadinya tidak terlihat manfaatnya menjadi bermanfaat untuk kebaikan dan kemajuan bersama.

2.      Dua pendapat ahli tentang prinsip- prinsip manajemen pendidikan islam yaitu :
Prinsip Manajemen Pendidikan Islam adalah asas kebenaran islami yang menjadi pokok dasar dalam berfikir untuk sebuah proses perencanaan, peng-organisasian, memimpin, mengendalikan tenaga pendidikan, sumber daya pendidikan guna mencapai tujuan pendidikan yang islami untuk mencapai tujuan pendidikan.
  Ramayulis (2008 : 262)
“ Prinsip manajemen pendidikan islam ada delapan prinsip diantaranya : ikhlas, jujur, amanah, adil, tanggung jawab, dinamis, praktis, dan fleksibel”.
  Langgulung (2000 : 248)
“ Prinsip manajemen pendidikan islam ada tujuh macam, diantaranya : iman dan akhlak, keadilan dan persamaan, musyawarah, pembagian kerja dan tugas, berpegang pada fungsi manajemen, pergaulan dan keikhlasan”.

Adapun Persamaan dan Perbedaan prinsip- prinsip manajemen pendidikan islam menurut keduanya yaitu :
No.
Nama Ahli
Persamaan
Perbedaan
1.
Ramayulis (2008 : 262)

Adapun persamaan diantara prinsip- prinsip yang dikemukakan oleh keduanya yaitu sama- sama menggunakan prinsip islami yang sesuai dan mengacu pada Al- Qur’an dan Al- Hadits serta sesuai dengan prinsip manajer seorang pendidik muslim.
Menurutnya prinsip dalam manajemen pendidikan islam ada delapan prinsip yang sudah penulis utarakan diatas. Selain itu, prinsip- prinsip yang dikemukakan olehnya, lebih condong kearah sifat yang harus dimiliki seorang manajer muslim dalam me- manage lembaga pendidikan islam.
2.
Langgulung (2000 : 248)

Sedangkan menurut beliau, bahwa prinsip manajemen pendidikan islam itu hanya ada tujuh prinsip, seperti yang sudah penulis utarakan juga diatas. Adapun menurut penulis, prinsip- prinsip ini lebih condong kearah sikap/ perilaku terhadap orang lain yang harus dimiliki seorang manajer muslim dalam mengelola lembaga pendidikan islam.

  Menurut Pendapat Saya :
Adapun menurut pendapat saya, setelah saya menulis tentang persamaan dan perbedaan prinsip- prinsip manajemen pendidikan islam, maka dapat disimpulkan bahwa keduanya sebenarnya sama- sama memiliki prinsip- prinsip manajemen pendidikan yang islami. Terbukti diantara banyak prinsip- prinsip yang sudah penulis utarakan diatas tersebut, cocok dan mengacu pada sumbernya yaitu Al- Qur’an dan Al- Hadits yang menjadi patokan umat muslim dalam menjalani aturan tata nilai kehidupan didunia ini.
Yang perlu dicermati sedikit mungkin dari perbedaan nya, sebenarnya dalam hal perbedaan ini tidak terlihat begitu mencolok. Tapi menurut penulis, bahwa prinsip- prinsip manajemen pendidikan islam yang dikemukakan Ramayulis (2008 : 262) lebih condong ke arah sifat- sifat yang harus dimiliki oleh seorang manajer muslim dalam memimpin atau menjalankan sebuah lembaga pendidikan islam.
Sedangkan prinsip- prinsip manajemen pendidikan islam yang dikemukakan Langgulung (2000 : 248) lebih condong dan mengarah pada sikap/ perilaku terhadap orang lain yang harus dimiliki seorang manajer muslim dalam mengelola lembaga pendidikan islam.
Itulah beberapa prinsip- prinsip yang akan sangat ideal jika dimiliki dan dipegang oleh setiap manajer muslim. Tentu saja prinsip- prinsip ini bukanlah prinsip- prinsip baku, artinya masih banyak prinsip- prinsip lain yang dapat dikembangkan menurut pedoman Al- Qur’an dan Al- Hadits. Namun dalam hal ini, beberapa prinsip yang telah penulis utarakan sebelumnya dirasa cukup mendasar dan sangat penting jika dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari- hari terutama sebagai ujung tombak dalam membangun kualitas lembaga pendidikan yang unggul dan bermutu.
Me- manage sebuah lembaga pendidikan tentunya tidak terlepas dari tantangan dan godaan. Oleh karena itu dibutuhkan prinsip- prinsip manajemen yang kokoh sesuai dengan keyakinan dan ideologi yang dianut. Dalam hal ini Islam sebagai agama Rahmatalil ‘alamiin memberikan rambu- rambu yang kokoh berkaitan dengan manajemen pendidikan islam. Jika prinsip- prinsip ini diterapkan dalam lembaga pendidikan seperti sekolahan, tentu akan menjadi suatu keniscayaan bahwa jika kemudian pendidikan kita akan menunjukkan kemajuan yang sangat pesat.
Semua itu juga tergantung pada doa dan usaha kita. Jika kita bersungguh- sungguh dalam melakukan sesuatu tersebut, maka akan mungkin kita memetik hasil yang memuaskan pula. Dan sebaliknya jika kita malas dalam melakukan sesuatu, niscaya kita akan mendapatkan kerugian bahwa apa yang kita usahakan sebelumnya itu akan sia- sia. Selalu berdoa, berusaha dan yang terkahir itu tawakkal kepada Allah Swt atas semua yang sudah kita usahakan.


Multiple Intelegensi

A. Pengertian Multiple Intelegensi
Kecerdasan (intelegensi) adalah bahasa yang dibicarakan oleh semua orang dan sebagian dipengaruhi oleh kebudayaan di mana ia dilahirkan.
Kecerdasan sebagai suatu kemampuan untuk memahami informasi yang membentuk pengetahuan dan kesadaran. Kecerdasan sebagai kemampuan untuk memproses informasi sehingga masalah-masalah yang kita hadapi dapat dipecahkan (problemsolved) dan dengan demikian pengetahuan pun bertambah. Jadi mudah dipahami bahwa kecerdasan adalah pemandu bagi kita untuk mencapai sasaran-sasaran kita secara efektif dan efisien. Dengan kata lain, orang yang lebih cerdas, akan mampu memilih strategi pencapaian sasaran yang lebih baik dari orang yang kurang cerdas. Artinya orang yang cerdas mestinya lebih sukses dari orang yang kurang cerdas.
Kemampuan kognitif, psikomotor, dan afektif yang dimiliki seseorang disebut dengan kecerdasan.
Howard Gardner mendefinisikan kecerdasan sebagai :
1.  Kemampuan memecahkan masalah yang terjadi dalam kehidupan manusia.
2.  Kemampuan menciptakan persoalan baru untuk diselesaikan.
3.   Kemampuan menyiapkan atau menawarkan suatu layanan yang bermakna dalam kehidupan kultur tertentu.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki seseorang. Kemampuan-kemampuan yang dimiliki seseorang tidak akan semuanya sama dengan kemampuan-kemampuan yang dimiliki orang lain, karena kemampuan banyak jenisnya (beranekaragam), dan keanekaragaman dari kemampuan-kemampuan itu disebut dengan kecerdasan majemuk (multiple intelegensi).






B. Macam-Macam dan Ciri ciri Multiple Intelegensi.
Menurut Gardner kecerdasan atau intelegensi ada 8 macam yaitu:

1.     Kecerdasan Linguistic ( Linguistik intelligence )

Kecerdasan Linguistik adalah kemampuan untuk berfikir dalam bentuk kata-kata dan menggunakan bahasa untuk mengekpresikan dan menghargai makna yang komplek, yang meliputi kemampuan membaca, mendengar, menulis, dan berbicara.
Adapun ciri ciri seseorang yang memiliki kecerdasan linguistik, yaitu:
a.     Menirukan suara, bahasa, membaca, menulis dari orang lainnya.
c.     Memperlihatkan kemampuan unruk mempelajari bahasa lainnya.
d.    Belajar melaui menyimak, membaca, menulis dan diskusi.

2.       Intelegensi Logis-Matematis ( Logical Matematich)

Inteligensi Logis Matematis adalah kemampuan dalam menghitung, mengukur, dan mempertimbangkan proposisi dan hipotesis serta menyelesaikan operasi operasi matematis.
Adapun ciri ciri seseorang yang memiliki kecerdasan logis matematis, yaitu:
a.       Menunjukkan ketrampilan memecahkan masalah secara logis.
b.      Menyukai operasi yang kompleks, seperti kalkulus, fisika, dan pemprograman komputer.
c.       Mengungkapkan ketertarikan dalam karir karir seperti akuntansi, teknologi komputer dan ilmu kimia.
d.      Mengguanakan teknologi untuk memecahkan masalah matematis.

3.      Intelegensi Musikal ( Musical Intelegence )

Intelegensi musikal adalah kecerdasan seseorang yang berhubungan dengan sensitivitas pada pola titik nada, melodi, ritme, dan nada. Musik adalah bahasa pendengaran yang menggunakan tiga komponen dasar yaitu intonasi suara, irama dan warna nada yang memakai system symbol yang unik.
Adapun ciri ciri seseorang yang memiliki kecerdasan musikal yaitu :
a.    Mendengarkan dan merespon dengan ketertarikan terhadap berbagai bunyi.
b.    Mengembangkan kemampuan menyanyi dan atau memainkan instrumen secara sendiri atau bersama dengan orang lain.
c.    Menungkapkan ketertarikan untuk berkarir di bidang musik
d.   Menikmati dan mencari kesempatan untuk mendengarkan musik atau suara suara alam pada suasana belajar.

4.       Intelegensi Kinestetik.

Inteligensi Kinestetik adalah belajar melalui tindakan dan pengalaman melalui panca indera. Intelegensi kinestetik adalah kemampuan untuk menyatukan tubuh atau pikiran untuk menyempurnakan pementasan fisik. Dalam kehidupan sehari-hari dapat diamati pada actor,atlet atau penari, penemu, tukang emas, mekanik.
Adapun ciri ciri seseorang yang memiliki inteligensi kinestetik yaitu :
a.     Menjelajahi lingkungan dan sasaran melalui sentuhan dan gerakan
b.    Menemukan pendekatan baru dalam kemampuan fisik atau menciptakan bentuk bentuk baru dalam menari, berolahraga atau kegiatan fisik lainnya.
c.     Mendemonstrasikan keahlian dalam berakting, atletik, menari, menjahit, mengukir ukiran atau memainkan musik sejenis piano.

5.       Intelegensi Visual-Spasial

Intelegensi visual-spasial merupakan kemampuan memahami, memproses, dan berfikir dalam memvisualisasikan gambar didalam kepala seseorang dalam bentuk dua atau tiga dimensi.
Adapun ciri ciri seseorang yang memiliki kecerdasan visual spasial yaitu :
a.       Menggunakan gambaran visual sebagai sebuah alat bantu dalam mengingat informasi
b.      Memiliki daya imajinasi yang tinggi
c.       Memiliki kelebihan dalam menyesuaikan sesuatu menjadi serasi
d.      Menikmati gambar gambar tak beraturan lukisan, ukiran, atau objek objek lain dalam bentuk yang dapat dilihat.

6.      Intelegensi Interpersonal

Intelegensi Interpersonal adalah kemampuan untuk memahami dan berkomunikasi dengan orang lain secara efektif.Howard Gardner menjelaskan inteligensi interpersonal adalah kemampuan untuk mengerti dan pekaterhadap perasaan, watak, intensi,motivasi dan temperamen orang lain. Termasuk juga kepekaan terhadap ekspresi wajah, suara dan isyarat dari orang lain.
            Adapun ciri ciri orang yang memiliki kecerdasan interpersonal yaitu :
a.       Membentuk dan menjaga hubungan sosial/ pandai berkomunikasi
b.      Mengetahui dan menggunakan cara cara yang beragam dalam berhubungan dengan orang lain.
c.       Merasakan perasaan, pikiran, motivasi, tingkah laku dan gaya hidup orang lain
d.      Tertarik pada karir yang berorientasi interpersonal seperti  mengajar, pekerjaan sosial, konseling, manajemen atau politik.

7.        Intelegensi Intrapersonal

Inteligensi Intrapersonal adalah kemampuan seseorang untuk mengerti diri sendiri, apa yang terbaik yang harus dilakukan, apa yang harus dihindari, serta apa saja yang dapat meningkatkan kemampuan diri.  Jenis kecerdasan  ini terdiri dari kemampuan untuk mengenali emosi diri/ mengenali perasaan sendiri sewaktu perasaan atau emosi sedang naik, kemampuan mengelola emosi/ mengendalikan perasaan sehingga tidak meledak ledak dan akhirnya dapat mempengaruhi perilaku yang salah, kemampuan memotivasi diri/ kemampuan untuk memberi semangat pada diri sendiri agar dapat melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat.
Gambaran tentang inteligensi intrapersonal ini adalah seberapa baik seseorang mengerti diri sendiri.
Adapun ciri ciri seseorang yang memiliki keserdasan intrapersonal yaitu :
a.    Sadar akan wilayah emosinya
b.    Bekerja mandiri
c.    Berusaha mengaktualisasikan diri
d.   Penasaran akan “pertanyaan besar” tentang makna kehidupan.

8.      Intelegensi Naturalis.

Intelegensi Naturalis adalah kemampuan untuk mengenal flora dan fauna dengan baik, memahami dan menikmati alam, dan menggunakan kemampuan itu secara produktif dalam berburu, ahli biologi, peneliti alam, bertani, serta mengembangkan pengetahuan akan alam.
Adapun ciri ciri seseorang yang memiliki inteligensi naturalis yaitu :
a.    Tertarik dalam mengamati perilaku alam
b.    Mampu hidup di luar rumah, dapat berkawan dan berhubungan baik dengan alam
c.    Mencintai lingkungan

C.  Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Inteligensi.

Intelegensi tiap individu cenderung berbeda-beda. Hal ini dikarenakan beberapa faktor yang mempengaruhinya. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi intelegensi antara lain sebagai berikut:

a.       Gen atau keturunan

Seseorang yang memiliki orang tua yang keduanya atau salah satunya cerdas dan berinteligensi tinggi maka tidak menutup kemungkinan orang itu berinteligensi tinggi pula. Namun jika kedua orangtua tidak berinteligensi tinggi, mungkin juga ada gen resesif atau tersembunyi yang tiba tiba muncul, yang kemudian menjadikan anak memiliki inteligensi yang lebih dibanding kedua orangtuanya.




b.      Pengalaman

Ada benarnya tentang sebuah pepatah yang menyatakan bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Dengan berdasarkan pada pengalaman yang dimiliki, tingkat inteligensi akan berbanding lurus dengan pengalaman. Bisa jadi, dengan semakin beragamnya pengalaman yang dimiliki maka inteligensi akan meningkat. Sebaliknya jika memiliki pengalaman yang kurang, inteligensi akan mengalami sedikit rangsangan sehingga berdampak pada tingkat inteligensi itu sendiri. Inteligensi akan cenderung statis dan kurang meningkat.

c.       Latihan

Semakin sering seseorang melatih diri dan kemampuannya maka inteligensinyapun semakin tinggi. Jika seseorang tidak membiasakan diri untuk berlatih, tidak menutup kemungkinan kemampuan dan inteligensi yang dimiliki sebelumnya akan tetap, berkurang atau bahkan berlahan memudar.

d.      Lingkungan

Lingkungan merupakan faktor ekstern yang dapat berpengaruh pada inteligensi seseorang. Apabila lingkungan yang ditinggali seseorang mendukung dan menyediakan rangsangan untuk mengembangkan inteligensi yang dimiliki maka inteligensinya pun akan semakin meningkat. Demikian juga sebaliknya apabila lingkungan tidak mendukung seseorang untuk meningkatkan inteligensinya, tetu saja inteligensi yang dimiliki orang tersebut tidak akan berkembang.
Untuk itulah, hal yang sangat penting bagi kita untuk senantiasa memberikan rangsangan bagi diri kita, bagi anak anak, dan peserta didik demi mengembangkan inteligensi. Hal ini bisa dibangun dengan mencoban memberikan dan melakukan kebiasaan kebiasaan yang dapat menggugah inteligensi. Dengan demikian lingkungan akan benar benar dapat mendukung peningkatan inteligensi setiap individu.

e.       Reward and Punishment

Seperti halnya dalam teori belajar yang menyebutkan bahwa reward and punishment dapat mempengaruhi semangat dann minat belajar seseorang, dalam intelegensi pun berlaku demikian. Adanya reward and punishment dapat menggugah sesorang untuk mengembangkan intelegensi yang dimiliki sebelumnya. Ketika sesorang mendapatkan reward dan intelegensi yang dimilikinya, kecenderungan untuk meningkatkan intelegensinya akan muncul. Hal ini tentu saja disebabkan keinginan orang ini untuk mendapatkan reward lagi, atau paling tidak ia tergugah untuk menunjukkan prestasi yang lebih baik lagi.
Demikian juga jika ada punishment sebagai konsekuensi intelegensi yang ada, kencenderungan unruk memperbaiki serta meningkatkan intelegensi pun akan tumbuh.  Karena, seseorang tentunya tidak ingin mendapat punishment yang kedua kalinya sehingga ia akan terdorong untuk berupaya meningkatkan intelegensinya sendiri.

f.       Pola makan dan asupan gizi

Tak dapat dipungkiri, makanan yang masuk kedalam tubuh juga berpengaruh terhadap konsidi organ tubuh, tak terkecuali organ yang berkaitan erat dengan pembentukan serta pengembangan intelegensi. Dengan demikian secara otomatis, makanan dan supan gizi ikut mempengaruhi intelegnsi. Jika makanan yang dikonsumsi berupa makanan yang nilai gizinya cukup dan seimabnag intelegnsi pun dapat berkembang. Sebaliknya, jika asupan makanan tidak mendukung untuk peningkatan intelegensi tentu saja intelegensi akan sulit berkembang pesat.

D.  Pengaruh Intelegensi Terhadap Keberhasilan Peserta Didik

Intelegensi seseorang diyakini sangat berpengaruh pada keberhasilan belajar yang dicapainya. Berdasarkan hasil penelitian, prestasi belajar biasanya berkolerasi searah dengan tingkat intelegensi. Artinya, semakin tinggi tingkat intelegensi seseorang, maka semakin tinggi prestasi belajar yang dicapainya. Bahkan menurut sebagian besar ahli, intelegensi merupakan modal utama dalam belajar dan mencapai hasil yang optimal. Anak yang memiliki skor IQ dibawah 70 tidak mungkin dapat belajar dan mencapai hasil belajar seperti anak-anak dengan skor IQ normal, apalagi dengan anak-anak jenius.
Kenyataan menunjukkan bahwa setiap anak memiliki tingkat intelegensi yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut tampak memberikan warna di dalam kelas. Selama menerima pelajaran yang diberikan guru, disampaikan oleh guru dan ada pula anak yang  lamban. Perbedaan individu dalam intelegensi ini perlu diketahui dan dipahami oleh guru, terutama dalam hubungannya dengan pengelompokkan siswa. Selain itu, guru harus menyesuaikan tujuan pembelajarannya dengan kapasitas intelegensi siswa. Perbedaan intelegensi yang dimiliki oleh siswa bukan berarti membuat guru harus memandang rendah pada siswa yang kurang, tetapi guru harus mengupayakan agar pembelajaran yang diberikan dapat membantu semua siswa, tentu saja dengan perlakuan metode yang beragam.
Selain itu, perbedaan tersebut juga tampak dari hasil belajar yang dicapai. Tinggi rendahnya hasil belajar yang dicapai oleh siswa bergantung pada tinggi rendahnya intelegensi yang dimiliki. Meski demikian, intelegensi bukan merupakan satu-satunya faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar seseorang. Seperti telah dikemukakan bahwa banyak sekali faktor yang dapat mempengaruhinya. Yang terpenting dalam hal ini adalah guru harus bijaksana dalam menyingkapi perbedaan tersebut.

E.  Program Pembelajaran yang Mengakomodasi Perkembangan Multiple Inteligensi

Untuk menerapkan teori multipel intelegensi dalam program pembelajaran diperlukan usaha yang serius dari guru. Guru harus membiasakan diri mengembangkan program pelajaran yang berorientasi pada siswa bukan pada materi atau dirinya sendiri. Tujuannya adalah untuk memudahkan guru dalam menentukan strategi pembelajaran yang tepat yang dapat mengembangkan intelegensi siswa secara maksimal. Mengingat multipel intelegensi belum memasyarakat, maka hal ini akan menjadi penghambat bagi guru untuk memasukkannya pada saat menyusun program pembelajaran.
Program pembelajaran pengertiannya lebih luas dari kegiatan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran terbatas pada aktivitas guru dan siswa di kelas saja, sedangkan pengertian program pembelajaran adalah menyeluruh mulai dari rencana pembelajaran, kegiatan pembelajaran sampai dengan produk hasil dari pengembangan program pembelajaran. Program pembelajaran berbentuk produk ini dapat berupa kegiatan pembelajaran langsung atau tatap muka, tetapi dapat juga berbentuk program video, audio, dan sebagainya.
Gardner menjelaskan bahwa setiap intelegensi bekerja dalam sistem otak yang relatif otonom. Artinya setiap intelegensi mengelola informasi secara parsial, namun pada saat mengeluarkannya memproduksi kembali kedelapan intelegensi yang ada, intelegensi tersebut bekerja sama secara unik untuk menghasilkan informasi yang dibutuhkan. Di sekolah, guru adalah orang yang berkepentingan dalam mengembangkan program-program pembelajaran dikelasnya. Dalam mengembangkannya guru dimungkinkan untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang inovatif dan kreatif dalam dunia pendidikan, salah satunya adalah dengan menggunakan strategi pembelajaran berbasis multipel intelegensi.
Menurut Amstrong dalam Robinson (2004), strategi pembelajaran berbasis multiple intelegensi ini merupakan suatu upaya mengoptimalkan berbagai intelegensi yang dimiliki setiap siswa untuk mencapai kompetensi tertentu yang dituntut dalam kurikulum. Pada prakteknya strategi pembelajaran berbasis multipel intelegensi ini memacu kecerdasan yang menonjol pada diri siswa seoptimal mungkin, dan berupaya mempertahankan intelegensi lainnya pada standar minimal yang dituntut sekolah. Dengan kata lain, penerapan strategi multipel intelegensi dalam pengembangan program-program pembelajaran menguntungkan bagi siswa. Siswa akan berkembang sesuai dengan jati dirinya yang potensial pada salah satu atau lebih intelegensi yang dimilikinya.
Adapun langkah-langkah yang dapat digunakan dalam menerapkan strategi pembelajaran berbasis multiple inteligensi antara lain:
1.    Memberdayakan semua intelegensi yang dimiliki setiap siswa

Memberdayakan semua intelegensi pada setiap mata pelajaran adalah ibarat meng-input melalui jalur ke dalam otak memori siswa. Contoh perhatikan TIK berikut: siswa dapat mempelajari proses fotosintesis melalui tujuh cara/intelegensi. Intelegensi yang mencakup TIK tersebut adalah intelegensi bahasa, logis-matematis, musik, kinestik, interpersonal dan intrapersonal. Dengan demikian, tingkat belajar siswa akan lebih tinggi dibanding jika siswa hanya membaca buku atau mendengar penjelasan dari guru saja.

2.    Mengoptimalkan pecapaian mata pelajaran tertentu berdasarkan intelegensi yang menonjol pada setiap siswa

Langkah ini dapat diterapkan jika guru telah mengidentifikasi inteelegensi apa yang menonjol pada siswa-siswanya. Dengan demikian strategi pembelajaran yang dipilih lebih bersifat individual atau personal. Untuk siswa yang lebih menonjol intelegensi bahasanya, maka guru harus merancang program pembelajaran yang merangsang dan mengembangkan intelegensi siswa dalam kemampuan berbahas, dan seterusnya.
Pada kenyataannya, pengembangan program-program pembelajaran yang merupakan teori multipel intelegensi tidaklah mudah, terutama mencakup evaluasinya. Evaluasinya harus multi asesmen artinya penilaian harus bervariasi dan dapat memberikan banyak motivasi dan merupakan penilaian yang menarik. Untuk mewujudkan evaluasi yang multipel asesmen tidaklah mudah. Dalam pembelajaran berbasis multipel intelegensi penilaian membatasi atau bahkan mengurangi penggunaan skor tes sebagai penilaian tunggal. Penggunaan pola-pola penilaian alternatif sehingga semua unsur mendapat perhatian yang optimal, baik tentang hasil belajar siswa maupun tentang pengembangan intelegensi siswa.
Hambatan yang mungkin dialami guru pada saat pengembangan program pembelajaran yang menerapkan teori multipel intelegensi, antara lain adalah sebagai berikut:
1.    Guru belum mempunyai wawasan yang cukup tentang multipel intelegensi.
2.    Guru butuh dukungan dari pimpinan sekolah atau pengelola sekolah untuk mengembangkan program-program pembelajaran yang berbasis multiple intelegensi karena untuk persiapan pengembangan program pembelajaran memerlukan waktu lama serta bimbingan narasumber.
3.    Dukungan dari sekolah yang belum maksimal, dalam penyediaan sarana belajar seperti alat peraga atau media pembelajaran dan ruang belajar yang kondusif dan lain-lain tergantung kegiatan-kegiatan apa yang akan dilaksanakan serta sumber materi apa yang akan digunakan..